BERATNYA MENJADI SEORANG SANTRI
Oleh : Dedi utsman el-kuisy
Tokoh dan karakter:
1. Zuhdi : anak desa yang lugu dan memiliki
rasa ingin tahu yang kuat
2. Ayah zuhdi : orang
tua yang bijaksana dan pengertian
3. Rifqi :
anak pintar, suka ceramah dan berasal dari keturunan orang ‘alim
4. Fikri : anak baik, pintar membaca kitab kuning
5. Fajri
: anak pemalas, dan suka tidur
6. Ustadz Abdullah : pendidik
yang baik, sabar dan pemaaf
7. Kyai :
orang ‘alim, arif dan karismatik
Situasi dan perlengkapan
Adegan 1 :
seorang anak duduk berdua dengan ayahnya didepan rumah. Dalam suasana desa yang
nyaman, pagi cerah yang ditemani dengan kicauan burung dan kokok ayam serta
suara ternak lainnya. Dibutuhkan meja,kursi, secangkir kopi beserta makanan
ringan lainnya. Diawali dengan intrumen music.
Adegan 2 :
pagi hari, dalam ruang kelas yang dipenuhi para calon santri baru dengan
kesibukan menghapal materi ujiannya. Peralatan Al-quran, buku agama lainnya,
nomor antrian, meja, kursi, papan tulis, dan map.
Adegan 3 :
suasana asrama, dengan beberapa santri yang sibuk membaca kitabnya
masing-masing. Ada yang baring, duduk dan ngobrol sambil berdiri. Diawali
dengan intrumen music.
Adegan 4 :
suasana aula yang dipenuhi dengan santriwan-santriwati. Peralatan : meja atau
mimbar dan Diiringi dengan intrumen music.
Adegan 5 :
suasana belajar mengajar dikelas. Peralatan: meja, bangku, papan tulis, kitab
hadist (bulughul marom) dan pulpen.
Adegan 6 :
suasana asrama yang sepi.
Adegan 7 :
suasana belajar mengajar dikelas, peralatan meja, kursi, papan tulis, buku
fikih (fathul qorib) dan pulpen.
Adegan 8 :
suasana asrama sepi malam hari dengan para santri tertidur ditemani oleh suara
cicak dan jam dinding.dinding, peralatan sajadah. Dilengkapi dengan isntrumen
music.
Adengan 1
Berangkat dari keinginan kuat seorang anak
desa yang terpencil untuk mengangkat martabat keluarga dengan cara menuntut
ilmu agama, setelah menamatkan pendidikan smp di kecamatannya. Zuhdi
menyampaikan niatnya untuk memperdalam pengetahuan agama di pondok pesantren,
gayungpun bersambut. Orangtuanya mengamini apa yang dicita-citakan oleh Zuhdi
dan menawarkan untuk nyantri dipondok pesantren modern as’ad olak kemang kota
jambi. Dimana para pendahulunya (kerabat keluarga) pernah menimba ilmu agama
disini.
Zuhdi :“ayah, bagaimana menurutmu. Jika
aku mempelajari ilmu agama dipesantren”?.
Ayah :“boleh anakku, tapi apakah kamu
sudah bulat dengan keputusanmu. Menjadi seorang santri itu berat, ayah kawatir
kamu tidak akan kuat dengan segala peraturan dan kegiatannya”.
Zuhdi :“Iya ayah, Aku sudah bertekad untuk
mempelajari ilmu agama secara mendalam dipondok pesantren, dan Aku berjanji
akan belajar bersungguh-sungguh dan menjalankan segala peraturan yang ada
disana”.
Ayah :“baiklah, kalau begitu kamu mondok
dipesantren as’ad saja ya dahulu ada juga keluarga kita yang belajar disana,
besok inshaallah ayah akan bertamu kerumahnya untuk menyampaikan kabar baik
ini, sekaligus memohon doa darinya agar nanti kamu dimudahkan dalam proses
menimba ilmu”.
Zuhdi :“iya ayah, aku mengikuti saja apa
yang ayah sarankan”.
Adengan 2
Setelah melakukan proses pendaftaran yang sangat
rumit, Zuhdi pun mengikuti tes penerimaan santri baru. Diruang tes telah banyak
calon santri yang duduk sambil mempersiapkan materi yang akan dites. Didepan
kelas ada seorang ustadz penguji yang memiliki peran terhadap diterima atau
tidaknya dia dipondok pesantren ini, beliau dengan seksama menyimak bacaan dari
setiap calon santri. Saat menunggu antrian diruang kelas Zuhdi berkenalan
dengan Rifqi seorang calon santri yang berasal dari propinsi riau. Rifqi begitu
fasih melapalkan bacaan tahlil salah satu materi ujian lisan di pondok ini, dan
dari Rifqi juga lah dia tahu nama ustadz penguji adalah ustadz Abdullah.
Zuhdi : “assalamualaikum bang, kenalkan
nama aku Zuhdi, aku berasal dari propinsi Sumatra selatan”.
Rifqi : “waalaikumussalam bang, nama aku
Rifqi, aku berasal dari propinsi riau, abng
dapat nomor antrian berapa?. Kalau aku dapat nomor 105, lumayan ada
waktu untuk mengulang hapalan”.
Zuhdi :
“aku nomor 35 bang. mohon doanya ya biar kita bisa diterima dipondok ini.
Rifqi ;
“amin, semoga dikabulkan saja bang.
Ustadz Abdullah : “selanjutnya Zuhdi,
silahkan maju kedepan”
Rifqi : “Semoga dilancarkan ya di”
Zuhdi :
“amin”
Ustad Abdullah : “zuhdi dari sumtra selatan”?
Zuhdi :
“iya ustadz, tapi desa aku dekat dengan jambi”
Ustadz Abdullah : “baik Zuhdi, tolong bacakan ayat kursi dulu ya”
Zuhdi :
“membaca ayat kursi”
Ustadz
Abdullah : “zuhdi, bacaannya
lumayan bagus, dahulu pernah mondok ya”?.
Zuhdi :
“belum ustadz, hanya belajar dari orang tua saja”
Ustadz
Abdullah : “baik, sekarang coba
kamu bacakan niat berwudhu”
Zuhdi :
“membaca niat berwudhu”
Ustadz
Abdullah :“bagus zuhdi, sepertinya
kamu sudah paham betul mengenai makhorijal hurup dan qoidah tajwid. Sekarang kamu
boleh keluar dan Ustadz doakan semoga kamu lulus tes lainya”.
Zuhdi :
‘amin, terima kasih ustadz atas doanya. Assalamualaikum”
Ustadz
Abdullah : “waalaikumussalam”
Adengan 3
Setelah menyelesaikan tes tertulis dan tes
lisan beserta beberapa tes lainnya, Zuhdi dinyatakan lulus dan diterima sebagai
santri dengan predikat memuaskan, Dia menempati peringkat ke-15 dari 205 jumlah
santri putra yang diterima. Seminggu kemudian zuhdi sudah resmi tinggal di
asrama, dia bergabung dengan santri baru lainnya. Satu kamar dipondok ini ditempati
oleh 20 orang, mereka semua diwajibkan untuk saling mengenal dan membantu dalam
proses belajar mengajar. Selama seminggu mereka harus mengikuti opentren
(arientasi pondok pesantren), pekan dimana para santri diperkenalkan dengan
berbagai kegiatan dan proses belajar di pondok.
Rifqi :
“masyallah Zuhdi akhirnya doa kita diijabahkan, kemaren pulang ke sumatera ya”?
Zuhdi :
“Alhamdulillah, aku juga tidak menyangka kalau kita akan satu kamar. Wah aku
dibantu nantinya ya kalau ada pelajaran yang tidak bisa aku mengerti. Maklum
aku baru kali ini mondok, kamu kan dari sekolah dasarnya udah digambleng dalam
lingkungan orang-orang suci. Aku tidak pulang , Alhamdulillah ada kerabat jauh
yang tinggal di kota baru jadi ya kami menginap disana”.
Rifqi: :
“Masyallah, masyallah. Jangan berlebihanlah, kita sama-sama belajar untuk
mencapai tujuan dan cita-cita yang mulia. Zuhdi, ini kenalin teman aku fikri,
dia mahir membaca kitab kuning, dipondoknya yang dahulu pernah meraih juara
satu dalam musabaqoh qiroatul kutub”.
Fikri :
“allahuakbar, salam kenal bang. Abang Rifqi ini memanglah, selalu berlebihan
memuji orang lain, padahal aku belum ada apa-apanya. Dia ini bang seorang dai
kondang, kalau udah naik mimbar, kelar dah yang ngantuk-ngantuk. Setan pun
ambil alangkah seribu kalau dia lagi ceramah”.
Zuhdi :
“Alhamdulillah aku dipertemukan dengan kalian. Semoga aku bisa mengikuti jejak
kalian nantinya, amin”.
Fikri-Rifqi :
“amin,amin”
Fajri :
“masyaallah,allahuakbar. Ternyata dikamar kita ini ada orang-orang besar. Nah
Besok kan ada perlombaan pidato dan MQK, kalian berdua cocok nih untuk
mewakilkan kamar kita. Bagaimana teman-teman”?
Santri :
“bungkus”
Fajri :
“baiklah kalo begitu nanti biar aku yang akan mendaftarkan nama kalian”.
Zuhdi :
“terbaiklah memang ketua kita ini, tapi aku boleh temani ya”.
Fajri :
“boleh-boleh”.
Adengan 4
Dan pada malam penutupan semua santri dan
santriwati yang baru dikumpulkan dalam aula untuk mendengarkan petuah dari sang
kyai. Semua santriwan dan santriwati mendengarkan dengan penuh kekhusukan,
bahkan dengan kedalaman makna dari pesan-pesan dan harapan serta doa yang disampaikan oleh sang
kyai ada diantara mereka yang menangis.
Kyai :
“santriwan-santriwati yang kami cintai, mulai malam ini kalian telah resmi
secara lahir dan bathin menjadi warga dipondok pesantren ini. Pergunakanlah
waktu kalian dengan sebaik-baiknya. Ketahuilah bahwa ilmu tidak akan didapati
dengan cara yang mudah, kalian harus bekerja keras. Kalian harus hijrah dan
berperang melawan kebiasaan yang dahulu untuk meleburkan diri dalam setiap
kegiatan dan proses belajar-mengajar dipondok ini. Satu hal yang harus kalian
ingat anak-anakku, bahwa diluar sana, bahkan jauh dari keberadaan kita. Ada
orang-orang yang menggantungkan harapan pada diri kalian, ayah, ibu, nenek,
mamak, dan para kerabat keluarga lainnya. Dan yang pastinya, disini kalian akan
didik dengan sesempurna mungkin, agar nantinya ketika kalian keluar mampu
menjadi panutan bagi bangsa dan Negara kita tercinta republic Indonesia ini. Maju
atau tidaknya keilmuan islam kedepannya ditentukan oleh proses yang kalian
lakukan saat ini, akan datang masih banyak beban Negara yang harus dipikul dipundak kalian. Oleh karnanya kami
selaku orang tua kalian dirumah (pondok) ini, sangat berharap kalian mampu untuk
mengikuti segala prosedur yang telah ditetapkan dan memperbanyak menyibukkan
diri dengan belajar. (membaca doa).
Santriwan-santriwati : “amin, amin,amin.
Adegan 5
Suasana kelas masih sepi ketika zuhdi
datang, ia memilih duduk dibangku yang paling depan berhadapan langsung dengan
meja ustadz. Tidak berselang lama, para santri lainnya pun datang, mereka sibuk
dengan hapalannya masing-masing. Ya hari ini ada pelajaran hadist, dimana para
santri diwajibkan untuk menyetor hapalan meraka masing, kemudian ustadz
menjelaskan kandungan makna yang tersirat pada setiap hadist yang dipelajari.
saat mereka khususk dengan hapalannya masing Ustadz Abdullah masuk dan memulai
pelajaran dengan bertawasshul kepada nabi, para syaehk dan guru-guru pendahulu
dipondok.
Ustadz Abdullah : “assalmualaikum”
Santri :
“waalaikumussalam wr,wb.”
Ustadz Abdullah : “bagaimana kabarnya hari ini”?
Santri :
“kabar baik ustadz, Alhamdulillah, allahuakbar”.
Ustadz Abdullah :“baik, melanjutkan pertemuan minggu lalu, hari ini kita
akan membahas hadis mengenai pernikahan. Nah siapa yang mau membaca”?
Rifqi :
“aku ustadz”
Ustadz Abdullah : “silahkan Rifqi”. Dan yang lainnya tolong disimak ya”.
Santri :
“baik ustadz”.
Rifqi :
“membaca hadis tentang nikah”.
Ustadz Abdullah : “bagus, selanjutnya ada yang mau mengartikan”?
Zuhdi :
“aku ustadz”
Ustadz Abdullah : “iya, silahkan zuhdi”
Zuhdi :
“membaca terjemahan”.
Ustadz Abdullah : ‘bagus-bagus,” ada yang sudah tahu maksud dari hadis ini’?
Santri :
“belum ustadz”
Ustadz Abdullah : “baiklah, hadist ini menjelaskan tentang anjuran dari
rasullullah SAW, kepada para pemuda yang telah mampu untuk segera menikah. Nah
kata (ba’ah) disini memiliki dua makna: pertama mampu secara material, cukup
bekalnya untuk menjalankan roda rumah tangga. Kemudian yang kedua, mampu secara
spiritual (jasmani dan rohani). Lalu kemudian bagi mereka yang belum mampu
untuk menunaikan pernikahan. maka dianjurkan untuk berpuasa, karna dengan
berpuasa mampu menundukkan nafsu syahwat, jadi bagi kalian yang masih dalam
proses menuntut ilmu, dianjurkan untuk banyak-banyak berpuasa. Agar memiliki
tameng ketika ingin melakukan perbuatan yang salah. Baik, sampai disini, ada
yang ingin bertanya”?
Santri :
“tidak ada ustadz”
Ustadz Abdullah : “baiklah, kalau begitu, pertemuan kali ini kita cukupkan
sampai disini. Semoga apa yang kita pelajari dapat diamalkan dalam kehidupan
sehari-hari. Amin”.
Santri :
“amin”
Ustadz Abdullah : “assalamualaikum”.
Santri :
“waalaikumussalam, wr,wb”.
Adegan 6
Setelah melaksanakan shalat isya secara
berjama’ah dimusholla, para santri pulang ke asramanya masing-masing untuk
mengambil kitab yang akan dipelajari dalam kelas malam. Zuhdi yang pulang
dahulu memergoki fajri yang sedang nyenyak tertidur di balik lemari besarnya.
dengan perlahan zuhdipun membangun temannya,
Zuhdi :
“astagfirullah fajri, fajri bangun, kamu mau bolos lagi kelas fikih malam ini”?
Fajri :
“eh zuhdi, udah azan isya ya”?
Zuhdi :
“udah lewat, ini udah mau masuk kelas malam. Kamu kok suka tidur habis magrib
ya”?
Fajri :
“oalah, ya mau gimana akunya ngantuk sekali, dan katanya ustadz Abdullah obat
yang paling mujarab ketika ngantuk adalah tidur.”
Zuhdi :
“ah dasar kamunya saja pemalas, sudah aku mau kekelas dulu. Sana cuci mukamu,
sebentar lagi kelas akan dimulai nih”.
Belum sampai lima langkah zuhdi
meninggalkan asrama, terdengar suara fajri yang memangilnya dengan suara yang
cukup keras membuat dia terkejut dan menoleh kebelakang.
Fajri :
“zuhdi”.
Zuhdi :
“iya ada apa fajri”.
Fajri :
“oh ini, kitab fathul qoribku kok tidak
ada ya. Perasaan setelah pengajian minggu lalu kitabnya aku tarok dibarisan
kitab-kitab fikih. Kamu ada melihatnya gak”?.
Zuhdi :
“yaAllah fajri,fajri. kamu kok belum tua udah pelupa. Kitab fathul qorib kamukan
kamu titip ke fikri. Bukannya minggu lalu kamu tidak masuk terus mintak
diterjemahkan sama fikri”?
Fajri :
“astagfirullah, oh iya-iya aku ingat sekarang”. Ya sudah kamu duluan saja nanti
aku nyusul ishallah”.
Zuhdi :
“baiklah, ini ustadz kayaknya sudah masuk”. Assalamualaikum”.
Fajri :
“waaalaikumussalam, wr,wb.”
Adegan 7
Ustadz Abdullah sudah memulai pelajaran
ketika zuhdi sampai dikelas, setelah mengucapkan salam diapun mengambil posisi
duduk dibangku yang masih kosong berhadapan langsung dengan meja ustadz, demi
menyelamatkan aib temannya diapun terpaksa berbohong dengan ustadz mengenai
perihal keterlambatannya.
Zuhdi :
“assalamualaikum”.
Ustadz-santri : “waalaikumussalam. Wr,wb.”
Zuhdi :
“maaf ustadz aku terlambat, tadi kekamar mandi terlebih dahulu”.
Ustad Abdullah : “iya tidak apa-apa zuhdi, masih baik terlambat daripada
bolos. Baik silahkan fikri untuk mengulang kembali bacaannya tadi”.
Fikri :
“membaca kitab toharoh”
Ustad Abdullah : “ bagus fikri, sekarang ustadz ingin bertanya. Nah rifqi
coba kamu sebuti ulang air-air yang shah untuk bersuci menurut si mushonnif
tadi”?
Rifqi :
“menyebut macam-macam air tersebut”.
Ustad Abdullah : “bagus, nah santri-santriku, kalian harus mengetahui
bahwa menurut pengertian secara bahasa kitab itu berarti “kumpul”. Sedangkan
menurut pengertian yang lazim di kalangan masyarakat (istilah) kata “kitab”
mempunyai arti “sesuatu tulisan yang menunjukkan jenis dari beberapa hukum.
Kemudian Kata “thoharoh” adalah sama dengan
“nadlafah” artinya “bersih atau bersuci” dikalangan ahli fiqh, toharoh mempunya
sangat banyak pengertian diantara lain ialah “suatu perkara yang menyebabkan
diperbolehkan seseorang untuk mengerjakan sholat” cohtohnya ialah mandi,
berwudhu, serta bertayammum. Nah dikarenakan air adalah merupakan alat untuk
bersuci maka kita diwajibkan untuk mengetahui macam-macam air yang
diperbolehkan untuk bersuci tersebut. Baik sampai disini ada pertanyaan?
Zuhdi :
“ ustadz , kalau thoharoh dibaca dengan thuharoh apakah artinya sama atau
memiliki pengertian yang lain”?
Ustad Abdullah : “kalau dibaca dengan thuharah dia akan memiliki makna
lain yakni “kelebihan dari air yang digunakan dalam bersuci, oleh karna itu
pula kita dituntut untuk membaca dengan benar jika salah harokat itu bisa
merobah makna dari kata tersebut. Nah sampai disini faham?
Santri :
“faham”.
Ustad Abdullah : “baik, kalau begitu pelajaran malam ini kita cukupkan
sampai disini, jangan lupa sering-sering mengulang pelajarannya diasrama”.
Santri :
“iya ustadz”
Ustadz Abdullah : “assalamualaikum”
Santri :
“walaikumussalam. Wr,wb”.
Adegan 8
Disepertigaan malam zuhdi terbangun entah
kenapa pikirannya melayang kepada segala rutinitas dan kesibukan yang telah dia
alami selama menginjakkan kaki dipondok ini. Setelah menjalani rutinitas yang
padat sebagaimana prosedur dan peraturan yang ada dipondok ini barulah zuhdi
menyadari bahwa apa yang disampaikan oleh ayahnya dahulu adalah benar. Menjadi
seorang santri itu memang berat, dia dituntut untuk bisa memenage waktu sebaik
mungkin dan menguras otak secara full agar dapat menguasai pelajaran yang
diajarkan dipondok. Terkadang muncul juga rasa ingin mundur dari proses nyantri
karna kelelahan yang sangat dirasakannya. Namun zuhdi ingat dengan cita-cita
awalnya dia pun tidak mau menyerah sebelum menyelesaikan apa yang harus ia
selesaikan. Dengan mata yang masih mengentuk zuhdi bangkit untuk melaksanakan
sholat malam, dan berdoa semoga alllah selalu memberikan kekuatan dan ketetapan
hatinya untuk menaklukkan segala proses yang ada demi cita-cita yang mulia.
Selesai,….
maaf gambarnyo persembahan khusus buat saudaro kito ko (mahelli), semoga beliau dimudahkan dalam segala urusannyo. amin
BalasHapus