jika membaca adalah memburu, maka menulis adalah mengikat buruan tersebut (Imam Al-Ghazali)

Selasa, 06 Februari 2018

semua karena leha (4)



Cuaca yang tadinya cerah berawan, tiba-tiba berubah menjadi tidak bersahabat. Angin bertiup begitu kencang, aku lihat daun nangka yang udah tua berguguran karena diterpa angin, helm yang ku letakan diatas jok motorpun ikut jadi sasaran dari tiupan angin. Setelah semua transaksi dilakukan, aku memutuskan untuk mengajak leha langsung pulang saja. Dan itu artinya kesempatan aku untuk bertanya lebih mendalam mengenai bisnis ini terlewatkan.

“dek, kito langsung balikbe yo,? hari nak hujan kayaknyo”. Aku mengusulkan keleha.

iyo lah bang, kami jugo nak ngangkat jemuran”. Jawab leha.

Aku mengarahkan motor ke salah satu jalan setapak di dekat konter, sengaja aku memilih jalan ini untuk menghindari dari kemacetan. Kebetulan jalan ini sepi, aku bisa memacu kendaraan dengan kecepatan yang tinggi. Melewati persawahan yang dihimpit oleh beberapa rumah penduduk, aku perhatikan daun padi yang masih hijau bergelombang laksana ombak dilautan, karena terkena tiupan angina. Dalam hati aku mengagumi keindahan dari panorama alam sore ini.

Perempatan kafe alive resto aku belok kiri menuju timoho, disini jalanan sudah mulai macet. Klakson kendaraan yang saling bersahutan membuat bising ditelinga, sungguh jogja telah berbeda dari dua tahun lalu dimana aku datang kesini. Kota yang lekat dengan semboyan “berhati nyaman” dan penuh kesederhanaan ini, secara perlahan sudah mulai merambak kearah metropolitan. Kalau dua tahun lalu, volume kendaraan dan jumlah bangunan masih rendah, sekarang jalanan sudah mulai dipenuhi oleh kendaraan dari berbagai daerah, tanah kosong sudah mulai diisi dengan bangunan-bangunan baru. Seperti depan kosku misalnya dahulu belum ada bangunan yang mewah, sekarang telah berdiri hotel megah yang dilengkapi dengan taman diatasnya. Sampai dikosnya leha aku pamitan pulang.

“dek, abang lansung balik yo,”

dak minum dulu bang?”

idak lah dek”

“lain waktu be

“oh iyo lah bang, ht-dj yo bang” ucap leha.

hah apo tu dek,”? aku bertanya dengan heran.

“hati-hati di jalan” leha menjawab sambil tersenyum.

“oooohhhhh,………. Bhabhabha haha” 

aku tertawa, dan aku sendiripun sebenarnya tidak paham apa yang aku tertawakan. aku tidak peduli dengan itu, setidaknya aku telah menyalurkan pesan tubuh kepada leha bahwa hari ini aku sangat bahagia.

“oh yo bang, jangan lupo promosikan ke teman-temannyo: untuk beli pulsa samo kito”. Leha berpesan.

“ok dek, siaaap laksanakan”. 

Aku menjawab dengan tegas, sambil  mengangkat tangan laksana seorang prajurit hormat pada atasannya.

Malam minggu ini, seperti biasanya organisasi kami melaksanakan diskusi. Melawan arus kiranya adalah ungkapan yang tepat untuk kami, disaat orang-orang merayakan malam mingguan bersama teman dekat atau sama pacarnya. Kami malah sibuk memeras otak untuk berpikir agar argumen dan data yang disampaikan dalam forum tidak keluar dari tema yang telah disepakati secara bersama. aku menikmati proses ini dan bersyukur dengan adanya rutinitas ini membuat aku dan teman-teman terhindar dari perbuatan yang mengarah kepada perzinahan. Menurutku pacaran ialah muqoddimah dari zinah, menjalin hubungan tanpa “status” adalah sebuah prilaku yang mendekatkan diri untuk berbuat zinah. Dan pemahamanku ini mengacu pada ayat alquran yang melarang untuk melakukan tindakan tersebut. Dalam firmannya Alllah SWT berpesan, “dan janganlah kamu mendekati zina: sesungguhnya zina itu ialah perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk,” (QS. Al-Israa:32).

 Kalimat WASAA A SABILAN, disini bisa juga diartikan berdampak buruk. Artinya ada konsep sebab musabab didalam prilaku ini, dengan sebab berzinah seseorang bisa mendapat hukuman. Baik itu secara materi atau secara psikologisnya, didunia maupun akhirat.

Diskusi malam ini berjalan dengan lancar, pemantik menyampaikan materinya dengan semangat, dan para pesertanya juga merespon dengan tidak kalah semangat pula. Banyak pengetahuan baru yang didapatkan dalam forum ini, berbagai pertanyaan diajukan, bukan pertanyaan untuk menyudutkan atau mematikan karakter pemateri sebagai mana yang sering terjadi pada diskusi-diskusi lainnya. Melainkan sebuah pertanyaan untuk mencari pengetahuan yang baru secara bersama-sama. Aku tidak terlalu aktif dalam diskusi kali ini, aku memilih banyak mendengarkan saja. Entah kenapa semenjak awal pemateri membuka diskusi, kefokusanku hampir 90% tertuju padanya. Ya karna yang menjadi pemantik malam ini ialah julaiha. Seorang perempuan yang telah menyadarkan aku bahwa: perhiasan dunia itu memang ada, dan itu tampak jelas dalam pribadinya. Seorang perempuan yang telah banyak mempengaruhi gaya hidupku untuk selalu optimis dan terus berusaha menggapai kesuksesan walau banyak beban kehidupan yang dilalui. Seorang perempuan yang dengan kelembutan hati, halus tutur katakatanya, mampu mematikan hasrat liar manusiawi dari diri yang lemah ini. Seorang perempuan yang dengan melihat senyumannya menimbulkan getaran kebahagian dalam diriku. Ya julaihalah pemantik yang menyampaikan materi dengan data yang cukup lengkap, yang dengan karakter jurusan kuliahnya mampu menghidupkan suasana diskusi hingga akhir pembahasan.

Semua orang bertepuk tangan setelah leha mengucapkan salam pertanda forum telah ditutup, ini menunjukkan adanya kepuasan dari semua anggota terhadap diskusi kali ini. Aku sendiri menikmati kebahagian yang luar biasa ini dengan senyum-senyum sendiri, dan tidak seorangpun dalam forum yang mengetahui apa yang membuat aku tersenyum tersebut.
                                                Bersambung



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IKMAA YOGYAKARTA