jika membaca adalah memburu, maka menulis adalah mengikat buruan tersebut (Imam Al-Ghazali)

Senin, 30 Oktober 2017

CTMP EPISODE 1



Sebelum saya mulai membuka cerita ini, saya ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu. ZAKHWAN, adalah nama yang diberikan kepada saya, seorang pemuda berdarah Bugis, kelahiran Riau, 02 Oktober 1995.

Sejak awal saya terfikir untuk menulis cerita ini, saya kebingungan akan memulainya dari mana, karena saya bukan seorang jurnalis pun bukan seorang pujangga yang pandai merangkai kata-kata melainkan seorang Mahasiswa aktif di salah satu Universitas di Yogyakarta yang mencoba mencari arah tujuan hidup yang tak kunjung berujung. Namun karena rasa gelisa yang teramat dalam yang terasa dalam jiwa yang hancur, saya putuskan untuk memulai cerita ini ketika awal saya menempuh pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) di sebuah kota bernama Jambi yang kemudian menghantarkan saya berjumpa dengan seorang wanita yang sempat menjadi penyemangat hidup saya untuk tetap bertahan didunia ini.

Tahun 2010, ialah awal dimana saya mulai menempuh pendidikan di sekolah menengah atas. Kota jambi yang terkenal dengan jargon kota santrinya itulah yang kemudian menjadi alasan kenapa saya memilih kota tersebut untuk melanjutkan pendidikan, walaupun harus saya akui bahwa pada awalnya saya tidak berminat untuk melanjut dikota tersebut melainkan karena paksaan dari orang tua. Pondok pesantren as’ad, itulah nama sekolah yang menjadi pilihan orang tua saya untuk menempah saya agar paham dan mendalami ilmu agama.

Rasa jenuh yang saya alami sejak hari pertama menjalani kehidupan sebagai sosok seorang santri yang selalu terikat dengan aturan-aturan yang membuat saya merasa tidak betah. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan hingga tidak terasa berganti tahun, kehidupan demi kehidupan terus saya lalui dengan rasa jenuh yang tak kunjung usai, hingga pada akhirnya saya melihat seorang wanita dari jendela kelas yang tak berkaca yang entah mengapa menggantikan kejenuhan ini menjadi rasa semangat yang begitu tinggi untuk menjalani kehidupan di pondok tersebut. Hidungnya, matanya, alisnya membuat saya teringat dengan sosok seorang Hayati dalam film tenggelamnya kapal Van Der Wijck. Sejak awal itulah saya merasakan sesuatu yang sangat dahsyat terjadi dalam hati ini.

Tidak menarik rasanya jika saya tidak menyebutkan sosok wanita tersebut dalam cerita ini, baiklah IRA namanya, wanita berdarah melayu kelahiran jambi 10 Oktober 1995 yang menjadi awal dari cerita ini.

Hari minggu, adalah hari yang sangat dinanti-nanti oleh semua santri untuk sejenak melepas lelah setelah seminggu menjalani aktivitas formal pondok, sebagian mereka ada yang menyuci pakaian, sebagian lainnya ada yang berolahraga, ada pula yang mengembangkan bakat-bakat mereka melalui kegiatan ekstra kulikuler seperti drum band, pramuka dll, disetiap hari itu pula lah yang menjadi jadwal rutin saya bersembunyi di balik jendela kamar dipojokan asrama yang penuh dengan tumpukan sampah yang menjadi penambah aroma semerbak sembari melihatnya menari menggunakan tongkat bendera warna-warni pada saat latihan drum band.

Sebagai seorang pemuda berdarah bugis, tak pantas rasanya jika saya melupakan pepatah nenek moyang yang menjadi pedoman hidup saya “sekali layar terkembang, pantang surut kebelakang”, pepatah ini lah yang kemudian membuat saya memberanikan diri mengungkapkan perasaan kepada wanita tersebut. Buku surat yang menjadi tradisi berpacaran ala pondok pun mulai merasuk kedalam fikiranku, akhirnya mulailah saya menulis sebuah surat pengungkapan hati saya kepada nya, tidak panjang yang saya utarakan… 

“ass… salam kenal Ira, aku Zakhwan, anak kelas 2 ipa B, maaf jika terpaksa aku harus menulis surat ini dan kutujukan kepadamu, entah mengapa semenjak aku melihatmu di jendela kelas yang tak berkaca itu seketika membuat kejenuhanku berada di pondok ini berubah menjadi semangat. Jujur semenjak itu aku mulai ada rasa dengan kamu, kucoba membendung rasa ini, namun kegelisahan yang aku dapatkan, maka dari kegelisan itulah aku ingin mengungkapkan perasaan ku kepadamu, Aku menyukaimu. Satu hal yang perlu kamu ketahui ra, saya tidak mungkin akan terbang jikalau sayap-sayapku belum utuh. Kutunggu jawaban darimu. By Zakhwan…”, tidak lupa aku tulis no hp pada akhir dari surat itu, setelah surat itu aku buat dengan penuh keyakinan bahwa Ira akan membalasnya dengan sesuatu yang tidak mengecewakan, ku taruh surat itu di bawah meja di tempat biasa dia duduk.

Lama kutunggu jawaban dari Ira, semenjak aku mengirimkan surat itu, lama aku tidak melihatnya lagi, menghilang entah kemana, yang sempat membuat aku berfikiran kalau dia marah dengan ku karna surat itu. Fikiranku sangat kacau, sejenak berfikir dan menyesali apa yang sudah aku perbuat.


Hari itu selasa 22 mei 2012 tepatnya saat jam istirahat, sahabatku Aldi memanggilku…

“Zakhwan !!!”

“iya Aldi, ada apa ?”

“anu wan”

“anu apa di”

“itu wan, tadi ira nitip pesan sama aku tolong sampaikan sama kamu kalo jam istirahat dia nungguin kamu di ruangan perpustakaan”

Seketika itu aku terdiam semacam tak percaya kalua Ira sedang menunggu aku di ruang perpus…

“oh iya di, makasih ya di”

“ok wan sama-sama” 

Begitu aku mendapat pesan dari Aldi, tanpa fikir panjang aku langsung bergegas menuju perpustakaan…


BERSAMBUNG…

3 komentar:

IKMAA YOGYAKARTA