jika membaca adalah memburu, maka menulis adalah mengikat buruan tersebut (Imam Al-Ghazali)

Jumat, 25 Mei 2018

Perang Terhadap Musuh Kemanusiaan di Bulan Ramadhan

Oleh: Qodri Syahnadi.

Beberapa hari silam, Bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Penetapan tanggal Harkitnas tersebut didasarkan pada kelahiran organisasi Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908. Peristiwa tersebut menjadi titik awal pergerakan nasional terhadap segala macam bentuk penindasan dan kejahatan yang dilakukan oleh Netherlands kepada masyarakat Hindia Belanda.

Jika kita melihat situasi nasional hari ini, rasanya kita tidak bisa menutup mata terhadap berbagai macam bentuk kejahatan yang ada. Ujaran kebencian, informasi hoaks, fitnah dan lain sebagainya merupakan bentuk kejahatan yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain. Kejahatan tersebut dilakukan di dua dunia sekaligus, yaitu dunia nyata dan dunia maya.

Di dunia maya, saat ini berseliweran berbagai macam ujaran kebencian, hoax dan intoleransi yang dilakukan sesama anak bangsa yang berbeda keyakinan, suku, agama, ras, budaya, dan pilihan partai politiknya. Terlebih, tahun ini merupakan tahun politik sehingga ada beberapa simpatisan salah satu calon yang berlaga di dalam pemilu menyerang lawan politiknya.

Situasi semakin memanas ketika kejahatan di dunia maya disaksikan oleh orang awam yang tidak mengetahui realitas yang sebenarnya. Banyak orang awam yang termakan informasi hoax dan ujaran kebencian sehingga mereka juga turut menyebarkan konten-konten negatif tersebut sehingga menjadikan dunia maya seperti arena perang yang riuh dan gaduh.

Dunia maya yang seharusnya menjadi alat komunikasi dan edukasi bagi masarakat berubah menjadi ladang yang berisi jerami kering yang siap terbakar apabila dipantik oleh api kebencian. Dan ini dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Orang-orang yag telah mematikan cinta dan kasih sayang sesama manusia dan kemanusaian di dalam jiwanya sehingga dia menganggap orang lain yang berbeda dengannya ialah musuh.

Apabila fenomena ini dibiarkan berlarut-larut, maka ini akan menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja. Seperti halnya sikap intoleransi dan radikalisme di dunia maya bisa meledak ke dalam dunia nyata dan mengakibatkan penyerangan terhadap orang yang berbeda pilihan keyakinan, politik dan lain sebagainya.

Untuk itulah diperlukan orang-orang yang dapat meredam ujaran kebencian dan hoaks di dunia maya. Melalui peringatan hari kebangkitan nasional ini, kita bangkit bersama untuk melawan ujaran kebencian, intoleransi, radikalisme, hoaks dan segala macam bentuk kejahatan lainnya di dunia maya. Terlebih peringatan hari kebangkitan nasional tahun ini bertepatan dengan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Jika Rasulullah dahulu melakukan peperangan terhadap musuh Islam pada bulan Ramadhan. Hari ini kita harus menyatakan perang terhadap musuh kemanusiaan. Musuh kemanusiaan ialah segala sesuatu yang dapat menghilangkan inti kemanusiaan berupa cinta dan kasih sayang  dari umat manusia seperti ujaran kebencian, hoaks dan lain sebagainya. Kita harus melawan segala bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Perlawanan terhadap kejahatan di dunia nyata salah satunya dengan cara memberikan edukasi bagi masyarakat baik melalui mimbar ceramah di masjid maupun di lembaga pendidikan formal seperti sekolah dan kampus. Edukasi tersebut berupa pemaknaan hakikat dari puasa Ramadhan, yaitu menahan. Bukan hanya menahan diri dari makan dan minum saja, tetapi menahan diri dari melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan melalui ujaran kebencian, hoaks, intoleransi, dan lain sebagainya.

Sedangkan perlawanan di dunia maya berupa penulisan konten-konten positif serta pesan-pesan perdamaian penuh cinta dan kasih sayang sehingga dunia maya dikembalikan kepada tujuan awalnya yaitu menjadi wahana komunikasi dan edukasi.

Yogyakarta, 22 Mei 2018.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IKMAA YOGYAKARTA