jika membaca adalah memburu, maka menulis adalah mengikat buruan tersebut (Imam Al-Ghazali)

Kamis, 16 November 2017

SURAT UNTUK MUSUH

Sebuah Puisi dari Seorang Aktivis Muda (Paidillah)

Apa kabar musuhku ?
Lagi-lagi dalam pembacaanku
sampai juga aku di ali imran
Ayat seratus tiga dan seratus lima 
Dan di saat itu pula 
Kerinduan ini semakin megelora 
Untuk mengingatkan ku kepadamu
Dari tempat yang tidak engkau ketahui ini
Aku berdo’a untukmu
Semoga engkau baik-baik saja
Dan selalu dalam perlindungan tuhan 
Yang mungkin masih tak kau percaya
Ya, engkau tidak bisa menolak dari lindungan-nya
Meski engkau terus menerus memungikiri-nya
Sunguh aku tidak bermaksud bersembunyi
Tetapi aku hanya mengasingkan diri untuk sementara waktu
Akan tiba saatnya nanti kau akau kutemui
Untuk kita kembali berduel lagi
Sungguh aku sangat merindukan pertarungan kita, musuhku
Pertarungan yang menjadi saksi bahwa tiada satupun 
Permusuhan yang sejati maupun pertemanan
Bahwa kau adalah musuhku yang menyerang ku 
Dari depan mataku
Sedangkan teman 
Bisa saja menikam ku dari belakangku

Jogjakarta, 16 november 2017
Ruangan gelap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IKMAA YOGYAKARTA