jika membaca adalah memburu, maka menulis adalah mengikat buruan tersebut (Imam Al-Ghazali)

Jumat, 02 Maret 2018

BERATNYA MENJADI SEORANG SANTRI




BERATNYA MENJADI SEORANG SANTRI
Oleh : Dedi utsman el-kuisy
Tokoh dan karakter:
1.      Zuhdi                          : anak desa yang lugu dan memiliki rasa ingin tahu yang kuat
2.      Ayah zuhdi                 : orang tua yang bijaksana dan pengertian
3.      Rifqi                            : anak pintar, suka ceramah dan berasal dari keturunan orang ‘alim
4.      Fikri                              : anak baik, pintar membaca kitab kuning
5.      Fajri                             : anak pemalas, dan suka tidur
6.      Ustadz Abdullah         : pendidik yang baik, sabar dan pemaaf
7.      Kyai                            : orang ‘alim, arif dan karismatik
Situasi dan perlengkapan
Adegan 1                    : seorang anak duduk berdua dengan ayahnya didepan rumah. Dalam suasana desa yang nyaman, pagi cerah yang ditemani dengan kicauan burung dan kokok ayam serta suara ternak lainnya. Dibutuhkan meja,kursi, secangkir kopi beserta makanan ringan lainnya. Diawali dengan intrumen music.
Adegan 2                    : pagi hari, dalam ruang kelas yang dipenuhi para calon santri baru dengan kesibukan menghapal materi ujiannya. Peralatan Al-quran, buku agama lainnya, nomor antrian, meja, kursi, papan tulis, dan map.               
Adegan 3                    : suasana asrama, dengan beberapa santri yang sibuk membaca kitabnya masing-masing. Ada yang baring, duduk dan ngobrol sambil berdiri. Diawali dengan intrumen music.
Adegan 4                    : suasana aula yang dipenuhi dengan santriwan-santriwati. Peralatan : meja atau mimbar dan Diiringi dengan intrumen music.
Adegan 5                    : suasana belajar mengajar dikelas. Peralatan: meja, bangku, papan tulis, kitab hadist (bulughul marom) dan pulpen.
Adegan 6                    : suasana asrama yang sepi.
Adegan 7                    : suasana belajar mengajar dikelas, peralatan meja, kursi, papan tulis, buku fikih (fathul qorib) dan pulpen.
Adegan 8                    : suasana asrama sepi malam hari dengan para santri tertidur ditemani oleh suara cicak dan jam dinding.dinding, peralatan sajadah. Dilengkapi dengan isntrumen music.
Adengan 1
Berangkat dari keinginan kuat seorang anak desa yang terpencil untuk mengangkat martabat keluarga dengan cara menuntut ilmu agama, setelah menamatkan pendidikan smp di kecamatannya. Zuhdi menyampaikan niatnya untuk memperdalam pengetahuan agama di pondok pesantren, gayungpun bersambut. Orangtuanya mengamini apa yang dicita-citakan oleh Zuhdi dan menawarkan untuk nyantri dipondok pesantren modern as’ad olak kemang kota jambi. Dimana para pendahulunya (kerabat keluarga) pernah menimba ilmu agama disini.
Zuhdi                          :“ayah, bagaimana menurutmu. Jika aku mempelajari ilmu agama dipesantren”?.
Ayah                           :“boleh anakku, tapi apakah kamu sudah bulat dengan keputusanmu. Menjadi seorang santri itu berat, ayah kawatir kamu tidak akan kuat dengan segala peraturan dan kegiatannya”.
Zuhdi                          :“Iya ayah, Aku sudah bertekad untuk mempelajari ilmu agama secara mendalam dipondok pesantren, dan Aku berjanji akan belajar bersungguh-sungguh dan menjalankan segala peraturan yang ada disana”.
Ayah                           :“baiklah, kalau begitu kamu mondok dipesantren as’ad saja ya dahulu ada juga keluarga kita yang belajar disana, besok inshaallah ayah akan bertamu kerumahnya untuk menyampaikan kabar baik ini, sekaligus memohon doa darinya agar nanti kamu dimudahkan dalam proses menimba ilmu”.
Zuhdi                          :“iya ayah, aku mengikuti saja apa yang ayah sarankan”.
Adengan 2
Setelah melakukan proses pendaftaran yang sangat rumit, Zuhdi pun mengikuti tes penerimaan santri baru. Diruang tes telah banyak calon santri yang duduk sambil mempersiapkan materi yang akan dites. Didepan kelas ada seorang ustadz penguji yang memiliki peran terhadap diterima atau tidaknya dia dipondok pesantren ini, beliau dengan seksama menyimak bacaan dari setiap calon santri. Saat menunggu antrian diruang kelas Zuhdi berkenalan dengan Rifqi seorang calon santri yang berasal dari propinsi riau. Rifqi begitu fasih melapalkan bacaan tahlil salah satu materi ujian lisan di pondok ini, dan dari Rifqi juga lah dia tahu nama ustadz penguji adalah ustadz Abdullah.
Zuhdi                          : “assalamualaikum bang, kenalkan nama aku Zuhdi, aku berasal dari propinsi Sumatra selatan”.
Rifqi                            : “waalaikumussalam bang, nama aku Rifqi, aku berasal dari propinsi riau, abng  dapat nomor antrian berapa?. Kalau aku dapat nomor 105, lumayan ada waktu untuk mengulang hapalan”.
Zuhdi                          : “aku nomor 35 bang. mohon doanya ya biar kita bisa diterima dipondok ini.
Rifqi                            ; “amin, semoga dikabulkan saja bang.
Ustadz Abdullah         :  “selanjutnya Zuhdi, silahkan maju kedepan”
Rifqi                            : “Semoga dilancarkan ya di”
Zuhdi                          : “amin”
Ustad Abdullah          : “zuhdi dari sumtra selatan”?
Zuhdi                          : “iya ustadz, tapi desa aku dekat dengan jambi”
Ustadz Abdullah         : “baik Zuhdi, tolong bacakan ayat kursi dulu ya”
Zuhdi                          : “membaca ayat kursi”
Ustadz Abdullah        : “zuhdi, bacaannya lumayan bagus, dahulu pernah mondok ya”?.
Zuhdi                          : “belum ustadz, hanya belajar dari orang tua saja”
Ustadz Abdullah        : “baik, sekarang coba kamu bacakan niat berwudhu”
Zuhdi                          : “membaca niat berwudhu”
Ustadz Abdullah        :“bagus zuhdi, sepertinya kamu sudah paham betul mengenai makhorijal hurup dan qoidah tajwid. Sekarang kamu boleh keluar dan Ustadz doakan semoga kamu lulus tes lainya”.
Zuhdi                          : ‘amin, terima kasih ustadz atas doanya. Assalamualaikum”
Ustadz Abdullah        : “waalaikumussalam”
Adengan 3
Setelah menyelesaikan tes tertulis dan tes lisan beserta beberapa tes lainnya, Zuhdi dinyatakan lulus dan diterima sebagai santri dengan predikat memuaskan, Dia menempati peringkat ke-15 dari 205 jumlah santri putra yang diterima. Seminggu kemudian zuhdi sudah resmi tinggal di asrama, dia bergabung dengan santri baru lainnya. Satu kamar dipondok ini ditempati oleh 20 orang, mereka semua diwajibkan untuk saling mengenal dan membantu dalam proses belajar mengajar. Selama seminggu mereka harus mengikuti opentren (arientasi pondok pesantren), pekan dimana para santri diperkenalkan dengan berbagai kegiatan dan proses belajar di pondok.
Rifqi                : “masyallah Zuhdi akhirnya doa kita diijabahkan, kemaren pulang ke sumatera ya”?
Zuhdi              : “Alhamdulillah, aku juga tidak menyangka kalau kita akan satu kamar. Wah aku dibantu nantinya ya kalau ada pelajaran yang tidak bisa aku mengerti. Maklum aku baru kali ini mondok, kamu kan dari sekolah dasarnya udah digambleng dalam lingkungan orang-orang suci. Aku tidak pulang , Alhamdulillah ada kerabat jauh yang tinggal di kota baru jadi ya kami menginap disana”.
Rifqi:               : “Masyallah, masyallah. Jangan berlebihanlah, kita sama-sama belajar untuk mencapai tujuan dan cita-cita yang mulia. Zuhdi, ini kenalin teman aku fikri, dia mahir membaca kitab kuning, dipondoknya yang dahulu pernah meraih juara satu dalam musabaqoh qiroatul kutub”.
Fikri                 : “allahuakbar, salam kenal bang. Abang Rifqi ini memanglah, selalu berlebihan memuji orang lain, padahal aku belum ada apa-apanya. Dia ini bang seorang dai kondang, kalau udah naik mimbar, kelar dah yang ngantuk-ngantuk. Setan pun ambil alangkah seribu kalau dia lagi ceramah”.
Zuhdi              : “Alhamdulillah aku dipertemukan dengan kalian. Semoga aku bisa mengikuti jejak kalian nantinya, amin”.
Fikri-Rifqi       : “amin,amin”
Fajri                 : “masyaallah,allahuakbar. Ternyata dikamar kita ini ada orang-orang besar. Nah Besok kan ada perlombaan pidato dan MQK, kalian berdua cocok nih untuk mewakilkan kamar kita. Bagaimana teman-teman”?
Santri               : “bungkus”
Fajri                 : “baiklah kalo begitu nanti biar aku yang akan mendaftarkan nama kalian”.
Zuhdi              : “terbaiklah memang ketua kita ini, tapi aku boleh temani ya”.
Fajri                 : “boleh-boleh”.
Adengan 4
Dan pada malam penutupan semua santri dan santriwati yang baru dikumpulkan dalam aula untuk mendengarkan petuah dari sang kyai. Semua santriwan dan santriwati mendengarkan dengan penuh kekhusukan, bahkan dengan kedalaman makna dari pesan-pesan dan  harapan serta doa yang disampaikan oleh sang kyai ada diantara mereka yang menangis.
Kyai                : “santriwan-santriwati yang kami cintai, mulai malam ini kalian telah resmi secara lahir dan bathin menjadi warga dipondok pesantren ini. Pergunakanlah waktu kalian dengan sebaik-baiknya. Ketahuilah bahwa ilmu tidak akan didapati dengan cara yang mudah, kalian harus bekerja keras. Kalian harus hijrah dan berperang melawan kebiasaan yang dahulu untuk meleburkan diri dalam setiap kegiatan dan proses belajar-mengajar dipondok ini. Satu hal yang harus kalian ingat anak-anakku, bahwa diluar sana, bahkan jauh dari keberadaan kita. Ada orang-orang yang menggantungkan harapan pada diri kalian, ayah, ibu, nenek, mamak, dan para kerabat keluarga lainnya. Dan yang pastinya, disini kalian akan didik dengan sesempurna mungkin, agar nantinya ketika kalian keluar mampu menjadi panutan bagi bangsa dan Negara kita tercinta republic Indonesia ini. Maju atau tidaknya keilmuan islam kedepannya ditentukan oleh proses yang kalian lakukan saat ini, akan datang masih banyak beban Negara yang harus  dipikul dipundak kalian. Oleh karnanya kami selaku orang tua kalian dirumah (pondok) ini, sangat berharap kalian mampu untuk mengikuti segala prosedur yang telah ditetapkan dan memperbanyak menyibukkan diri dengan belajar. (membaca doa).
Santriwan-santriwati   : “amin, amin,amin.
Adegan 5
Suasana kelas masih sepi ketika zuhdi datang, ia memilih duduk dibangku yang paling depan berhadapan langsung dengan meja ustadz. Tidak berselang lama, para santri lainnya pun datang, mereka sibuk dengan hapalannya masing-masing. Ya hari ini ada pelajaran hadist, dimana para santri diwajibkan untuk menyetor hapalan meraka masing, kemudian ustadz menjelaskan kandungan makna yang tersirat pada setiap hadist yang dipelajari. saat mereka khususk dengan hapalannya masing Ustadz Abdullah masuk dan memulai pelajaran dengan bertawasshul kepada nabi, para syaehk dan guru-guru pendahulu dipondok.
Ustadz Abdullah         : “assalmualaikum”
Santri                           : “waalaikumussalam wr,wb.”
Ustadz Abdullah         : “bagaimana kabarnya hari ini”?
Santri                           : “kabar baik ustadz, Alhamdulillah, allahuakbar”.
Ustadz Abdullah         :“baik, melanjutkan pertemuan minggu lalu, hari ini kita akan membahas hadis mengenai pernikahan. Nah siapa yang mau membaca”?
Rifqi                            : “aku ustadz”
Ustadz Abdullah         : “silahkan Rifqi”. Dan yang lainnya tolong disimak ya”.
Santri                           : “baik ustadz”.
Rifqi                            : “membaca hadis tentang nikah”.
Ustadz Abdullah         : “bagus, selanjutnya ada yang mau mengartikan”?
Zuhdi                          : “aku ustadz”
Ustadz Abdullah         : “iya, silahkan zuhdi”
Zuhdi                          : “membaca terjemahan”.
Ustadz Abdullah         : ‘bagus-bagus,” ada yang sudah tahu maksud dari hadis ini’?
Santri                           : “belum ustadz”
Ustadz Abdullah         : “baiklah, hadist ini menjelaskan tentang anjuran dari rasullullah SAW, kepada para pemuda yang telah mampu untuk segera menikah. Nah kata (ba’ah) disini memiliki dua makna: pertama mampu secara material, cukup bekalnya untuk menjalankan roda rumah tangga. Kemudian yang kedua, mampu secara spiritual (jasmani dan rohani). Lalu kemudian bagi mereka yang belum mampu untuk menunaikan pernikahan. maka dianjurkan untuk berpuasa, karna dengan berpuasa mampu menundukkan nafsu syahwat, jadi bagi kalian yang masih dalam proses menuntut ilmu, dianjurkan untuk banyak-banyak berpuasa. Agar memiliki tameng ketika ingin melakukan perbuatan yang salah. Baik, sampai disini, ada yang ingin bertanya”?
Santri                           : “tidak ada ustadz”
Ustadz Abdullah         : “baiklah, kalau begitu, pertemuan kali ini kita cukupkan sampai disini. Semoga apa yang kita pelajari dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Amin”.
Santri                           : “amin”
Ustadz Abdullah         : “assalamualaikum”.
Santri                           : “waalaikumussalam, wr,wb”.
Adegan 6
Setelah melaksanakan shalat isya secara berjama’ah dimusholla, para santri pulang ke asramanya masing-masing untuk mengambil kitab yang akan dipelajari dalam kelas malam. Zuhdi yang pulang dahulu memergoki fajri yang sedang nyenyak tertidur di balik lemari besarnya. dengan perlahan zuhdipun membangun temannya,
Zuhdi                          : “astagfirullah fajri, fajri bangun, kamu mau bolos lagi kelas fikih malam ini”?
Fajri                             : “eh zuhdi, udah azan isya ya”?
Zuhdi                          : “udah lewat, ini udah mau masuk kelas malam. Kamu kok suka tidur habis magrib ya”?
Fajri                             : “oalah, ya mau gimana akunya ngantuk sekali, dan katanya ustadz Abdullah obat yang paling mujarab ketika ngantuk adalah tidur.”
Zuhdi                          : “ah dasar kamunya saja pemalas, sudah aku mau kekelas dulu. Sana cuci mukamu, sebentar lagi kelas akan dimulai nih”.
Belum sampai lima langkah zuhdi meninggalkan asrama, terdengar suara fajri yang memangilnya dengan suara yang cukup keras membuat dia terkejut dan menoleh kebelakang.
Fajri                             : “zuhdi”.
Zuhdi                          : “iya ada apa fajri”.
Fajri                             : “oh ini, kitab  fathul qoribku kok tidak ada ya. Perasaan setelah pengajian minggu lalu kitabnya aku tarok dibarisan kitab-kitab fikih. Kamu ada melihatnya gak”?.
Zuhdi                          : “yaAllah fajri,fajri. kamu kok belum tua udah pelupa. Kitab fathul qorib kamukan kamu titip ke fikri. Bukannya minggu lalu kamu tidak masuk terus mintak diterjemahkan sama fikri”?
Fajri                             : “astagfirullah, oh iya-iya aku ingat sekarang”. Ya sudah kamu duluan saja nanti aku nyusul ishallah”.
Zuhdi                          : “baiklah, ini ustadz kayaknya sudah masuk”. Assalamualaikum”.
Fajri                             : “waaalaikumussalam, wr,wb.”
Adegan 7
Ustadz Abdullah sudah memulai pelajaran ketika zuhdi sampai dikelas, setelah mengucapkan salam diapun mengambil posisi duduk dibangku yang masih kosong berhadapan langsung dengan meja ustadz, demi menyelamatkan aib temannya diapun terpaksa berbohong dengan ustadz mengenai perihal keterlambatannya.
Zuhdi                          : “assalamualaikum”.
Ustadz-santri               : “waalaikumussalam. Wr,wb.”
Zuhdi                          : “maaf ustadz aku terlambat, tadi kekamar mandi terlebih dahulu”.
Ustad Abdullah          : “iya tidak apa-apa zuhdi, masih baik terlambat daripada bolos. Baik silahkan fikri untuk mengulang kembali bacaannya tadi”.
Fikri                             : “membaca kitab toharoh”
Ustad Abdullah          : “ bagus fikri, sekarang ustadz ingin bertanya. Nah rifqi coba kamu sebuti ulang air-air yang shah untuk bersuci menurut si mushonnif tadi”?
Rifqi                            : “menyebut macam-macam air tersebut”.
Ustad Abdullah          : “bagus, nah santri-santriku, kalian harus mengetahui bahwa menurut pengertian secara bahasa kitab itu berarti “kumpul”. Sedangkan menurut pengertian yang lazim di kalangan masyarakat (istilah) kata “kitab” mempunyai arti “sesuatu tulisan yang menunjukkan jenis dari beberapa hukum.
Kemudian Kata “thoharoh” adalah sama dengan “nadlafah” artinya “bersih atau bersuci” dikalangan ahli fiqh, toharoh mempunya sangat banyak pengertian diantara lain ialah “suatu perkara yang menyebabkan diperbolehkan seseorang untuk mengerjakan sholat” cohtohnya ialah mandi, berwudhu, serta bertayammum. Nah dikarenakan air adalah merupakan alat untuk bersuci maka kita diwajibkan untuk mengetahui macam-macam air yang diperbolehkan untuk bersuci tersebut. Baik sampai disini ada pertanyaan?
Zuhdi                          : “ ustadz , kalau thoharoh dibaca dengan thuharoh apakah artinya sama atau memiliki pengertian yang lain”?
Ustad Abdullah          : “kalau dibaca dengan thuharah dia akan memiliki makna lain yakni “kelebihan dari air yang digunakan dalam bersuci, oleh karna itu pula kita dituntut untuk membaca dengan benar jika salah harokat itu bisa merobah makna dari kata tersebut. Nah sampai disini faham?
Santri                           : “faham”.
Ustad Abdullah          : “baik, kalau begitu pelajaran malam ini kita cukupkan sampai disini, jangan lupa sering-sering mengulang pelajarannya diasrama”.
Santri                           : “iya ustadz”
Ustadz Abdullah         : “assalamualaikum”
Santri                           : “walaikumussalam. Wr,wb”.
Adegan 8
Disepertigaan malam zuhdi terbangun entah kenapa pikirannya melayang kepada segala rutinitas dan kesibukan yang telah dia alami selama menginjakkan kaki dipondok ini. Setelah menjalani rutinitas yang padat sebagaimana prosedur dan peraturan yang ada dipondok ini barulah zuhdi menyadari bahwa apa yang disampaikan oleh ayahnya dahulu adalah benar. Menjadi seorang santri itu memang berat, dia dituntut untuk bisa memenage waktu sebaik mungkin dan menguras otak secara full agar dapat menguasai pelajaran yang diajarkan dipondok. Terkadang muncul juga rasa ingin mundur dari proses nyantri karna kelelahan yang sangat dirasakannya. Namun zuhdi ingat dengan cita-cita awalnya dia pun tidak mau menyerah sebelum menyelesaikan apa yang harus ia selesaikan. Dengan mata yang masih mengentuk zuhdi bangkit untuk melaksanakan sholat malam, dan berdoa semoga alllah selalu memberikan kekuatan dan ketetapan hatinya untuk menaklukkan segala proses yang ada demi cita-cita yang mulia.
Selesai,….








           



1 komentar:

  1. maaf gambarnyo persembahan khusus buat saudaro kito ko (mahelli), semoga beliau dimudahkan dalam segala urusannyo. amin

    BalasHapus

IKMAA YOGYAKARTA