jika membaca adalah memburu, maka menulis adalah mengikat buruan tersebut (Imam Al-Ghazali)

Selasa, 10 September 2019

Asyura di Karbala menjadi Duka Siapa?



Oleh: Qodri Syahnaidi.

Pada tahun ini, bulan September tidak hanya menjadi sebuah momen bagi peristiwa berdarah yang pernah menghiasi perjalanan bangsa Indonesia, yaitu Gerakan September Tiga Puluh (Gestapu) atau lebih dikenal dengan istilah G30S PKI.

 Gestapu tersebut menjadi api yang memantik peristiwa genosida umat manusia yaitu pemusnahan massal anggota PKI maupun siapa saja yang disinyalir menjadi simpatisan PKI. Hingga hari ini, masih menjadi misteri siapa sebenarnya aktor atau dalang dibalik peristiwa tersebut.

Selain Gestapu, pada bulan september kali ini juga terdapat peristiwa besar yang menyangkut umat Islam. Peristiwa tersebut ialah Asyura.

Umat Islam sedunia biasanya memperingati hari Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram dengan berpuasa. Puasa itu dikenal dengan nama puasa Asyura. Singkat cerita, puasa Asyura ini dianjurkan oleh Nabi Muhammad karena pada hari itu Nabi Musa diselamatkan oleh Allah dari kejaran Fir’aun. Sebagai rasa syukur atas peristiwa tersebut, lalu nabi Musa pun berpuasa.

Selain peristiwa Nabi Musa pada hari Asyura tersebut, ternyata masih ada satu peristiwa lagi yang biasa diperingati oleh umat Islam, yaitu peristiwa Karbala. Peristiwa pembantaian Sayyidina Husein beserta keluarga dan pengikutnya ini pun memiliki banyak versi, sebagaimana beragamnya versi G30S PKI di Indonesia. Hanya Allah yang tahu versi mana yang benar.

Salah satu versi tentang tragedi Karbala ialah versi Sunni, sebagaimana dilansir dari islami.co bahwa K.H Husein Muhammad menceritakan tentang peristiwa Karbala dimulai ketika masyarakat Kuffah, Irak mengirim undangan kepada Sayyidina Husein di Mekkah untuk berangkat ke Kuffah dalam rangka memberikan dukungan dan membaiat Sayyidina Husein menjadi khalifah. 

Beberapa orang sahabat menyarankan Sayyidina Husein agar tidak memenuhi undangan tersebut karena berdasarkan pengalaman, bahwa tidak semua orang Kuffah itu jujur. Akan tetapi, Sayyidina Husein tetap bersikukuh memenuhi undangan tersebut. Beliau percaya bahwa warga Kuffah akan menepati janji mereka.

Sayyidina Husein akhirnya berangkat bersama dengan keluarga dan pengikutnya yang berjumlah 72 orang. Ketika di tengah perjalanan menuju Kuffah, tepatnya di tanah yang bernama Karbala, rombongan Sayyidina Husein dihadang oleh pasukan Yazid bin Muawiyah di bawah panglima Ubaidillah bin Ziyad. Pasukan tersebut dipimpin oleh Umar bin Saad dengan kekuatan lebih dari 3000 tentara dengan persenjataan lengkap.

Sayyidina Husein, keluarga, serta para pengikutnya kecuali sejumlah perempuan dan putranya, Ali Zainal Abidin As-Sajjad pun dibantai dan akhirnya syahid. Kepala Sayyidina Husein dipenggal dan ditaruh dalam mangkok besar lalu dibawa ke Damaskus dan diserahkan kepada Yazid bin Muawiyah. 

Beberapa waktu kemudian, Yazid menyerahkan kepala Sayyidina Husein kepada Zainab dan mengusirnya ke Mesir. Ada yang mengatakan bahwa kepala Sayyidina Husein dikubur di Mesir, sedangkan tubuhnya dikubur di Karbala.

Kemudian ada pula versi lain yang menceritakan tentang tragedi Karbala. Versi ini bisa dikategorikan sebagai versi Syiah.

Murtadha Muthahhari dalam bukunya yang berjudul Falsafah Pergerakan Islam, mengatakan bahwa gerakan Imam Husein bukanlah gerakan yang bersifat  ledakan, melainkan gerakan revolusi yang berlandaskan kesadaran dan sangat Islami. Adapun faktor dari gerakan Imam Husein ialah baiat, undangan dan amar ma’ruf nahi mungkar. Faktor yang ketiga-lah yang paling dominan sebagai landasan dalam gerakannya.

Imam Husein melihat Yazid bin Muawiyah adalah khalifah yang zholim serta tidak menjalankan nilai-nilai Islam. Kemudian Imam Husein bermaksud untuk menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar dengan cara menemui Yazid bin Muawiyah dan menyampaikan peringatan atas ketidakadilan yang dilakukannya.

Kemudian berangkatlah Imam Husein beserta keluarga dan pengikutnya tanpa persenjataan karena logika yang dipakai oleh Imam Husein bukanlah logika perang. Akan tetapi, ketika berada di tengah perjalanan, tepatnya di Karbala. Pasukan Yazid bin Muawiyah yang berjumlah sekitar 30.000 orang dengan tombak dan pedang menghadang rombongan Imam Husein. Kemudian Imam Husein beserta keluarga dan pengikutnya pun syahid.

 Imam Husein tidak menuliskan pesan peringatan atas kezholiman khalifah Yazid bin Muawiyah dengan pena dan kertas. Akan tetapi beliau menulis pesan tersebut dengan darah sucinya di atas tanah Karbala. Sampai hari ini, pesan yang ditulis dengan darah tersebut menjadi spirit bagi pejuang kemanusiaan untuk melakukan perlawanan terhadap segala upaya dehumanisasi.

Tentu masih banyak versi lain mengenai tragedi Karbala dan hanya Allah yang tahu mana yang benar. Akan tetapi sesuatu yang pasti kebenarannya ialah cucu Rasulullah, buah hati bunda Fatimah, Sayyidina Husein syahid di Karbala. 

Di Indonesia sendiri, ada suatu pemahaman yang berkembang di dalam masyarakat suku Jawa (mungkin juga dengan suku yang lain) bahwa mereka tidak dianjurkan untuk menikah di bulan Suro atau Asyura. Hal tersebut bukan karena Nyi Roro Kidul mantu pada bulan ini sebagaimana banyak dipersangkakan oleh orang lain sehingga menyebut pemahaman Suku Jawa ini syirik. Akan tetapi, itu dikarenakan bulan Suro itu adalah bulan duka karena dzurriyah Rasulullah, seseorang yang mengalir darah Rasulullah di dalam tubuhnya yaitu  Sayyidina Husein, terbunuh dan syahid pada bulan ini.

Sesuatu yang mengusik pikiran penulis ialah kenapa peringatan Asyura di Karbala hanya identik dengan sekte Islam Syiah saja? Tentu dapat dimengerti karena Imam Ali bin Abi Thalib beserta keturunannya memiliki kedekatan psikologis dan historis yang luar biasa dengan Muslim Syiah, khususnya di Iran. Hal itu karena putra Sayyidina Ali bin Abi Thalib menikah dengan putri raja Persia (Iran, Irak, dan sekitarnya) yaitu raja Rustum setelah raja tersebut meninggalkan agama lamanya yaitu Majusi dan memeluk Islam.

Seharusnya peristiwa Asyura di Karbala bukan hanya menjadi duka Syiah saja, akan tetapi peristiwa tersebut menjadi duka bagi umat muslim sedunia. Itu dikarenakan Imam Husein yang merupakan imam ketiga dalam mazhab Ahlul Bait (Syiah) adalah cucu Rasulullah. Selain itu, Sayyidina Husein juga merupakan anak dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang merupakan salah satu Khulafaurrasyidin

Peringatan atas syahidnya Sayyidina Husein tentu tidak perlu dengan mencambuk dan melukai diri sendiri sebagaimana yang biasa dilakukan oleh sebagian kecil Muslim Syiah, meskipun Ulama Syiah yang muktabar melarang perbuatan tersebut.

Saat ini di Indonesiaberkembang sebuah pemahaman bahwa peristiwa Asyura di Karbala adalah ajaran Syiah dan mesti dihindari oleh umat Islam di Indonesia. Menurut penulis, pemahaman tersebut terlalu picek dan ahistoris. Peristiwa Asyura di Karbala bukanlah menjadi duka bagi muslim Syiah saja. Akan tetapi, tragedi tersebut adalah duka bagi seluruh umat muslim sedunia.

Padamu ya Husein, kami berduka. Salam untukmu wahai cucu Rasulullah. Seseorang yang mengalir dalam dirinya darah Rasulullah.

Wallahu A’lam

Joglo Kopas, 10 September 2019 M. (10 Muharram 1440 H.)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IKMAA YOGYAKARTA