jika membaca adalah memburu, maka menulis adalah mengikat buruan tersebut (Imam Al-Ghazali)

Selasa, 09 Januari 2018

semua karna julaeha (2)


Seminggu setelah makan siang itu, aku mulai memberikan perhatian yang lebih banyak keleha. Entah leha menaruh hati layaknya perasaanku padanya ataupun tidak. Tapi aku sama-sekali tidak menghiraukan itu, bagiku dekat dan akrab dengannya sudah membuat aku bahagia. Perasaan cinta yang mendalam kupendamkan dalam hati, kubiarkan ia menjadi api penyemangat dalam setiap aktifitasku.

banyak teman yang mengatakan bahwa aku salah, bodoh, dan konyol tidak berani mengungkapkan perasaan secara langsung. Tapi bagiku itu semua tidak benar. Tidak semuanya harus diucapkan dengan rayuan dan gombalan, terkadang kita juga perlu jalan yang berbeda untuk mengungkapkan perasaan terhadap seseorang. Dan aku memilih jalanku sendiri, semua tindakan yang kulakukan selama ini semuanya merupakan bentuk cinta dan kasihku terhadap leha. Aku mempelajari banyak tentang leha, dia seorang muslimah yang taat. Mahasiswi universitas islam, dan seorang aktifis pembela kaum perempuan.

Aku terus berusaha memperbaiki diriku agar menjadi lebih baik dan tidak  membuat jarak jodoh antara aku dan dia. Setidaknya itulah yang aku ketahui dari firman Allah SWT  “perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yangkeji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula)”. (QS. An-Nur:26). Walaupun ide dasarnya ayat ini menjelaskan kesucian ‘aisyah ra. terhadap fitnah yang ditujukan  padanya dan safwan. Tapi karna al-Quran adalah pedoman hidup bagi umat manusia maka bagiku ini adalah petunjuk dalam mencari pasangan hidup.

 Masa perkuliahan semerter tiga telah habis, setelah ujian minggu lalu. Transkrip nilainya sudah keluar dan bisa di cek oleh para mahasiswa di akun SIA (sistem akademik) masing-masing. Untuk semester ini nilai rata-rataku tidak mengecewakan, hampir sama dengan dua semester yang telah kulalui.  meski belum berhasil mencapai IPK empat, aku tidak merasa kecewa dengan hasil ini. Buatku nilai ini sudah cukup berharga bagi aku yang mahasiswa nyambi kerja. Aku bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan padaku.

malam itu di kafe kebun laras aku dan teman-teman asyik ngobrol panjang lebar mengenai arah perjalan organisasi kekeluargaan yang kami miliki. dalam organisasi ini aku banyak mempelajari kehidupan. Ada canda, tawa, cinta, bahkan sampai pada tangisan. Aku memesan kopi hitam dan segelas air putih hangat, saat aku mengangkat gelas kecil didepanku, ahmad dengan gaya tak berdosanya bertanya dengan lantang:

“khes kau haus yo,?kalu haus minum air putih be jangan minum kopi”.

Sontak semua teman yang hadir dalam lingkaran kedamain tertawa. Memang selain kurang  suka untuk memakai minyak rambut, aku juga mempunyai keunikan tidak bisa minum kopi dengan perlahan. Menurutku kopi hanya akan terasa nikmat bila kita telah menghabiskannya, biarkan dia menemani dalam tubuh, bukan dengan membiarkan dia dingin dalam wadah yang tak berarti.

Minggu demi minggu, bulan demi bulan dan tahun pun berganti. Tidak terasa, sudah hampir dua tahun aku tinggal diyogyakarta. Dan artinya dalam kuliah, aku sudah menginjak semester empat, banyak hal yang sudah kulalui selain dari kedekatan dan kegilaanku berbuat demi kebahagian leha. Ada suka, dan ada juga duka yang pernah terjadi. Semua berjalan wajar dan mampu aku lewati. Hanya saja aku merasakan, perubahan teman-teman yang makin tidak terkontrol. Ahmad semakin tergila-gila dengan permainan PlayStationnya. Kadang dalam seminggu ia bisa bermain hingga lima kali. Kuliahnya walau tidak amburadul, tapi ada sebagian nilai mata kuliahnya yang jeblok. Indra masih lumayan, meski paling getol pacaran. Nilainya cukup bagus, indek prestasinya masih diatas tiga. Dalam satu semester ia bisa ganti pacar dua kali. Postur tubuhnya yang atletis ditunjang wajah tampannya yang membuat indra digandrungi banyak mahasiswi di kampus. Bahkan kabarnya sekarang ia sudah mulai membangun relasi ke kampus-kampus lain menjalankan hobinya. Benar-benar hobi yang aneh dan tidak bersyariat.

“ndra, kayak mano nilai kuliah kau semester tigo kemaren”? tanyaku.

“aman khes tetap terkendali. Aku besyukur dapat wajah gagah dari tuhan.” Jawab indra sekenanya.

“Eeehhh, apo hubungannyo ndra?”

“khes, khes kauko lolo, Dengan wajah gagah aku ko, aku mudah dapat akses jawaban. Hampir semuo cewek nyari perhatian aku. Makonyo, mereko sampai bela-bela bikin contekan buatku bahkan ado yang ngerjoi tugasku.”

“astagfirullah…. Ndra kauko dak pernah berubah dari pondok dulu macamkola.”

“khes, hidupko pilihan kau nak mudah apo nak susah?” indra bertanya.

apo kato kaulah ndara e” aku menimpali.

“oohh yoo, kau ado nengok andi dak?”

“nah kaluko susah jawabnyo. Kito punyo kesibukan masing-masing jadi susah nak ketemu terus. Kau serius dengan belajar dan kerjo kau yang kato kau untuk Julaeha tu.  Sedangkan dio sibuk dengan………. Ah, kagek kau taulah dewek.” Indra sepertinya tidak mau meneruskan kata-katanya. Dia langsung kabur kearah parkiran. Sudah ditungguin pacar katanya.

Sudah semenjak semester tiga aku memang jarang ketemu andi. Hanya sesekali kami ngobrol dan itupun Cuma sebentar. Aku sendiri memang sibuk dengan perkuliahan dan pekerjaanku. Hampir semua waktu luangku kuhabiskan untuk bekerja. Terkadang aku mengikuti seminar-seminar mengenai kewirausahaan, jalan-jalan bareng teman kerja. Aku tidak terlalu banyak bersentuhan dengan aktifitas teman-temanku satu alumni. Satu sisi ada rasa minder saat jalan bersama mereka karna mereka telah memiliki pasangan semua. Memang terkadang kami jalan-jalan dan kumpul bersama, saat tidak ada kegiatan dan mereka lagi kosong agenda sama pacarnya. Kami biasa menyewa PlayStation dan bermain gaplek. Kalau sudah kumpul kami sering lupa waktu dan rasa capekku dalam bekerja menjadi hilang, terkadang kami main sampai pagi. Bahkan andi pernah tidak ikut ujian karna bergadang semalaman.

Kebiasan yang menggambarkan kami sebagai mahkluk tempat bersemayamnya kesalahan dan kelupaan, padahal dalam Al-Quran Allah SWT berfirman “demi masa. sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Qs. Al-Ashr. 1-3). Ayat ini sering diperdengarkan dalam setiap kajian kami dipondok dahulu. Namun, karna zaman dan makan kami yang dulu berbeda dengan yang sekarang, sedikit banyak telah membawa perubahan dalam kehidupan kami. Terkadang hanya air mata dan kesunyian malam saja yang mampu memahami suasana bathinku ketika melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan sikap santri pada umumnya.


                                                                                                         bersambung,.............

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IKMAA YOGYAKARTA