jika membaca adalah memburu, maka menulis adalah mengikat buruan tersebut (Imam Al-Ghazali)

Jumat, 03 November 2017

BUNGKAM APATISME MAHASISWA

Oleh : Paidillah (aktivis milenial)

"berikan aku sepuluh pemuda maka akan ku goncangkan dunia tetapi berikan aku 100 orang tua maka akan aku cabut gunung Semeru dari akar-akarnya" Soekarno

Saya rasa ini ungkapan sang proklamator yang sangat tepat untuk menjadi pembuka tulisan ini,  pada zaman yang serba elektronik ini generasi muda Indonesia di manjakan dengan berbagai macam gandjet ada yang gedjet versi positif dan ada versi negatif hal demikian tidak dapat kita hindarkan lagi karena negara kita sudah menerima pasar bebas jadi memang bebas semuanya serba bebas.

Generasi elektronik ini tidak hanya merasuki pola pemikiran orang dewasa akan tetapi juga mempengaruhi terhadap anak-anak yang seharusnya belum layak untuk mengenal itu. 

Pemuda hari ini adalah pemimpin yang akan datang bagaimana mau menjadi seorang pemimpin jika kita hari ini tidak mau mengerti akan keadaan lingkungan sekitar kita, bahkan banyak generasi muda Indonesia hari ini yang tidak ingin tau (apatis) akan keadaan lingkungan sekitarnya, ruang-ruang publik yang ada di kampus seharusnya di manfaatkan untuk saling bertukar fikriran (diskusi) tetapi realita nya hari ini ruang publik kampus di isi dengan kesibukan individu masing-masing bahkan di dalam satu perkumpulan atau kelompok pun kita tidak lagi ingin menanyakan kabar teman di samping kita tetapi kita menanyakan sudah sampai level berapa kamu nge-game hari ini, ini mungkin langkah awal kolonialisme untuk menjajah indonesia secara tidak langsung dengan cara menciptakan generasi muda yang apatis, banyak dari ilmuwan Indonesia di manfaatkan oleh orang-orang barat untuk meneliti apa yang di butuhkan di Indonesia saat ini dan itu dijadikan bahan kolonial untuk menjajah indonesia contoh: Indonesia butuh kendaraan yang ceapat di ciptakan kendaraan yang cepat oleh orang-orang barat dan hal seperti itu tidak di manfaatkan baik oleh generasi muda Indonesia sehingga menimbulkan hal yang tidak bagus terhadap generasi muda Indonesia.

Saya rasa hari ini sebagian kampus sudah cukup bagus memberikan solusi kepada generasi muda Indonesia dengan ada atau membebaskan mahasiswa/i nya untuk berorganisasi. Hari ini wadah yang paling tepat untuk menciptakan generasi yang produktif adalah organisasi karena organisasi lah lingkungan yang sangat mensupport pemuda untuk berfikir dan kreatif. Dan saya rasa tawaran organisasi hari ini juga sudah cukup baik. Adanya organisasi ekstra dan intra tinggal kita untuk memilih mana yang lebih tepat untuk kita berekspresi dan mana yang lebih relevan untuk mengembangkan ideologi kita, menyanggah dari tulisannya Husni sy yang beranggapan bahwa organisasi ekstra (organisasi daerah) saat ini tidak mempunyai daya tawar yang lebih akan tetapi hanya untuk menguasai dan menjadi alat kepentingan individu saja. Hal ini sangat tidak satu pemahaman dengan penulis karena banyak organisasi daerah yang memberi kontribusi terhadap daerahnya misalkan organisasi daerah yang berada di luar daerah nya banyak yang sudah melakukan pemeran budaya dan pementasan tokoh daerahnya masing-masing. 

Organisasi daerah (Orda) hari ini hanya perlu perbaikan di bidang pengkaderan atau sistem pengkaderan yang lebih menarik dan merubah pola pemikir yang kesenioritasan. Organisasi daerah telah memberikan solusi yang tepat untuk generasi gadjet dan telah berupaya untuk menciptakan generasi yang peka akan kejadian di lingkungan sekitarnya dan salah satu langkah untuk membungkam generasi yang apatis saya rasa organisasi daerah telah memberikan jawaban yang tepat. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IKMAA YOGYAKARTA