Namaku adalah Dedi Saputra, walau terkesan jawa namun aku asli
berdarah sumatra, melayu tepatnya. Aku terlahir dari keluarga yang sangat
sederhana tanggal 14 agustus 1994 di
sebuah desa kecil ujung sumatra bagian selatan. Aku anak terakhir dari tujuh
bersaudara, namun hanya empat yang bisa bertatap muka, dua saudaraku telah
pulang sebelum aku dimunculkan kedunia fana. Sedih jika mendengar cerita dari
keluarga bagaimana kisah dibalik kepulangan mereka.
Nama ayahku Usman sulton dan nama ibuku Siti Nurbaya, terharu jika teringat cerita awal mereka berjumpa. Keduanya telah memberikan pelajaran kehidupan yang nyata dimasa kecilku, aku dibesarkan dalam hutan belantara tanpa rasa manja layaknya anak bungsu lainnya. Masa kecil kuhabiskan bersama mereka tanpa mengenal aroma perkotaan, karna kita hidup dilembah pedesaan. Kicauan burung dan desisan ular serta auman harimau merupakan suguhan istimewa dikala malam tiba.
Aku terlambat masuk kesekolah dasar karna ulah kebodohan serta keterasingan aku dengan dunia pendidikan. Dan menjadi lelucun masyarakat desa hingga sekarang ialah ucapanku " buat apa sekolah toh tanpa sekolahpun aku sudah pintar". Aku belajar di SDN Muara Kuis didesaku, dimana dahulu kakak- kakakku sekolah, setiap hari aku sekolah dengan jalan kaki dan selama sekolah aku menjadi anak yang agresif, selama enam tahun lamanya aku selalu menjadi juara satu. puncaknya aku dinobatkan sebagai siswa teladan ketika perpisahan.
Nama ayahku Usman sulton dan nama ibuku Siti Nurbaya, terharu jika teringat cerita awal mereka berjumpa. Keduanya telah memberikan pelajaran kehidupan yang nyata dimasa kecilku, aku dibesarkan dalam hutan belantara tanpa rasa manja layaknya anak bungsu lainnya. Masa kecil kuhabiskan bersama mereka tanpa mengenal aroma perkotaan, karna kita hidup dilembah pedesaan. Kicauan burung dan desisan ular serta auman harimau merupakan suguhan istimewa dikala malam tiba.
Aku terlambat masuk kesekolah dasar karna ulah kebodohan serta keterasingan aku dengan dunia pendidikan. Dan menjadi lelucun masyarakat desa hingga sekarang ialah ucapanku " buat apa sekolah toh tanpa sekolahpun aku sudah pintar". Aku belajar di SDN Muara Kuis didesaku, dimana dahulu kakak- kakakku sekolah, setiap hari aku sekolah dengan jalan kaki dan selama sekolah aku menjadi anak yang agresif, selama enam tahun lamanya aku selalu menjadi juara satu. puncaknya aku dinobatkan sebagai siswa teladan ketika perpisahan.
Setelah lulus sd aku melanjutkan ketingkat yang lebih tinggi. Aku
sekolah dipondok pesantren Al-Hidayah sarolangun jambi. sewaktu SD aku juga
sambil belajar agama di MI dan rutin mengaji setelah magrib akupun tidak
terlalu susah menyesuaikan diri dengan pelajaran-pelajaran salafiyah
sebagaimana pondok pada umumnya. Walau tidak jauh, namun pondokku berbeda
dengan provinsi kelahiranku, saat itulah jiwa merantau tumbuh dalam diriku.
Tahun pertama aku masih bisa bertahan dengan
prestasi, terpilihnya aku sebagai juara umum dengan nilai tertinggi diantara
semua siswa- siswi smp-sma dibawah yayasan pondok. Tapi dua tahun selanjutnya
konsentrasiku menurun, mungkin pengaruh organisasi dan asmara. Dan akhirnya aku
finis diperingkat ketiga dari sekitaran 70 siswa angkatan kelulusanku.
Tiga tahun berlalu, lulus dari smp aku berniat melanjutkan sekolah ketempat yang lebih jauh, kalau dahulu dikabupaten sekarang aku ingin ke provinsi. MAN MODEL kota jambi ialah impianku, namun tuhan punya rencana lain untukku, melalui para pendahulu mereka menyarankan agar aku kembali menambah bekal dipenjara suci selama tiga tahun lagi. Aku pasrah tak berdaya ketika nasehat mereka bersemanyam dengan damainya dihati, artinya aku harus mengubur dalam-dalam khayalan untuk hidup bebas sebagaimana siswa disekolah negeri pada umumnya.
MADRASAH ALIYAH AS’AD dibawah YAYASAN PERGURUAN AS’AD sebuah pondok tua diolak kemang danau teluk jambi seberang kota jambi adalah pilihan utama orang tua. Aku dengan ikhlas menanamkan niat untuk belajar lebih dalam tentang agama dipondok ini, sebagai pondok modern dan terkenal tentulah seleksi masuknya tidaklah semudah sebagaimana pondokku yang dulu. Tapi berkat doa keluarga dan berbekal pengetahuan yang ada akupun mampu bersaing dengan ratusan calon santri lainya.
Tiga tahun berlalu, lulus dari smp aku berniat melanjutkan sekolah ketempat yang lebih jauh, kalau dahulu dikabupaten sekarang aku ingin ke provinsi. MAN MODEL kota jambi ialah impianku, namun tuhan punya rencana lain untukku, melalui para pendahulu mereka menyarankan agar aku kembali menambah bekal dipenjara suci selama tiga tahun lagi. Aku pasrah tak berdaya ketika nasehat mereka bersemanyam dengan damainya dihati, artinya aku harus mengubur dalam-dalam khayalan untuk hidup bebas sebagaimana siswa disekolah negeri pada umumnya.
MADRASAH ALIYAH AS’AD dibawah YAYASAN PERGURUAN AS’AD sebuah pondok tua diolak kemang danau teluk jambi seberang kota jambi adalah pilihan utama orang tua. Aku dengan ikhlas menanamkan niat untuk belajar lebih dalam tentang agama dipondok ini, sebagai pondok modern dan terkenal tentulah seleksi masuknya tidaklah semudah sebagaimana pondokku yang dulu. Tapi berkat doa keluarga dan berbekal pengetahuan yang ada akupun mampu bersaing dengan ratusan calon santri lainya.
Setelah resmi menjadi santri dipondok ini, aku harus berjuang lagi
untuk kelas Salafiyah, al-hamdulillah berbekal bahasa arab aku berhasil masuk ditingkat
yang setara dengan kelas SMAku. Sebagaimana
sifat kecilku yang agresif, aku mulai terjun di beberapa organisasi atau
kegiatan yang ada, seperti: ISAPPA, OSIS, dan tentu yang teristimewa adalah
PRAMUKA, dengannya aku anak desa dapat terbang layaknya seekor burung diangkasa
dengan pesawat sriwijaya tanpa biaya. Banyak kesan
dan peristiwa yang aku lalui dipondok tercinta, mulai dengan kisah asmara,
hingga hampir kehilangan nyawa. Jiwa prestasi mulai tumbuh kembali semenjak aku
injakkan kaki dipondok ini, aku pernah ditunjuk sebagai sekertaris ikappa
(sebuah organisasi yang mengurus kegiatan santri diasrama). juara orator antar konsulat untuk santri
putra, dan banyak prestasi lainnya. Tapi yang paling terkesan ialah: aku
terpilih sebagai santri teladan dua putra dan ayahku yang tidak pernah tamat
sekolah dasar mampu menyampaikan kata sambutan dengan sempurna didepan para kyai
dan guru serta ratusan tamu undangan dari kalangan gubernuran hingga warga
biasa diacara besar pondok setahun sekali dengan nama : haflah akhir sanah dan
perpisahan santri
Setelah lulus aku melanjutkan studi keluar pulau sumatra, daerah istimewa yogyakarta adalah pilihanku. Tepatnya di UIN sunan kalijaga, walau dengan berbagai halangan dan rintangan yang ada, mulai dari ajakan mengabdi pada pondok hingga cemoohan orang desa sipengusik telinga. Aku akhirnya diterima difakultas ushuluddin dan pemikiran islam jurusan ilmu Al-Quran dan tafsir. Karna aku berasal dari keluarga yang sangat sederhana, disamping kiriman dari orang tua, akupun banting tulang didunia kerja demi melanjutkan perjuangan menuju cita-cita yang mulia.
Setelah lulus aku melanjutkan studi keluar pulau sumatra, daerah istimewa yogyakarta adalah pilihanku. Tepatnya di UIN sunan kalijaga, walau dengan berbagai halangan dan rintangan yang ada, mulai dari ajakan mengabdi pada pondok hingga cemoohan orang desa sipengusik telinga. Aku akhirnya diterima difakultas ushuluddin dan pemikiran islam jurusan ilmu Al-Quran dan tafsir. Karna aku berasal dari keluarga yang sangat sederhana, disamping kiriman dari orang tua, akupun banting tulang didunia kerja demi melanjutkan perjuangan menuju cita-cita yang mulia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar