Menjelang akhir kepengurusan tahun 2016-2017, IKMAA Yogyakarta mengadakan Malam Keakraban (makrab). Kegiatan tersebut diadakan pada tanggal 21-22 Oktober 2017 bertempat di pantai Watu Kodok, Gunung Kidul, Yogyakarta. Acara tahunan ini diselenggarakan dengan tujuan untuk mengakrabkan anggota lama dengan anggota baru IKMAA Yogyakarta.
Jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan makrab, tepatnya sebulan sebelum hari H, pengurus beserta Dewan Penasihat Organisasi (DPO) IKMAA Yogyakarta telah mengadakan rapat pembahasan agenda makrab, rapat tersebut membahas hal-hal yang berkaitan dengan persiapan makrab seperti kepanitiaan dan lain-lain.
Untuk makrab kali ini, pengurus memutuskan tidak membentuk kepanitiaan makrab. Banyak pertimbangan yang melatarbelakangi ditetapkannya keputusan tersebut. Diantaranya karena banyaknya anggota baru IKMAA yang berada di pondok. Di sisi lain, banyak anggota baru yang tidak memiliki kendaraan bermotor. Agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan dikemudian hari, maka kepanitaan ditiadakan. Akibat yang timbul ialah persiapan serta pelaksanaan makrab di-handle oleh seluruh pengurus IKMAA.
Tiga hari setelah rapat dilakukan, beberapa dari kita melakukan survey tempat makrab di pantai Watu Kodok yang berada di Gunung Kidul, Yogyakarta. Perjalanan yang panjang dan melelahkan ini menghabiskan waktu sekitar 2 jam. Ketika tiba di pantai Waktu Kodok, rasa lelah selama perjalanan akhirnya tergantikan dengan keindahan yang disuguhkan oleh alam . Setelah memarkirkan motor di parkiran, kami langsung berjalan-jalan di sekitar pantai untuk melihat medan yang akan dijadikan tempat makrab. Kemudian kami menuju salah satu warung yang berjejer di tepi pantai. Kami bertanya kepada pemilik warung yang kebetulan menyewakan perlengkapan makrab. Setelah proses negosiasi yang cukup rumit, akhirnya kami sepakat untuk menyewa tenda dan memilih tempat yang berada di dekat warung itu sebagai lokasi makrab.
H-7 dari tanggal pelaksanaan makrab, pengurus serta DPO melakukan rapat pembahasan makrab kembali. Rapat kali ini membahas laporan tim survey makrab serta penentuan Penanggung Jawab (PJ) dari masing-masing jobdesk panitia. Selain itu, kita juga merumuskan rundown acara makrab.
Ketika pelaksaan makrab semakin mendekat, dua hari sebelum hari pelaksanaan, kita melakukan rapat fixasi yang melibatkan pengurus serta DPO. Setelah mendengarkan laporan dari masing-masing PJ, jobdesk PJ yang belum dikerjakan kemudian diminta untuk segera dikerjakan. Rapat juga membahas mengenai kepastian anggota IKMAA yang ikut, ketersediaan kendaraan serta perlengkapan makrab.
Pada hari pelaksanaan makrab, pemberangkatan tidak sesuai dengan jadwal yang sudah jelas tertera di dalam rundown . Seharusnya semua anggota berkumpul di depan gedung Multi Purpose (MP) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada pukul 14.00, tetapi masih banyak anggota yang menggunakan jam karet, sehingga mereka datang terlambat tidak sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Setelah semuanya sudah berkumpul, kita langsung tancap gas menuju pantai.
Kita menyusuri jalanan yang membentang panjang dari Sleman menuju pantai selatan di Gunung Kidul. Kemudian tibalah kita di pantai Watu Kodok sekitar pukul 19.00 WIB. Kita lalu mendirikan tenda dan menata lokasi makrab. Peserta makrab yang lain sedang beristirahat di pendopo di depan warung pemilik tenda. Setelah lokasi makrab sudah dipersiapkan, kita semua menyantap makan malam berupa nasi padang yang kita bawa dari Jogja. Seusai makan malam, kita langsung menuju tempat di depan tenda yang telah dipersiapkan sebelumnya. Disana sudah terhampar banner bekas dan tikar di atas pasir pantai yang putih. Di depan tempat duduk juga sudah terpasang banner makrab kali ini. Di atas kepala kami juga sudah tergantung sebuah lampu sebagai alat penerangan, di bawah lampu juga ada sound system untuk memutar musik. Pengeras suara yang kita guanakan untuk berbicara ketika sambutan ataupun mengorganisir massa yang ikut makrab ialah megafon (akrab disebut TOA) yang biasa digunakan untuk demonstrasi oleh aktivis.
Disaksikan oleh gemerlap bintang serta riak air laut yang yang seakan membisikkan kami untuk bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah. Ditemani oleh angin yang membawa pesan dari laut selatan agar kami tetap pada tujuan awal ketika menjejakkan kaki di Jogja, kami memulai agenda opening ceremonial makrab. Yang bertugas sebagai master of ceremony (MC) ialah bung Syafi’i. Setelah acara dibuka dengan bacaan basmalah, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ummul Qur’an yang dipimpin oleh bung Syahril. Sekarang tibalah pembacaan doa mars As’ad yang dipimpin oleh bung Amalan. Suasana yang semula hening mencekam tiba-tiba berubah menjadi haru biru penuh suka cita. Terlihat wajah-wajah khusyuk peserta makrab ketika melantunkan doa mars As’ad.
Sempat terbersit di dalam hati sebuah ungkapan, “Sejauh apapun kita merantau, jangan sampai melupakan almamater tempat kita mengaji dan mengkaji ilmu agama”. Dengan pembacaan doa mars As’ad, kita seakan-akan dibawa untuk bernosltalgia dengan masa lalu ketika digembleng di pondok pesantren As’ad Jambi. Setelah melepas rindu dengan As’ad melalui pembacaan doa mars As’ad, acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Sambutan yang pertama disampaikan oleh ketua IKMAA Yogyakaarta, bung Qodri (yang akrab disapa koi). Dia membahas tema makrab yang diusung dalam kegiatan makrab kali ini. Koi mengatakan bahwa tema makrab “merajut kekeluargaan di jaman now” diangkat berdasarkan situasi yang sedang berkembang saat ini.
“Anggota IKMAA yang saat ini merupakan generasi millenial harus mampu untuk menyambung silaturahmi, menjalin kebersamaan, merekatkan keakraban serta merajut kekeluargan di jaman now, jaman dimana teknologi berkembang pesat sehingga mengakibatkan manusia teralinenasi dengan diri sendiri dan lingkungannya. Untuk itulah IKMAA hadir di antara alumni As’ad yang ada di Jogja sebagai wadah merajut kekeluargaan”, jelasnya.Setelah itu dilanjutkan dengan sambutan dari salah satu DPO, bung Husni. Beliau menjelaskan selayang pandang IKMAA Yogyakarta.
“IKMAA yang sebelumnya bernama IKAPPA Yogyakarta didirikan atas usulan salah satu guru As’ad yang bernama ustad Qodri. Beliau sedang menyelesaikan study S3 di Jogja. Setelah mendengarkan usulan tersebut, Sajidin, Nur Priadi, Tika, Mahmudi serta saya kemudian mendirikan IKMAA pada tahun 2012 dengan tujuan awal sebagai tempat kumpul alumni yang ada di Jogja”, ungkapnya.
Sambutan-sambutan telah selesai, lalu dilanjutkan doa serta penutup. Setelah acara opening ceremony, langsung diadakan perkenalan antara anggota IKMAA, setelah pekenalan, dilanjutkan dengan pembagian kelompok makrab. Kelompok ini berjumlah 4 buah dengan masing-masing angotanya sebanyak 5-6 orang. Kemudian masing-masing kelompok diminta untuk membuat yel-yel serta menampilkan suatu atraksi pada acara pentas seni nanti.
Sembari menunggu masing-masing kelompok menyiapkan penampilannya, pengurus kemudian menyiapkan api unggun, setelah api menyala, masing-masing kelompok secara bergiliran menampilkan yel-yel, orasi dan puisi. Ketika sedang asyik menimati pentas seni, tiba-tiba angin berhembus sangat kencang ke arah kami. Kemudian disusul dengan rintik-rintik hujan yang mulai berjatuhan. Tanpa menunggu instruksi, semua peserta makrab lalu membubarkan diri sambil membawa peralatan makrab dan tas menuju pendopo di dekat warung. Sembari menunggu hujan reda, peserta makrab terlihat asyik bernyanyi bersama diiring petikan gitar.
Lima menit telah berlalu, angin mulai stabil dan berhembus normal. Disaat bersamaan, hujan juga telah selesai menjatuhkan butiran airnya ke atas tanah. Sambil mengumpat di dalam hati “dasar hujan bajingan hanya numpang lewat”, kami pun kembali memasang sound system dan lampu di tepi pantai. Setelah semua telah siap, acara dilanjutkan kembali. Kami lalu mengadakan game joget sarung. Semua peserta makrab mengelilingi sound system dan lampu. Kemudian musik dinyalakan. ketika suara musik yang keluar dari sound sedang menggema, semua peserta lalu berjoget ria. Koordinator lapangan yang memipin jalannya joget sarung kemudian mengalungkan sarung kepada salah satu peserta. Kemudia peserta itu joget sambil berjalan mencari peserta yang lain yang akan dikalungkan sarung. Ketika musik berhenti, peseta yang kedapatan masih berkalung sarung akan dihukum sesuai dengan permintaan peserta makrab yang lain. Hukumannya pun bermacam macam, ada yang disuruh untuk gombalin lawan jenis, disuruh joget di tengah peserta, dan ada juga yang disuruh menyanyikan sebuah lagu.
Ketika waktu menunjukkan pukul 24.00 WIB, game joget sarung pun selesai, lalu dilanjutkan dengan bakar jagung dengan menggunakan bara dari api unggun yang tadi menyala. Setelah selesai menyantap jagung, peserta lalu mulai meninggalkan api unggun untuk beristirahat. Ada juga peserta yang tidak langsung tidur, mereka bermain gitar sambil bernyanyi. Ada juga yang sedikit menjauh dari keramaian dan terlibat obrolan serius (entah apa yang diobrolin). Tak sedikt juga peserta yang bergadang semalam suntuk untuk menjaga tenda serta barang-barang yang lain.
Mentari pagi menyapa peserta makrab dengan kehangatan dan cahaya silau yang lembut. Kami pun langsung bangun lalu menikmati sunrise dari bibir pantai dengan mata telanjang. Ketika puas mengabadikan momen yang indah tersebut melalui kamera dan gadget masing-masing. Kami kemudian melakukan senam Jambi di pinggir pantai. Setelah itu, kami langsung mengadakan outbond yang sebelumnya sudah dipersiapkan oleh pengurus. Outbond melibatkan semua peserta sesuai dengan kelompok yang telah dibagi tadi malam. Jenis game yang dimainkan ada 4, joget balon, ular balon, memasukkan paku dalam botol dan yang terakhir oper tepung.
Puas dan lelah menjalani outbond yang seru, kami lalu berlari ke arah pantai untuk menceburkan diri bersama. Ada yang berenang di tepi pantai sambil bermain ombak, ada juga yang hanya berani bermain air di bibir pantai karena tidak bisa berenang. Setelah asyik bermain air laut, kami menuju toilet umum untuk mandi.
Kami lalu merapikan barang-barang pribadi dan peralatan makrab karena rangkain kegiatan makrab telah selesai dilalui. Sebelum pulang, kami terlebih dahulu menyantap sarapan. Setelah perut terisi dan energi telah kembali, kami berfoto bersama di bibir pantai. Setelah itu, kami bersiap-siap untuk pulang.
Dengan kondisi fisik yang sudah kelelahan dan mata yang sayu karena bergadang, kami pulang membawa cerita dan kenangan masing-masing. Pengalaman ini yang akan menjadi bukti dan sejarah bahwa kami pernah ada disini. IKMAA Yogyakarta pernah hidup dan berkembang di bumi Jogja istimewa.
*Ketua Umum
IKMAA Yogyakarta periode 2016-2017.

Joss
BalasHapusKurang menarik tempelate nya
BalasHapus