jika membaca adalah memburu, maka menulis adalah mengikat buruan tersebut (Imam Al-Ghazali)

Kamis, 09 November 2017

CTMP EPISODE 3

EPISODE 3

Hubungan romantis yang penuh dengan warna kebahagiaan aku jalani bersama Ira yang tak terasa sudah berjalan kurang lebih enam bulan membuatku mulai mengerti bagaimana rasanya indahnya memiliki.

Setelah mendengar kabar dari pembina pramuka yang berwajah garang itu bahwa aku dan 15 orang temanku akan di utus untuk mengikuti PPSN di batam kepulauan riau, tentu suatu kebanggan tersendiri bagiku bisa dapat membawa nama daerah walaupun hanya sebatas tingkatan nasional namun kurasa ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa aku dan 15 teman ku memang pantas untuk hal itu. Hari-hariku pun mulai di penuhi dengan jadwal latihan yang itu membuat waktuku yang biasa aku gunakan untuk berkomunukasi dengan Ira pun semakin berkurang. Dengan latihan dan persiapan yang cukup matang ,akhirnya tibalah hari yang aku nanti-nantikan yaitu hari pemberangkatan. Malam sebelum itu aku meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan Ira, mencoba meyakininya bahwa “semanis apapun kopi yang ada di luar sana, tidak akan ada regukan lain dapat membuatku candu dengannya melainkan engkau” kepercayaan yang ia berikan kepadaku untuk tidak ada wanita lain selain dia. Aku berjanji untuk pulang dengan perasaan dan hati yang sama hanya untuk dia seorang.

Dengan menggunakan kostum kontingen Jambi, kami pun tiba di lokasi bumi perkemahan raja ali kelana batam, perkenalan demi perkenalan dengan kontingen lain membuat tangan ini menghantarkanku untuk berkenalan dengan seorang panitia pelaksana “DILA” nama nya, dialah satu-satunya panitia yang aku kenal, setiap ada permasalahan diarea perkemahan kepadanya lah aku menyampaikan keluhan dari kurangnya fasilitas yang ada, serta tak lupa aku menyimpan kontak nya yang itu sudah menjadi kebiasaanku ketika berkenalan dengan seseorang. Kegiatan demi kegiatan pun terus berlalu yang itu sangat menambah wawasan kami. Satu hari sebelum acara PPSN itu berakhir kami mendapat pemberitahuan bahwa setiap kontingen diminta untuk mengutus dua orang perwakilan untuk mempersiapkan acara penutupan, akhirnya aku dan salah satu teman regu bergegas menuju panggung utama untuk mendapatkan informasi itu, sore yang indah itu kembali membawaku bertemu dengan dila dengan seorang temannya yang belum pernah aku lihat sebelumnya, dengan perasaan penuh percaya diri aku kembali menyapanya
+“hai kak dila”
-“iya kak, eh kenalin ni temenku ULFA”
Sambil memintaku berkenalan dengan temannya. Entah kenapa ketika saat aku ingin mengangkat tangan untuk berjabat dengan nya, tanganku serasa berat seperti menolak untuk bersalaman dengannya, namun hal itu tetap aku paksakan, ntah apa yang ada difikiranku saat itu.
+”zakhwan”
Sambil mengangkat tanganku mengajaknya bersalaman
-“ulfa”
Senyuman manisnya yang diselimuti dengan sedikit malu-malu yang kembali tak bisa aku bayangkan.
-“eh, jangan lama-lama, nanti jadi suka” sapa dila dengan penuh guyonan

Pertemuan pertamaku dengan ulfa berakhir sampai disini dikarenakan kurangnya waktu untuk ngobrol lebih banyak. Namun itu bukan akhir ceritaku dengan ulfa. Malam penutupan yang diselimuti dengan kemeriahan dari penampilan seni dari berbagai kontengen membuatku merasakan moment yang cocok untuk melanjutkan obrolan perkenalanku dengan ulfa. Akhirnya melalui hp kecil yang selalu menemani saku sebelah kananku itu kembali aku menhubungi dila untuk membawa pertemuan keduaku dengan ulfa. Malam itu aku tidak sendirian, aku bersama dengan teman satu reguku yang sengaja aku ajak untuk setidaknya akan membuat suasana lebih hidup. Tepat dipojok belakang panggung itu aku duduk berdua dengan ulfa sembari melihat temanku itu melanjutkan perkenalannya dengan dila, “ah sudahlah lupakan mereka” sapaku kepada ulfa dengan sedikit gurauan. Obrolan yang hangat dimalam itu dari pertanyaan-pertanyaan ringan hingga pertanyaan sedikit berat yang aku tanyakan kepadanya seketika membuat cerita Ira dalam tulisan ini hilang sejenak. Otak playboy ku seketika beraksi ketika itu dan membuatku lupa akan komitmentku kepada Ira untuk kembali dengan hati dan perasaan yang sama. Namun untungnya malam itu aku dapat mengontrol diri untuk tidak langsung memberikan hatiku dengan Ulfa, namun jujur rasa suka itu hadir dihati kecilku untuknya seorang gadis berdarah Batak itu.

Setelah menikmati hangatnya kurasa malam itu, aku pulang dengan membawa dua perasaan yang sama antara gadis berdarah melayu dan gadis berdarah batak. Komunikasi dua sisi yang baik terus terjalin antara Ira dan Ulfa membuat hatiku mulai pecah dua. Tepat 29 November 2012 aku tidak dapat lagi membendung rasa dihatiku untuknya gadis berdarah batak itu. Sumpah otak playboyku meningkat drastis. Ditanggal itu mulai aku menjalani dua hubungan cinta segitiga yang tak beralas. Ira-Ulfa dua nama yang selalu menghiasi hari-hariku, hingga tidak terasa pendidikan yang kutempuh di pondok tercinta itu akan segera berakhir. Hari libur sebelum acara perpisahan membuat cerita ini lebih berwarna dan tak dapat kulupakan dalam memory ini dengan adanya pihak ke empat dari Ira, seorang bangsawan kaya raya berselimut uang kertas itulah yang menjadi penghias kelanjutan cerita ini…
BERSAMBUNG…


11 komentar:

  1. Ooo jadi ulfa tu yoo bang 😁😂

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. Gak sabar lagi ni kyk nya mau baca episode 4. Sabar ya neng. Sebentar lagi rilis

      Hapus
  3. Balasan
    1. Haha sedikit kisah nyata yg pernah ada. Nantikan kelanjutannya

      Hapus
  4. Para pembaca sudah ikut terjun kedalam cerita bahaya ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan sampai terjun terlalu dalam cak. Bahaya. Nanti kebawa arus. 😂

      Hapus
  5. Terimakasih kepada pembaca yang sudah berkomentar. Nantikan CTMP episode 4.

    BalasHapus
  6. Balasan
    1. Semoga akan tetap kuat hatinya. Jangn terbawa arus 😂

      Hapus

IKMAA YOGYAKARTA