jika membaca adalah memburu, maka menulis adalah mengikat buruan tersebut (Imam Al-Ghazali)

Minggu, 29 April 2018

GANGGUAN KEPRIBADIAN NARSISTIK


Oleh: Winda Armila
Secara epistimologi narsistik berasal dari kata narcissistic. Narsistik digunakan untuk menggambarkan orang yang mencintai dirinya sendiri. Dalam batas tertentu, kecintaan pada diri sendiri bisa dianggap normal, tetapi bila berlebihan dan bersifat mengganggu orang lain atau pun diri sendiri maka dianggap penyimpangan atau gangguan kepribadian (Hardjanta, dalam Philip, 2007: 26).

Orang-orang dengan gangguan kepribadiaan narsistik memiliki pandangan berlebihan mengenai keunikan dan kemampuan mereka, mereka berfokus pada berbagai fantasi keberhasilan besar. Mereka menghendaki perhatian dan pemujaan yang berlebihan yang hampir tanpa henti dan yakin bahwa mereka hanya dapat dimengerti oleh orang-orang yang istimewa dan memiliki status tinggi. Orang-orang dengan gangguan ini memiliki hambatan dalam Hubungan interpersonal hal tersebut dikarenakan kurangnya empati, adanya perasaan iri dan arogansi dalam diri mereka, mereka juga suka memanfaatkan orang lain serta perasaan bahwa mereka berhak mendapatkan segala sesuatu yang mereka hendaki, mereka menginginkan orang lain melakukan sesuatu yang istimewa untuk mereka tanpa tanpa perlu dibalas.

Mereka tidak pernah berhenti mencari perhatian dan pemujaan, kepribadian narsistik sangat sensitif terhadap kritikan orang lain dan sangat takut pada kegagalan. Kadang mereka mencari orang yang mereka idealkan karena mereka merasa kecewa pada diri sendiri, namun mereka tidak mengizinkan siapapun memiliki hubungan dekat yang tulus dengan mereka. Hubungan pribadi mereka hanya sedikit dan dangkal. Bila orang lain sedikit saja kurang memenuhi harapan mereka yang tidak realistis, mereka yang mengalami gangguan kepribadian narsistik akan menjadi marah dan mereka akan menyingkirkan orang tersebut. Orang-orang yang mengalami gangguan ini sebenarnya memiliki kemiskinan kehidupan dalam dirinya karena, terlepas dari pengagungan diri sendiri, mereka sebenarnya menganggap diri mereka sangat kecil.

Orang memiliki gangguan ini dari luar tampak memiliki perasaan luar biasa akan pentingnya dirinya, sepenuhnya terserap kedalam dirinya sendiri, da keberhasilan tanpa batas namun demikian diteorikan, karakteristik tersebut merupakan topeng bagi harga dirinya yang sangat rapuh.

Penyebab gangguan kepribadian narsistik

Orang yang menjadi sentral dalam minat terhadap narsisme di era kontemporer adalah Heinz kohut, beliau telah menciptakan suatu farian psikoanalisis yang dikenal sebagai self psychology. Menurut kohut, diri muncul diawal kehidupan sebagai struktur bipolar dengan grandiose yang tidak matang di suatu kutub dan idealisasi berlebihan terhadap orang lain yang bersifat tergantung di kutub lainnya. Gegagalan untuk mengembangkan harga diri yang sehat terjadi bila orang tua tidak merespons dengan baik kompetensi yang titunjukan anak-anak mereka, yaitu si anak tidak dihargai berdasarkan makna dirinya sendiri, namun dihargai sebagai alat untuk membangun harga diri orang tua.

Bila orangtua merespon anaknya dengan penghargaan, kehangatan, dan empati mereka menumbuhkan rasa makna diri yang normal dan harga diri yang sehat pada si anak. Namun bila orang tua memenuhi kebutuhan mereka sendiri dan bukannya secara langsung menghargai anak mereka, akibatnya, menurut kohut, dapat berupa terbentuknya kepribadian narsistik.

Kriteria gangguan kepribadian narsistik dalam DSM-IV-TR

Menurut DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders – Fourth Edition) terdapat lima atau lebih karakteristik dibawah ini
·         Pandangan yang dibesar-besarkan mengenai diri sendiri, arogansi
·         Terfokus pada keberasilan, kecerdasan dan kecantikan diri
·         Kebutuhan ekstrim untuk dipuja
·         Perasaan kuat bahwa mereka berhak mendapatkan segala sesuatu
·         Kecenderungan memanfaatkan orang lain
·         Iri pada orang lain

terapi

Kepribadian narsistik tentunya membutuhkan penanganan yang tepat agar tidak berkembang menjadi sebuah gangguan yang dapat mempengaruhi segala aspek kehidupan sosial seseorang. Berikut ini beberapa terapi atau pengobatan yang dapat dilakukan.

psikoterapi

Psikoterapi adalah perawatan terbaik yang dapat dilakukan bersama dengan psikolog maupun psikiater. Terapi ini nantinya akan membantu pasien untuk bsia lebih peka kepada orang lain serta membantu pasien untuk bisa memahami perasaan serta perilaku yang dilakukannya sendiri. Ada metode lainnya yaitu Terapi Perilaku Kognitif yang mana bisa membantu untuk menemukan perilaku-perilaku yang kurang sehat dan mengubahnya ke bentuk perilaku yang sehat. Ditambah lagi dengan pemberian obat-obat anti depresi yang terkadang diberikan kepada pasien untuk bisa mengurangi depresi maupun kecemasan yang dideritanya.

Referensi
Davison, Garden C, dkk. 2014. Psikologi Abnormal. Edisi kesembilan. Jakarta: rajawali pers.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IKMAA YOGYAKARTA