Seminggu setelah makan siang itu, aku mulai memberikan
perhatian yang lebih banyak keleha. Entah leha menaruh hati layaknya perasaanku
padanya ataupun tidak. Tapi aku sama-sekali tidak menghiraukan itu, bagiku
dekat dan akrab dengannya sudah membuat aku bahagia. Perasaan cinta yang
mendalam kupendamkan dalam hati, kubiarkan ia menjadi api penyemangat dalam
setiap aktifitasku.
banyak teman yang mengatakan bahwa aku salah, bodoh,
dan konyol tidak berani mengungkapkan perasaan secara langsung. Tapi bagiku itu
semua tidak benar. Tidak semuanya harus diucapkan dengan rayuan dan gombalan,
terkadang kita juga perlu jalan yang berbeda untuk mengungkapkan perasaan
terhadap seseorang. Dan aku memilih jalanku sendiri, semua tindakan yang
kulakukan selama ini semuanya merupakan bentuk cinta dan kasihku terhadap leha.
Aku mempelajari banyak tentang leha, dia seorang muslimah yang taat. Mahasiswi
universitas islam, dan seorang aktifis pembela kaum perempuan.
Aku terus berusaha memperbaiki diriku agar menjadi
lebih baik dan tidak membuat jarak jodoh
antara aku dan dia. Setidaknya itulah yang aku ketahui dari firman Allah
SWT “perempuan-perempuan yang keji
untuk laki-laki yangkeji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan
yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang
baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula)”. (QS.
An-Nur:26). Walaupun ide dasarnya ayat ini menjelaskan kesucian ‘aisyah ra.
terhadap fitnah yang ditujukan padanya
dan safwan. Tapi karna al-Quran adalah pedoman hidup bagi umat manusia maka
bagiku ini adalah petunjuk dalam mencari pasangan hidup.
Masa perkuliahan
semerter tiga telah habis, setelah ujian minggu lalu. Transkrip nilainya sudah
keluar dan bisa di cek oleh para mahasiswa di akun SIA (sistem akademik)
masing-masing. Untuk semester ini nilai rata-rataku tidak mengecewakan, hampir sama
dengan dua semester yang telah kulalui. meski
belum berhasil mencapai IPK empat, aku tidak merasa kecewa dengan hasil ini. Buatku
nilai ini sudah cukup berharga bagi aku yang mahasiswa nyambi kerja. Aku bersyukur
atas nikmat yang telah Allah berikan padaku.
malam itu di kafe kebun laras aku dan teman-teman asyik
ngobrol panjang lebar mengenai arah perjalan organisasi kekeluargaan yang kami
miliki. dalam organisasi ini aku banyak mempelajari kehidupan. Ada canda, tawa,
cinta, bahkan sampai pada tangisan. Aku memesan kopi hitam dan segelas air
putih hangat, saat aku mengangkat gelas kecil didepanku, ahmad dengan gaya tak
berdosanya bertanya dengan lantang:
“khes kau haus yo,?kalu haus minum air putih be jangan minum kopi”.
Sontak semua teman yang hadir dalam lingkaran kedamain
tertawa. Memang selain kurang suka untuk
memakai minyak rambut, aku juga mempunyai keunikan tidak bisa minum kopi dengan
perlahan. Menurutku kopi hanya akan terasa nikmat bila kita telah
menghabiskannya, biarkan dia menemani dalam tubuh, bukan dengan membiarkan dia
dingin dalam wadah yang tak berarti.
Minggu demi minggu, bulan demi bulan dan tahun pun
berganti. Tidak terasa, sudah hampir dua tahun aku tinggal diyogyakarta. Dan artinya
dalam kuliah, aku sudah menginjak semester empat, banyak hal yang sudah kulalui
selain dari kedekatan dan kegilaanku berbuat demi kebahagian leha. Ada suka, dan
ada juga duka yang pernah terjadi. Semua berjalan wajar dan mampu aku lewati. Hanya
saja aku merasakan, perubahan teman-teman yang makin tidak terkontrol. Ahmad semakin
tergila-gila dengan permainan PlayStationnya. Kadang dalam seminggu ia bisa bermain
hingga lima kali. Kuliahnya walau tidak amburadul, tapi ada sebagian nilai mata
kuliahnya yang jeblok. Indra masih lumayan, meski paling getol pacaran. Nilainya
cukup bagus, indek prestasinya masih diatas tiga. Dalam satu semester ia bisa
ganti pacar dua kali. Postur tubuhnya yang atletis ditunjang wajah tampannya
yang membuat indra digandrungi banyak mahasiswi di kampus. Bahkan kabarnya
sekarang ia sudah mulai membangun relasi ke kampus-kampus lain menjalankan
hobinya. Benar-benar hobi yang aneh dan tidak bersyariat.
“ndra, kayak mano nilai kuliah kau semester
tigo kemaren”? tanyaku.
“aman khes tetap terkendali. Aku besyukur dapat wajah
gagah dari tuhan.” Jawab indra sekenanya.
“Eeehhh, apo hubungannyo ndra?”
“khes, khes kauko lolo, Dengan wajah gagah aku ko,
aku mudah dapat akses jawaban. Hampir semuo cewek nyari perhatian aku. Makonyo,
mereko sampai bela-bela bikin contekan buatku bahkan ado
yang ngerjoi tugasku.”
“astagfirullah…. Ndra kauko dak pernah berubah
dari pondok dulu macamkola.”
“khes, hidupko pilihan kau nak mudah apo
nak susah?” indra bertanya.
“apo kato kaulah ndara e” aku menimpali.
“oohh yoo, kau ado nengok andi dak?”
“nah kaluko susah jawabnyo. Kito punyo
kesibukan masing-masing jadi susah nak ketemu terus. Kau serius
dengan belajar dan kerjo kau yang kato kau untuk Julaeha tu. Sedangkan dio sibuk dengan………. Ah, kagek
kau taulah dewek.” Indra sepertinya tidak mau meneruskan kata-katanya. Dia
langsung kabur kearah parkiran. Sudah ditungguin pacar katanya.
Sudah semenjak semester tiga aku memang jarang ketemu
andi. Hanya sesekali kami ngobrol dan itupun Cuma sebentar. Aku sendiri memang sibuk
dengan perkuliahan dan pekerjaanku. Hampir semua waktu luangku kuhabiskan untuk
bekerja. Terkadang aku mengikuti seminar-seminar mengenai kewirausahaan,
jalan-jalan bareng teman kerja. Aku tidak terlalu banyak bersentuhan dengan aktifitas
teman-temanku satu alumni. Satu sisi ada rasa minder saat jalan bersama mereka
karna mereka telah memiliki pasangan semua. Memang terkadang kami jalan-jalan dan
kumpul bersama, saat tidak ada kegiatan dan mereka lagi kosong agenda sama
pacarnya. Kami biasa menyewa PlayStation dan bermain gaplek. Kalau sudah kumpul
kami sering lupa waktu dan rasa capekku dalam bekerja menjadi hilang, terkadang
kami main sampai pagi. Bahkan andi pernah tidak ikut ujian karna bergadang
semalaman.
Kebiasan yang menggambarkan kami sebagai mahkluk
tempat bersemayamnya kesalahan dan kelupaan, padahal dalam Al-Quran Allah SWT
berfirman “demi masa. sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati
supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”
(Qs. Al-Ashr. 1-3). Ayat ini sering diperdengarkan dalam setiap kajian kami
dipondok dahulu. Namun, karna zaman dan makan kami yang dulu berbeda
dengan yang sekarang, sedikit banyak telah membawa perubahan dalam kehidupan
kami. Terkadang hanya air mata dan kesunyian malam saja yang mampu memahami
suasana bathinku ketika melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan sikap
santri pada umumnya.
bersambung,.............
Tidak ada komentar:
Posting Komentar