jika membaca adalah memburu, maka menulis adalah mengikat buruan tersebut (Imam Al-Ghazali)

Sabtu, 11 November 2017

menjadikan peringatan hari -hari besar sebagai intropeksi dan refleksi bukan ceremonial kosong


Sejarah bangsa Indonesia memang tidak akan habisnya untuk dikaji, ibarat meminum air laut yang semakin diminum semakin terasa dahaga. Artinya akan selalu ada pembahasan baru yang muncul dalam setiap pengkajian sejarah tersebut. Hal itulah yang menjadi ketertarikan bagi sebagian anak bangsa untuk menelusuri samudara peristiwa masa lalu yang pernah dilayari oleh para pendahulunya.




Memang sebagai bangsa yang memiliki kekayaan alam tampaknya menjadi hal yang wajar untuk diperbutkan oleh negara yang berkekuatan, apalagi kondisi pada saat itu memang menuntut untuk mereka untuk menguasai sebuah negara, untuk menambah amunisi negaranya. Baik itu untuk kepentingan personal (dirinya) dan masyarakatnya (negara). Namun, walaupun demikian sebagai negara yang dikuasi yang tanpa kemajuan teknologi bangsa kita tidaklah hanya berpangku tangan tanpa perlawanan, melain memberontak dengan segala daya kemampuan yang dimilikinya. Memang sejarah telah menunjukkan bahwa bangsa kita mampu melawan negara yang lebih dulu maju dan mengenal berbagai macam teknologi untuk menundukkan negara lainnya.
Sejarah yang pernah terjadi tersebut sangatlah berpengaruh dalam perkembangan serta kemajuan bagi bangsa yang dijajah. 10 november menjadi salah satu bukti bahwa negara kita bukanlah tipikal negara yang lemah, hanya tunduk dan patuh terhadap para penjajah. melainkan sebuah negara kesatria yang melawan negara yang mendzolimi bangsanya. Walaupun diancam dan diserang tetap saja gigih dalam mempertahankan haknya sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.
Dahulu, Indonesia yang sudah sah menjadi sebuah negara merdeka tetap saja ingin dirampas kembali kemerdekaannya dan ingin dijadikan sebagai negara jajahan kembali . Katakanlah dari AFNEI (Allied Foreces Netherland East Indies) adalah salah satu kelompok dari tentara Inggris yang datang ke Indonesia pasa kemerdekaan Indonesia yang mengemban tugas untuk membebaskan tawanan japan, dan tentara japan yang kalah dalam peperangan untuk dipulangkan. Selain itu NICA (Netherland Indies Civil Administration) juga turut dalam memboncengi untuk mengembalikan negara Indonesia ketangan pemerintahan Hindia-Belanda sebagai negara jajahan. Atas hal itulah rakyat Indonesia menolak dan memberontak melawan tentara Inggris dari AFNEI dan NICA tersebut. sehingga meletuslah peperangan yang saat ini kita peringati sebagi hari pahlawan.
Perlawanan atas AFNEI dan NICA ini sebagai tanda bahwa bangsa kita bukanlah bangsa yang mudah menyerah, lemah serta tunduk dan patuh kepada penjajah tapi sebagai bangsa yang mempunyai keyakinan yang kuat, berteguh pendirian dan melawan segala macam bentuk penjajahan yang tidak menghargai nilai kemanusian.
Sejarah telah berlalu, sekarang hanya tinggal kenangan, namun bukan berarti diabaikan serta dilupakan keberadaannya tapi harus diambil semangatnya dan tetap melanjutkan perjuangannya. Semangat yang sama, tujuan yang sama demi tercapainya cita-cita bersama sebagai mana yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 itulah yang mesti ditanamkan dalam sanubari kita semua. 10 November kemarin tampak diseluruh penjuru Indonesia merayakan hari kebesaraannya yakni hari pahlawan. Dengan ditetapkannya hari pahlawan ini harusnya dapat mengobarkan semangat kita semua untuk tetap mempertahankan jiwa kesatria yang pernah dilukiskan dalam tinta sejarah bangsa Indonesia. Kenapa demikian ? disamping hal lain, juga memang sampai saat inipun penjajahan masih berlangsung dalam negara kita tapi dalam bentuk yang berbeda.
Melihat fenomena yang terjadi saat ini, sudah seharusnya hari-hari besar seperti hari Palawan ini bukan sekedar peringatan ceremonial tahunan yang kosong tanpa isi dan tanpa refleksi melainkan harus dijadikan sebagai momentum untuk melihat kembali kebelakang dan mengambil pelajaran untuk melangkahkan kaki kedepan. Karena bernostalgia dengan sejarah tanpa memetik hikmah hanya akan merugikan kita semua, karna sejarah telah membuktikan bahwasanya negara yang hebat, berkembang serta maju dalam segala lini saat ini menjadikan sejarahnya sebagai acuan untuk membangun kembali negaranya dari keterpurukan menuju negara yang maju dalam IPTEK sebagai mana yang kita nikmati saat ini.
Selain dari pada itu, Dzolim kiranya jika kita hanya menikmati jerih payah para pahlawan tanpa melanjutkan perjuangannya, lebih ironisnya jika semua itu dirusak baik itu dengan tindakan apatis terhadap kondisi yang sedang mencekik bangsa ini. Menanam jiwa nasionalisme kepada seluruh masyarakat Indonesia memang menjadi proyeksi, karena dari sanalah tindakan-tindakan yang merusak bangsa ini sedikit terendam. Nah, salah satu cara akan hal itu yakni dengan mengkaji dan menelaah kembali sejarah bangsa ini. Oleh karena itu bungkarno pernah mengatakan “jas merah, jangan melupakan sejarah”.
Sebagai generasi saat ini yang hidup di era Digital dengan pesatnya kemajuan dunia industri bukan berarti tanpa ada rintangan yang kita hadapi, bahkan  jika kita bandingkan perjuang terdahulu belumlah seberapa jika dibandingkan dengan perjuangan kita saat ini. Bukan saja moralitas tapi juga spiritualitas yang sedang kita hadapi saat ini. Dampak dari pada modernisasi dan globalisasi ini juga dapat kita rasakan dari ranah pergeseran budaya. sekarang eranya westernisasi, artinya segala macam bentuk yang datang dari barat tanpa melihat keselarasan antara etika, budaya dan kebiasaan  tetap saja akan diikuti dengan alasan “Trend”.  Sehingga terlihatlah dekadensi moral dan spiritual yang sedang dialami bangsa ini. Untuk itulah para terdahulu mengingatkan kita bahwa perjuangan mereka mudah,hanya mengusir kolonialisme dan imperialisme, tapi perjuangan setelahnya akan lebih berat, karena bukan saja melawan negara lain tapi juga melwan bangsa sendiri.
Untuk melawan hal itu kembali lagi kita harus melihat  sejarah yang pernah terjadi pada bangsa kita. Kerja paksa dahulu apa beda dengan keadaan buruh, guru, petani, dan lain-lainya saat ini, belum lagi jika kita melihat ke ranah lainnya. Untuk itulah sejarah menjadi instrument penting dalam sebuah negara untuk menjadi lebih baik. Sejarah juga merupakan suatu tubuh yang  disana terdapat identitas, karakter jika diabaikan apalagi menghilangkan keberadaannya makan hilang jugalah jai diri bangsa kita. Dengan begitu akan mudah bagi negara asing untuk mempengaruhi bangsa kita untuk menjadi budaknya. Selain itu sejarah juga dapat memunculkan ide atau gagasan baru untuk menuntaskan permasalah yang sedang kita hadapi.
Sayang seribu sayang negara yang memiliki banyak sejarah dalam  pentas perjalanannya tidak dikaji dan diambil hikmahnya seperti bangsa Indonesia ini. Dari pengalaman pengalam bangsa ini kiranya kita dapat bangun kembali bangsa kita yang sempat berada dalam zona degradasi moril dan spiritual ini. Pahitnya sejarah jangan sampai dirasakan oleh generasi selanjutnya, gelapnya sejarah jangan sampi membutakan mata kita untuk tetap melanjutkan perjuangan. Karena Sejarah adalah pengalaman, pengalaman adalah guru terbaik dalam hidup kita, untuk itu jangan lupakan sejarah !,teruslah berjuang putra putri bangsa.

Jum’at, 10 November 2017
Selamat hari pahlawan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IKMAA YOGYAKARTA