Oleh: Winda Armila
Secara epistimologi narsistik berasal dari kata narcissistic.
Narsistik digunakan untuk menggambarkan orang yang mencintai dirinya sendiri.
Dalam batas tertentu, kecintaan pada diri sendiri bisa dianggap normal, tetapi
bila berlebihan dan bersifat mengganggu orang lain atau pun diri sendiri maka
dianggap penyimpangan atau gangguan kepribadian (Hardjanta, dalam Philip, 2007:
26).
Orang-orang dengan gangguan kepribadiaan narsistik memiliki
pandangan berlebihan mengenai keunikan dan kemampuan mereka, mereka berfokus
pada berbagai fantasi keberhasilan besar. Mereka menghendaki perhatian dan
pemujaan yang berlebihan yang hampir tanpa henti dan yakin bahwa mereka hanya
dapat dimengerti oleh orang-orang yang istimewa dan memiliki status tinggi. Orang-orang
dengan gangguan ini memiliki hambatan dalam Hubungan interpersonal hal tersebut
dikarenakan kurangnya empati, adanya perasaan iri dan arogansi dalam diri
mereka, mereka juga suka memanfaatkan orang lain serta perasaan bahwa mereka berhak
mendapatkan segala sesuatu yang mereka hendaki, mereka menginginkan orang lain melakukan
sesuatu yang istimewa untuk mereka tanpa tanpa perlu dibalas.
Mereka tidak pernah berhenti mencari perhatian dan pemujaan,
kepribadian narsistik sangat sensitif terhadap kritikan orang lain dan sangat
takut pada kegagalan. Kadang mereka mencari orang yang mereka idealkan karena
mereka merasa kecewa pada diri sendiri, namun mereka tidak mengizinkan siapapun
memiliki hubungan dekat yang tulus dengan mereka. Hubungan pribadi mereka hanya
sedikit dan dangkal. Bila orang lain sedikit saja kurang memenuhi harapan
mereka yang tidak realistis, mereka yang mengalami gangguan kepribadian
narsistik akan menjadi marah dan mereka akan menyingkirkan orang tersebut.
Orang-orang yang mengalami gangguan ini sebenarnya memiliki kemiskinan
kehidupan dalam dirinya karena, terlepas dari pengagungan diri sendiri, mereka
sebenarnya menganggap diri mereka sangat kecil.
Orang memiliki gangguan ini dari luar tampak memiliki perasaan luar
biasa akan pentingnya dirinya, sepenuhnya terserap kedalam dirinya sendiri, da
keberhasilan tanpa batas namun demikian diteorikan, karakteristik tersebut
merupakan topeng bagi harga dirinya yang sangat rapuh.
Penyebab
gangguan kepribadian narsistik
Orang yang menjadi sentral dalam minat terhadap narsisme di era
kontemporer adalah Heinz kohut, beliau telah menciptakan suatu farian
psikoanalisis yang dikenal sebagai self
psychology. Menurut kohut, diri muncul diawal kehidupan sebagai struktur
bipolar dengan grandiose yang tidak matang di suatu kutub dan idealisasi
berlebihan terhadap orang lain yang bersifat tergantung di kutub lainnya.
Gegagalan untuk mengembangkan harga diri yang sehat terjadi bila orang tua
tidak merespons dengan baik kompetensi yang titunjukan anak-anak mereka, yaitu
si anak tidak dihargai berdasarkan makna dirinya sendiri, namun dihargai
sebagai alat untuk membangun harga diri orang tua.
Bila orangtua merespon anaknya dengan penghargaan, kehangatan, dan
empati mereka menumbuhkan rasa makna diri yang normal dan harga diri yang sehat
pada si anak. Namun bila orang tua memenuhi kebutuhan mereka sendiri dan
bukannya secara langsung menghargai anak mereka, akibatnya, menurut kohut,
dapat berupa terbentuknya kepribadian narsistik.
Kriteria gangguan
kepribadian narsistik dalam DSM-IV-TR
Menurut DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders – Fourth Edition) terdapat lima atau lebih karakteristik dibawah ini
·
Pandangan
yang dibesar-besarkan mengenai diri sendiri, arogansi
·
Terfokus
pada keberasilan, kecerdasan dan kecantikan diri
·
Kebutuhan
ekstrim untuk dipuja
·
Perasaan
kuat bahwa mereka berhak mendapatkan segala sesuatu
·
Kecenderungan
memanfaatkan orang lain
·
Iri
pada orang lain
terapi
Kepribadian narsistik tentunya membutuhkan penanganan yang tepat
agar tidak berkembang menjadi sebuah gangguan yang dapat mempengaruhi segala
aspek kehidupan sosial seseorang. Berikut ini beberapa terapi atau pengobatan
yang dapat dilakukan.
psikoterapi
Psikoterapi adalah perawatan terbaik yang dapat dilakukan bersama
dengan psikolog maupun psikiater. Terapi ini nantinya akan membantu pasien
untuk bsia lebih peka kepada orang lain serta membantu pasien untuk bisa
memahami perasaan serta perilaku yang dilakukannya sendiri. Ada metode lainnya
yaitu Terapi
Perilaku Kognitif yang mana bisa membantu untuk menemukan
perilaku-perilaku yang kurang sehat dan mengubahnya ke bentuk perilaku yang
sehat. Ditambah lagi dengan pemberian obat-obat anti depresi yang terkadang
diberikan kepada pasien untuk bisa mengurangi depresi maupun kecemasan yang
dideritanya.
Referensi
Davison, Garden C, dkk. 2014. Psikologi Abnormal. Edisi kesembilan.
Jakarta: rajawali pers.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar