Cuaca yang tadinya cerah berawan, tiba-tiba berubah
menjadi tidak bersahabat. Angin bertiup begitu kencang, aku lihat daun nangka
yang udah tua berguguran karena diterpa angin, helm yang ku letakan diatas jok
motorpun ikut jadi sasaran dari tiupan angin. Setelah semua transaksi dilakukan,
aku memutuskan untuk mengajak leha langsung pulang saja. Dan itu artinya
kesempatan aku untuk bertanya lebih mendalam mengenai bisnis ini terlewatkan.
“dek, kito langsung balikbe yo,? hari nak
hujan kayaknyo”. Aku mengusulkan keleha.
“iyo lah bang, kami jugo nak
ngangkat jemuran”. Jawab leha.
Aku mengarahkan motor ke salah satu jalan setapak di
dekat konter, sengaja aku memilih jalan ini untuk menghindari dari kemacetan. Kebetulan
jalan ini sepi, aku bisa memacu kendaraan dengan kecepatan yang tinggi. Melewati
persawahan yang dihimpit oleh beberapa rumah penduduk, aku perhatikan daun padi
yang masih hijau bergelombang laksana ombak dilautan, karena terkena tiupan angina.
Dalam hati aku mengagumi keindahan dari panorama alam sore ini.
Perempatan kafe alive resto aku belok kiri menuju
timoho, disini jalanan sudah mulai macet. Klakson kendaraan yang saling
bersahutan membuat bising ditelinga, sungguh jogja telah berbeda dari dua tahun
lalu dimana aku datang kesini. Kota yang lekat dengan semboyan “berhati nyaman”
dan penuh kesederhanaan ini, secara perlahan sudah mulai merambak kearah
metropolitan. Kalau dua tahun lalu, volume kendaraan dan jumlah bangunan masih
rendah, sekarang jalanan sudah mulai dipenuhi oleh kendaraan dari berbagai
daerah, tanah kosong sudah mulai diisi dengan bangunan-bangunan baru. Seperti depan
kosku misalnya dahulu belum ada bangunan yang mewah, sekarang telah berdiri
hotel megah yang dilengkapi dengan taman diatasnya. Sampai dikosnya leha aku
pamitan pulang.
“dek, abang lansung balik yo,”
“dak minum dulu bang?”
“idak lah dek”
“lain waktu be”
“oh iyo lah bang, ht-dj yo bang”
ucap leha.
“hah apo tu dek,”? aku bertanya dengan heran.
“hati-hati di jalan” leha menjawab sambil tersenyum.
“oooohhhhh,………. Bhabhabha haha”
aku tertawa, dan aku
sendiripun sebenarnya tidak paham apa yang aku tertawakan. aku tidak peduli
dengan itu, setidaknya aku telah menyalurkan pesan tubuh kepada leha bahwa hari
ini aku sangat bahagia.
“oh yo bang, jangan lupo promosikan ke
teman-temannyo: untuk beli pulsa samo kito”. Leha berpesan.
“ok dek, siaaap laksanakan”.
Aku menjawab dengan
tegas, sambil mengangkat tangan laksana
seorang prajurit hormat pada atasannya.
Malam minggu ini, seperti biasanya organisasi kami
melaksanakan diskusi. Melawan arus kiranya adalah ungkapan yang tepat untuk
kami, disaat orang-orang merayakan malam mingguan bersama teman dekat atau sama
pacarnya. Kami malah sibuk memeras otak untuk berpikir agar argumen dan data
yang disampaikan dalam forum tidak keluar dari tema yang telah disepakati
secara bersama. aku menikmati proses ini dan bersyukur dengan adanya rutinitas
ini membuat aku dan teman-teman terhindar dari perbuatan yang mengarah kepada
perzinahan. Menurutku pacaran ialah muqoddimah dari zinah, menjalin hubungan
tanpa “status” adalah sebuah prilaku yang mendekatkan diri untuk berbuat zinah.
Dan pemahamanku ini mengacu pada ayat alquran yang melarang untuk melakukan tindakan
tersebut. Dalam firmannya Alllah SWT berpesan, “dan janganlah kamu mendekati
zina: sesungguhnya zina itu ialah perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk,”
(QS. Al-Israa:32).
Kalimat WASAA A SABILAN, disini bisa juga diartikan
berdampak buruk. Artinya ada konsep sebab musabab didalam prilaku ini, dengan
sebab berzinah seseorang bisa mendapat hukuman. Baik itu secara materi atau
secara psikologisnya, didunia maupun akhirat.
Diskusi malam ini berjalan dengan lancar, pemantik
menyampaikan materinya dengan semangat, dan para pesertanya juga merespon dengan
tidak kalah semangat pula. Banyak pengetahuan baru yang didapatkan dalam forum
ini, berbagai pertanyaan diajukan, bukan pertanyaan untuk menyudutkan atau
mematikan karakter pemateri sebagai mana yang sering terjadi pada
diskusi-diskusi lainnya. Melainkan sebuah pertanyaan untuk mencari pengetahuan
yang baru secara bersama-sama. Aku tidak terlalu aktif dalam diskusi kali ini,
aku memilih banyak mendengarkan saja. Entah kenapa semenjak awal pemateri
membuka diskusi, kefokusanku hampir 90% tertuju padanya. Ya karna yang menjadi
pemantik malam ini ialah julaiha. Seorang perempuan yang telah menyadarkan aku
bahwa: perhiasan dunia itu memang ada, dan itu tampak jelas dalam pribadinya. Seorang
perempuan yang telah banyak mempengaruhi gaya hidupku untuk selalu optimis dan terus
berusaha menggapai kesuksesan walau banyak beban kehidupan yang dilalui. Seorang
perempuan yang dengan kelembutan hati, halus tutur katakatanya, mampu mematikan
hasrat liar manusiawi dari diri yang lemah ini. Seorang perempuan yang dengan
melihat senyumannya menimbulkan getaran kebahagian dalam diriku. Ya julaihalah
pemantik yang menyampaikan materi dengan data yang cukup lengkap, yang dengan
karakter jurusan kuliahnya mampu menghidupkan suasana diskusi hingga akhir
pembahasan.
Semua orang bertepuk tangan setelah leha mengucapkan
salam pertanda forum telah ditutup, ini menunjukkan adanya kepuasan dari semua
anggota terhadap diskusi kali ini. Aku sendiri menikmati kebahagian yang luar
biasa ini dengan senyum-senyum sendiri, dan tidak seorangpun dalam forum yang
mengetahui apa yang membuat aku tersenyum tersebut.
Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar