jika membaca adalah memburu, maka menulis adalah mengikat buruan tersebut (Imam Al-Ghazali)

Rabu, 07 Februari 2018

Kecantikan adalah Segalanya

Oleh: Qodri Syahnaidi.

Malam itu, seperti biasanya, Rahel sedang menikmati suasana redup warung kopi sambil sesekali mengepulkan asap rokok ke udara. Rokok kretek di tangan kiri, buku Das Kapital jilid satu di tangan kanan, serta secangkir kopi hitam di atas meja. Selembar dua lembar buku telah dibaca, setengah rokok kretek telah menjadi abu, seperempat kopi hitam telah terseruput. Sekitar sepuluh menit dia berada di sana, tetapi pikirannya ternyata melepaskan diri dari kepala, melanglang buana entah kemana.

Rahel malam itu tidak begitu menikmati suasana ngopi seperti malam-malam biasanya. Maklum, sudah dua bulan dia tidak memenuhi kebutuhan biologisnya. Sehingga hasratnya sudah sampai pada titik klimaks. Dua bulan yang lalu dia putus dengan cewek asal Samarinda. Noni namanya. Jika dihitung semua mantannya termasuk Noni, jumlahnya mencapai 18 orang. Mungkin itulah alasan dia diberi gelar playboy cap kuda oleh teman-temannya. Entah karena perawakannya yang atletis seperti perawakan kuda, atau karena nafsunya yang mengebu-gebu seperti nafsu kuda.

Mudah saja bagi Rahel untuk menggaet cewek baru. Bermodal tampang yang manis, rambut yang klimis, dan penampilan yang necis, ditopang juga dengan status aktivis mahasiswa  yang kaya akan wacana kiri, keislaman dan kebangsaan, menjadikan setiap cewek yang didekati oleh Rahel bertekuk lutut. Dengan anugerah yang fantastis tersebut, Rahel selalu saja gonta-ganti pasangan.

Setelah putus dengan Noni sekitar dua bulan yang lalu, Rahel kembali tebar pesona, mencari bunga-bunga yang baru mekar untuk dimangsa. Tiga hari telah berlalu, tetapi dia belum menemukan cewek yang cocok sesuai dengan seleranya. Pada hari keempat, ketika dia pulang dari kampus menuju kos-kosannya yang pengap. Di pertigaan jalan, dia bertemu dengan seorang gadis mungil yang memiliki wajah sendu. Tiba-tida hati Rahel berdesir kencang ketika matanya menatap wajah yang tak terdapat satupun noktah debu. Desiran hati yang dialaminya saat itu berbeda ketika dia menatap wajah-wajah wanita lain, termasuk para mantannya. Sepertinya Rahel telah jatuh cinta pada pandangan pertama.

Rahel lalu mencari informasi tentang gadis tersebut. Setelah tanya sana sini, akhirnya diketahuilah bahwa cewek tersebut bernama Siti. Ternyata Rahel dan Siti kuliah di kampus yang sama, hanya saja beda fakultas. Lalu mulailah Rahel melancarkan aksinya mendekati Siti. Berbeda dengan cewek-cewek yang pernah didekati Rahel sebelumnya,  Siti sangat sulit untuk Rahel taklukan. Namun, bukan Rahel namanya jika tidak bisa menaklukan wanita yang ada di muka bumi. Bahkan bidadari di kayangan pun jika didekati oleh Rahel, pasti akan klepek-kelepek.

Setelah Rahel mengerahkan segenap kemampuannya untuk mendekati Siti, akhirnya Siti pun luluh juga, kemudian mereka berdua berpacaran. Mereka menjalani kehidupan mahasiswa  dengan penuh kasih sayang diantara mereka. Tak terasa, mereka pun akhirnya wisuda bersama. Lalu keduanya berencana untuk menikah. Tanggal dan tempat pernikahan pun diatur secara bersama-sama antara kedua belah keluarga.

Dua mingggu sebelum hari pernikahan, peristiwa buruk menimpa Siti. Ketika sedang menggoreng ayam di dapur, Siti tidak sengaja menyenggol wajan yang berisi minyak panas sehingga minyak panas tersebut hinggap di wajah Siti. Wajah yang dikatakan Rahel sebagai wajah suci tanpa noda tersebut hancur seketika. Siti mengalami luka bakar berat di bagian wajah, dada dan tangan.

Rahel yang mendengar berita tersebut seakan terkena petir di siang bolong. Dua minggu menjelang hari pernikahan, wanita idaman Rahel tersebut berubah menjadi buruk rupa. Rahel  pun mengalami pergolakan batin yang dahsyat antara melanjutkan pernikahan atau  membatalkannya.


Hal mengejutkan pun terjadi. Ketika semua orang menduga bahwa cinta Rahel adalah cinta sejati yang tidak bergantung pada kecantikan semata. Lalu semua orang mengira bahwa Rahel akan meneruskan pernikahan, tetapi Rahel malah memutuskan untuk tidak melanjutkan pernikahan tersebut. Rahel tidak ingin menghabiskan sisa umurnya dengan wanita yang telah sirna kecantikan badaniahnya. Bagi Rahel, kecantikan adalah segalanya. 

KN Cafe, Yogyakarta. 7 Februari 2018. 23.30.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IKMAA YOGYAKARTA