jika membaca adalah memburu, maka menulis adalah mengikat buruan tersebut (Imam Al-Ghazali)

Senin, 13 November 2017

Mencari Landasan Gerak di Jaman Now



Mencari asal muasal suatu hal atau benda memang menarik untuk dikaji bahkan ia  tidak  terbatas oleh ruang dan waktu sehingga menjadikannya tetap seksi dan hangat untuk diperbincangkan. Kita lihat fenomena jauh sebelum kita ada, para filosof telah memperdebatkan permasalahan yang "tidak penting" menurut kalangan awam, yang mana mereka sejatinya tidak memahami kemana arah atau apa output (hasil) dari perdebatan tersebut. Seperti perdebatan yang pernah terjadi dulu yakni antara idea dan materi.

Mereka (Filsuf-filsuf) dengan kemampuannya memberikan argumentasi yang kuat untuk menjawab dan membantah argumentasi lawan debatnya, walau tak kunjung usai dikarenakan masing-masing diantara mereka memiliki landasan dan cara berfikir yang khas dan memang berbeda dalam memandang suatu objek, sehingga lalu mempengaruhi sudut pandangnya. Dari fenomena tersebut walaupun dianggap tidak penting namun, begitu signifikan pengaruhnya dalam dunia keilmuan, teknologi, ekonomi, sosial maupun politik dewasa ini.

Idea dan materi adalah unsur pokok dalam dunia filsafat, keduannya memiliki definisi sendiri akan objek yang akan dituju, begitulah menurut salah satu ilmuan. Orang yang menganggap bahwa perubahan sesuatu itu berdasarkan ide adalah meraka kaum idealisme dan meraka yang menganggap bahwa perubahan sesuatu itu disebabkan oleh benda, maka dikategorikan kaum materialisme.

Dua pandangan ini memang tidak akan pernah berdamai satu sama lainnya bahkan sampai kucing bertanduk. Tetapi perlu kita ketahui juga bahwasanya bermula dari perbedaan pandangan ini nampaknya berpengaruh betul terhadap orang yang menjalani kehidupannya menurut pahamnya. Salah satunya memang cara berfikir dan tindakannya. Berfikir dan bertindak memang sejatinya yang harus bahkan memang sesuatu yang memang ada dalam diri setiap manusia sedari ia dilahirkan. Dari dua pemahaman tadi (idealisme dan materialisme) lah yang akan mempengaruhi fitrahnya dikemudian hari.

Idealisme menganggap sesuatu itu berasal dari ide dan materialisme menganggap sesuatu itu dari materi namun bukan berarti pemahan itu berhenti diarena perdebatan yang hanya mencari siapa yang benar dan salah melainkan digunakan untuk landasan geraknya. Jika teori-teori tersebut hanya berhenti diatas meja lalu apa bedanya sama anak-anak yang memperdebatkan, "mana yang lebih dulu ayam atau telor ?"

Begitu pentingnya landasan dalam bergerak, maka dituntut untuk kita mencari tau yang mana lebih pas dan sesuai dengan tujuan kita, supaya tidak terjadi kekeliruan dalam berpikir dan bertindak, yang nantinya akan berujung pada terlindas oleh kemajuan zaman. Jika tidak adanya landasan sesorang dalam bergerak dapat dikatakan orang tersebut adalah mayat berjalan yang tidak tau arah dan  tujuan. Juga penting, tidak menutup sebelah mata juga, artinya fanatik terhadap salah satu landasan sehingga lalu menyalahkan landasan yang berbeda dengan yang kita ambil.  ada porsinya masing-masing, kapan kita mesti memakai idealisme dan kapan kita menggunakan materialisme. Memaksakan salah satu untuk seluruh alasan akan memunculkan kekeliruan dalam berfikir dan bergerak.  Keduanya memiliki porsinya masing-masing.

Idealisme dan materialisme memiliki keterbatasan masing-masing dan tidak dapat dipaksanakan oleh karena itu kita harus bijak dalam menggunakan kedua landasan ini untuk melihat objek , permasalahan atau dunia ini. jika sama antara teori dan permasalahannya maka akan terselesaikan. Tapi jika bertolak belakang antara objek dan teorinya maka sukar untuk dapat diselesaikan.

perdebatan siapa dan yang mana salah dan benar antara idealisme dan materialisme memang mengasyikan karena dari sana jugalah muncul ide-ide baru. Jika nantinya sesuatu yang datang dari idealisme lebih efektif dan efisien dalam pengimplementasiannya kenapa tidak, begitupun sebaliknya bagi materialisme.

 keterbukaan dan pengkritisan keduanya merupakan suatu cara  untuk menambah keefektifan dalam mencari landasan gerak yang akan kita gunakan dalam menghadapi semua permasalahan.  Pengkritisan kedua landasan tersebut selain menghindari dari pengtaklitan juga dapat menemukan teori-teori baru lalu di implementasikan.

Negara-negara maju tidak lagi memperdebatkan "mana yang dahulu antara ayam dan telur" lagi tapi sudah ke ranah pengaplikasian dari teori-teori yang bermula dari idealisme dan materialisme tersebut. Untuk itu marilah sama-sama kita bangun dan bergegas untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain.  perlu kita ingat bahwasanya bangsa kita juga memiliki sejarah keemasannya. Untuk itu mari kita gali kembali sejarah-sejarah yang pernah terjadi di bangsa kita sebagai acuan untuk melangkah ketahap selanjutnya. Tanpa menutup mata juga mempelajari sejarah dan keilmuan dari negara-negara lain.

Landasan gerak memang begitu penting untuk kita gunakan dalam segala hal baik itu yang berhubungan dengan garis vertikal maupun garis horizontal (tuhan dan manusia). Karenanya apa yang kita lakukan nantinya dapat kita pahami alasannya, mengapa kita harus melakukan. Jika begitu yang terjadi bukan saja hanya mampu dalam melaksananya tapi akan hadir keikhlasan, kesabaran dan totalitas dalam proses pelaksanaannya, sehingga lalu keterealisasian serta kesukseskan dalam mewujudkan cita-cita benar-benar menjadi nyata dengan segala macam bentuk perubahan kemajuan Baik dalam hal spiritualitas maupun moralitas .

tanpa mendikatomikan salah satu landasan tersebut juga menjadikan kita lebih bijaksana dan memberi ruang untuk landasan lainnya agar dapat berekpresi menurut pemahaman penganutnya. Selanjutnya adalah landasan yang digunakan tetap bermuara kepada kemaslahatan bersama, karena  sejatinya semua landasan atau pokok fikiran manusia itu dituangkan bukan hanya untuk kesenangan sementara dan hanya untuk individu (serakah) melainkan untuk memaksimalkan peran manusia dalam mengemban tugasnya sebagai khalifah di bumi.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IKMAA YOGYAKARTA