
Oleh: Qodri Syahnaidi.
Pada tahun ini, bulan September tidak hanya menjadi sebuah momen bagi peristiwa berdarah yang pernah menghiasi perjalanan bangsa Indonesia, yaitu Gerakan September Tiga Puluh (Gestapu) atau lebih dikenal dengan istilah G30S PKI.
Pada tahun ini, bulan September tidak hanya menjadi sebuah momen bagi peristiwa berdarah yang pernah menghiasi perjalanan bangsa Indonesia, yaitu Gerakan September Tiga Puluh (Gestapu) atau lebih dikenal dengan istilah G30S PKI.
Gestapu tersebut menjadi api yang memantik
peristiwa genosida umat manusia yaitu pemusnahan massal anggota PKI maupun siapa
saja yang disinyalir menjadi simpatisan PKI. Hingga hari ini, masih menjadi
misteri siapa sebenarnya aktor atau dalang dibalik peristiwa tersebut.
Selain Gestapu, pada bulan september kali
ini juga terdapat peristiwa besar yang menyangkut umat Islam. Peristiwa
tersebut ialah Asyura.
Umat Islam sedunia biasanya memperingati
hari Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram dengan berpuasa. Puasa itu
dikenal dengan nama puasa Asyura. Singkat cerita, puasa Asyura ini dianjurkan
oleh Nabi Muhammad karena pada hari itu Nabi Musa diselamatkan oleh Allah dari
kejaran Fir’aun. Sebagai rasa syukur atas peristiwa tersebut, lalu nabi Musa pun berpuasa.
Selain peristiwa Nabi Musa pada hari
Asyura tersebut, ternyata masih ada satu peristiwa lagi yang biasa diperingati
oleh umat Islam, yaitu peristiwa Karbala. Peristiwa pembantaian Sayyidina
Husein beserta keluarga dan pengikutnya ini pun memiliki banyak versi,
sebagaimana beragamnya versi G30S PKI di Indonesia. Hanya Allah yang tahu versi
mana yang benar.
Salah satu versi tentang tragedi Karbala
ialah versi Sunni, sebagaimana dilansir dari islami.co bahwa K.H Husein
Muhammad menceritakan tentang peristiwa Karbala dimulai ketika masyarakat
Kuffah, Irak mengirim undangan kepada Sayyidina Husein di Mekkah untuk
berangkat ke Kuffah dalam rangka memberikan dukungan dan membaiat Sayyidina
Husein menjadi khalifah.
Beberapa orang sahabat menyarankan
Sayyidina Husein agar tidak memenuhi undangan tersebut karena berdasarkan
pengalaman, bahwa tidak semua orang Kuffah itu jujur. Akan tetapi, Sayyidina
Husein tetap bersikukuh memenuhi undangan tersebut. Beliau percaya bahwa warga
Kuffah akan menepati janji mereka.
Sayyidina Husein akhirnya berangkat bersama dengan keluarga dan pengikutnya yang berjumlah 72
orang. Ketika di tengah perjalanan menuju Kuffah, tepatnya di tanah yang
bernama Karbala, rombongan Sayyidina Husein dihadang oleh pasukan Yazid bin
Muawiyah di bawah panglima Ubaidillah bin Ziyad. Pasukan tersebut dipimpin oleh
Umar bin Saad dengan kekuatan lebih dari 3000 tentara dengan persenjataan
lengkap.
Sayyidina Husein, keluarga, serta para
pengikutnya kecuali sejumlah perempuan dan putranya, Ali Zainal Abidin
As-Sajjad pun dibantai dan akhirnya syahid. Kepala Sayyidina Husein dipenggal
dan ditaruh dalam mangkok besar lalu dibawa ke Damaskus dan diserahkan kepada
Yazid bin Muawiyah.
Beberapa waktu kemudian, Yazid
menyerahkan kepala Sayyidina Husein kepada Zainab dan mengusirnya ke Mesir. Ada
yang mengatakan bahwa kepala Sayyidina Husein dikubur di Mesir, sedangkan
tubuhnya dikubur di Karbala.
Kemudian ada pula versi lain yang
menceritakan tentang tragedi Karbala. Versi ini bisa dikategorikan sebagai
versi Syiah.
Murtadha Muthahhari dalam bukunya yang
berjudul Falsafah Pergerakan Islam, mengatakan bahwa gerakan Imam Husein
bukanlah gerakan yang bersifat ledakan,
melainkan gerakan revolusi yang berlandaskan kesadaran dan sangat Islami.
Adapun faktor dari gerakan Imam Husein ialah baiat, undangan dan amar ma’ruf
nahi mungkar. Faktor yang ketiga-lah yang paling dominan sebagai landasan
dalam gerakannya.
Imam Husein melihat Yazid bin Muawiyah
adalah khalifah yang zholim serta tidak menjalankan nilai-nilai Islam. Kemudian
Imam Husein bermaksud untuk menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar dengan
cara menemui Yazid bin Muawiyah dan menyampaikan peringatan atas ketidakadilan
yang dilakukannya.
Kemudian berangkatlah Imam Husein beserta
keluarga dan pengikutnya tanpa persenjataan karena logika yang dipakai oleh
Imam Husein bukanlah logika perang. Akan tetapi, ketika berada di tengah perjalanan,
tepatnya di Karbala. Pasukan Yazid bin Muawiyah yang berjumlah sekitar 30.000
orang dengan tombak dan pedang menghadang rombongan Imam Husein. Kemudian Imam
Husein beserta keluarga dan pengikutnya pun syahid.
Imam Husein tidak menuliskan pesan peringatan
atas kezholiman khalifah Yazid bin Muawiyah dengan pena dan kertas. Akan tetapi
beliau menulis pesan tersebut dengan darah sucinya di atas tanah Karbala.
Sampai hari ini, pesan yang ditulis dengan darah tersebut menjadi spirit bagi
pejuang kemanusiaan untuk melakukan perlawanan terhadap segala upaya
dehumanisasi.
Tentu masih banyak versi lain mengenai
tragedi Karbala dan hanya Allah yang tahu mana yang benar. Akan tetapi sesuatu
yang pasti kebenarannya ialah cucu Rasulullah, buah hati bunda Fatimah,
Sayyidina Husein syahid di Karbala.
Di Indonesia sendiri, ada suatu pemahaman
yang berkembang di dalam masyarakat suku Jawa (mungkin juga dengan suku yang
lain) bahwa mereka tidak dianjurkan untuk menikah di bulan Suro atau Asyura.
Hal tersebut bukan karena Nyi Roro Kidul mantu pada bulan ini
sebagaimana banyak dipersangkakan oleh orang lain sehingga menyebut pemahaman
Suku Jawa ini syirik. Akan tetapi, itu dikarenakan bulan Suro itu adalah bulan
duka karena dzurriyah Rasulullah, seseorang yang mengalir darah
Rasulullah di dalam tubuhnya yaitu Sayyidina Husein, terbunuh dan syahid pada
bulan ini.
Sesuatu yang mengusik pikiran penulis
ialah kenapa peringatan Asyura di Karbala hanya identik dengan sekte Islam
Syiah saja? Tentu dapat dimengerti karena Imam Ali bin Abi Thalib beserta
keturunannya memiliki kedekatan psikologis dan historis yang luar biasa dengan
Muslim Syiah, khususnya di Iran. Hal itu karena putra Sayyidina Ali bin Abi
Thalib menikah dengan putri raja Persia (Iran, Irak, dan sekitarnya) yaitu raja
Rustum setelah raja tersebut meninggalkan agama lamanya yaitu Majusi dan
memeluk Islam.
Seharusnya peristiwa Asyura di Karbala
bukan hanya menjadi duka Syiah saja, akan tetapi peristiwa tersebut menjadi
duka bagi umat muslim sedunia. Itu dikarenakan Imam Husein yang merupakan imam
ketiga dalam mazhab Ahlul Bait (Syiah) adalah cucu Rasulullah. Selain itu,
Sayyidina Husein juga merupakan anak dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang
merupakan salah satu Khulafaurrasyidin.
Peringatan atas syahidnya Sayyidina
Husein tentu tidak perlu dengan mencambuk dan melukai diri sendiri sebagaimana
yang biasa dilakukan oleh sebagian kecil Muslim Syiah, meskipun Ulama Syiah
yang muktabar melarang perbuatan tersebut.
Saat ini di Indonesiaberkembang sebuah
pemahaman bahwa peristiwa Asyura di Karbala adalah ajaran Syiah dan mesti
dihindari oleh umat Islam di Indonesia. Menurut penulis, pemahaman tersebut
terlalu picek dan ahistoris. Peristiwa Asyura di Karbala bukanlah
menjadi duka bagi muslim Syiah saja. Akan tetapi, tragedi tersebut adalah duka
bagi seluruh umat muslim sedunia.
Padamu ya Husein, kami berduka. Salam
untukmu wahai cucu Rasulullah. Seseorang yang mengalir dalam dirinya darah
Rasulullah.
Wallahu A’lam
Joglo Kopas, 10 September 2019 M. (10
Muharram 1440 H.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar