Oleh: Qodri Syahnaidi.
Malam itu, seperti biasanya, Rahel sedang menikmati suasana redup warung kopi sambil sesekali mengepulkan asap rokok ke udara. Rokok kretek di tangan kiri, buku Das Kapital jilid satu di tangan kanan, serta secangkir kopi hitam di atas meja. Selembar dua lembar buku telah dibaca, setengah rokok kretek telah menjadi abu, seperempat kopi hitam telah terseruput. Sekitar sepuluh menit dia berada di sana, tetapi pikirannya ternyata melepaskan diri dari kepala, melanglang buana entah kemana.
Malam itu, seperti biasanya, Rahel sedang menikmati suasana redup warung kopi sambil sesekali mengepulkan asap rokok ke udara. Rokok kretek di tangan kiri, buku Das Kapital jilid satu di tangan kanan, serta secangkir kopi hitam di atas meja. Selembar dua lembar buku telah dibaca, setengah rokok kretek telah menjadi abu, seperempat kopi hitam telah terseruput. Sekitar sepuluh menit dia berada di sana, tetapi pikirannya ternyata melepaskan diri dari kepala, melanglang buana entah kemana.
Rahel malam itu tidak begitu menikmati suasana ngopi seperti
malam-malam biasanya. Maklum, sudah dua bulan dia tidak memenuhi kebutuhan
biologisnya. Sehingga hasratnya sudah sampai pada titik klimaks. Dua bulan yang
lalu dia putus dengan cewek asal Samarinda. Noni namanya. Jika dihitung semua
mantannya termasuk Noni, jumlahnya mencapai 18 orang. Mungkin itulah alasan dia
diberi gelar playboy cap kuda oleh teman-temannya. Entah karena perawakannya
yang atletis seperti perawakan kuda, atau karena nafsunya yang mengebu-gebu seperti
nafsu kuda.
Mudah saja bagi Rahel untuk menggaet cewek baru. Bermodal tampang
yang manis, rambut yang klimis, dan penampilan yang necis, ditopang juga dengan
status aktivis mahasiswa yang kaya akan wacana
kiri, keislaman dan kebangsaan, menjadikan setiap cewek yang didekati oleh
Rahel bertekuk lutut. Dengan anugerah yang fantastis tersebut, Rahel selalu
saja gonta-ganti pasangan.
Setelah putus dengan Noni sekitar dua bulan yang lalu, Rahel
kembali tebar pesona, mencari bunga-bunga yang baru mekar untuk dimangsa. Tiga
hari telah berlalu, tetapi dia belum menemukan cewek yang cocok sesuai dengan
seleranya. Pada hari keempat, ketika dia pulang dari kampus menuju kos-kosannya
yang pengap. Di pertigaan jalan, dia bertemu dengan seorang gadis mungil yang
memiliki wajah sendu. Tiba-tida hati Rahel berdesir kencang ketika matanya
menatap wajah yang tak terdapat satupun noktah debu. Desiran hati yang
dialaminya saat itu berbeda ketika dia menatap wajah-wajah wanita lain,
termasuk para mantannya. Sepertinya Rahel telah jatuh cinta pada pandangan
pertama.
Rahel lalu mencari informasi tentang gadis tersebut. Setelah tanya
sana sini, akhirnya diketahuilah bahwa cewek tersebut bernama Siti. Ternyata
Rahel dan Siti kuliah di kampus yang sama, hanya saja beda fakultas. Lalu
mulailah Rahel melancarkan aksinya mendekati Siti. Berbeda dengan cewek-cewek
yang pernah didekati Rahel sebelumnya, Siti
sangat sulit untuk Rahel taklukan. Namun, bukan Rahel namanya jika tidak bisa
menaklukan wanita yang ada di muka bumi. Bahkan bidadari di kayangan pun jika
didekati oleh Rahel, pasti akan klepek-kelepek.
Setelah Rahel mengerahkan segenap kemampuannya untuk mendekati
Siti, akhirnya Siti pun luluh juga, kemudian mereka berdua berpacaran. Mereka menjalani
kehidupan mahasiswa dengan penuh kasih sayang diantara mereka. Tak terasa,
mereka pun akhirnya wisuda bersama. Lalu keduanya berencana untuk menikah.
Tanggal dan tempat pernikahan pun diatur secara bersama-sama antara kedua belah
keluarga.
Dua mingggu sebelum hari pernikahan, peristiwa buruk menimpa Siti.
Ketika sedang menggoreng ayam di dapur, Siti tidak sengaja menyenggol wajan
yang berisi minyak panas sehingga minyak panas tersebut hinggap di wajah Siti.
Wajah yang dikatakan Rahel sebagai wajah suci tanpa noda tersebut hancur
seketika. Siti mengalami luka bakar berat di bagian wajah, dada dan tangan.
Rahel yang mendengar berita tersebut seakan terkena petir di siang
bolong. Dua minggu menjelang hari pernikahan, wanita idaman Rahel tersebut
berubah menjadi buruk rupa. Rahel pun
mengalami pergolakan batin yang dahsyat antara melanjutkan pernikahan atau membatalkannya.
Hal mengejutkan pun terjadi. Ketika semua orang menduga bahwa cinta
Rahel adalah cinta sejati yang tidak bergantung pada kecantikan semata. Lalu
semua orang mengira bahwa Rahel akan meneruskan pernikahan, tetapi Rahel malah
memutuskan untuk tidak melanjutkan pernikahan tersebut. Rahel tidak
ingin menghabiskan sisa umurnya dengan wanita yang telah sirna kecantikan
badaniahnya. Bagi Rahel, kecantikan adalah segalanya.
KN Cafe, Yogyakarta. 7 Februari 2018. 23.30.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar