EPISODE 3
Hubungan romantis yang penuh dengan warna kebahagiaan
aku jalani bersama Ira yang tak terasa sudah berjalan kurang lebih enam bulan
membuatku mulai mengerti bagaimana rasanya indahnya memiliki.
Setelah mendengar kabar dari pembina pramuka yang berwajah
garang itu bahwa aku dan 15 orang temanku akan di utus untuk mengikuti PPSN di
batam kepulauan riau, tentu suatu kebanggan tersendiri bagiku bisa dapat
membawa nama daerah walaupun hanya sebatas tingkatan nasional namun kurasa ini
sudah cukup untuk membuktikan bahwa aku dan 15 teman ku memang pantas untuk hal
itu. Hari-hariku pun mulai di penuhi dengan jadwal latihan yang itu membuat waktuku
yang biasa aku gunakan untuk berkomunukasi dengan Ira pun semakin berkurang.
Dengan latihan dan persiapan yang cukup matang ,akhirnya tibalah hari yang aku
nanti-nantikan yaitu hari pemberangkatan. Malam sebelum itu aku meluangkan
waktu untuk berkomunikasi dengan Ira, mencoba meyakininya bahwa “semanis apapun
kopi yang ada di luar sana, tidak akan ada regukan lain dapat membuatku candu
dengannya melainkan engkau” kepercayaan yang ia berikan kepadaku untuk tidak
ada wanita lain selain dia. Aku berjanji untuk pulang dengan perasaan dan hati
yang sama hanya untuk dia seorang.
Dengan menggunakan kostum kontingen Jambi, kami pun
tiba di lokasi bumi perkemahan raja ali kelana batam, perkenalan demi
perkenalan dengan kontingen lain membuat tangan ini menghantarkanku untuk
berkenalan dengan seorang panitia pelaksana “DILA” nama nya, dialah
satu-satunya panitia yang aku kenal, setiap ada permasalahan diarea perkemahan
kepadanya lah aku menyampaikan keluhan dari kurangnya fasilitas yang ada, serta
tak lupa aku menyimpan kontak nya yang itu sudah menjadi kebiasaanku ketika
berkenalan dengan seseorang. Kegiatan demi kegiatan pun terus berlalu yang itu
sangat menambah wawasan kami. Satu hari sebelum acara PPSN itu berakhir kami
mendapat pemberitahuan bahwa setiap kontingen diminta untuk mengutus dua orang
perwakilan untuk mempersiapkan acara penutupan, akhirnya aku dan salah satu
teman regu bergegas menuju panggung utama untuk mendapatkan informasi itu, sore
yang indah itu kembali membawaku bertemu dengan dila dengan seorang temannya
yang belum pernah aku lihat sebelumnya, dengan perasaan penuh percaya diri aku
kembali menyapanya
+“hai kak dila”
-“iya kak, eh kenalin ni temenku ULFA”
Sambil memintaku berkenalan dengan temannya. Entah
kenapa ketika saat aku ingin mengangkat tangan untuk berjabat dengan nya,
tanganku serasa berat seperti menolak untuk bersalaman dengannya, namun hal itu
tetap aku paksakan, ntah apa yang ada difikiranku saat itu.
+”zakhwan”
Sambil mengangkat tanganku mengajaknya bersalaman
-“ulfa”
Senyuman manisnya yang diselimuti dengan sedikit
malu-malu yang kembali tak bisa aku bayangkan.
-“eh, jangan lama-lama, nanti jadi suka” sapa dila
dengan penuh guyonan
Pertemuan pertamaku dengan ulfa berakhir sampai disini
dikarenakan kurangnya waktu untuk ngobrol lebih banyak. Namun itu bukan akhir
ceritaku dengan ulfa. Malam penutupan yang diselimuti dengan kemeriahan dari
penampilan seni dari berbagai kontengen membuatku merasakan moment yang cocok
untuk melanjutkan obrolan perkenalanku dengan ulfa. Akhirnya melalui hp kecil
yang selalu menemani saku sebelah kananku itu kembali aku menhubungi dila untuk
membawa pertemuan keduaku dengan ulfa. Malam itu aku tidak sendirian, aku bersama
dengan teman satu reguku yang sengaja aku ajak untuk setidaknya akan membuat
suasana lebih hidup. Tepat dipojok belakang panggung itu aku duduk berdua
dengan ulfa sembari melihat temanku itu melanjutkan perkenalannya dengan dila, “ah
sudahlah lupakan mereka” sapaku kepada ulfa dengan sedikit gurauan. Obrolan yang
hangat dimalam itu dari pertanyaan-pertanyaan ringan hingga pertanyaan sedikit
berat yang aku tanyakan kepadanya seketika membuat cerita Ira dalam tulisan ini
hilang sejenak. Otak playboy ku seketika beraksi ketika itu dan membuatku lupa
akan komitmentku kepada Ira untuk kembali dengan hati dan perasaan yang sama. Namun
untungnya malam itu aku dapat mengontrol diri untuk tidak langsung memberikan
hatiku dengan Ulfa, namun jujur rasa suka itu hadir dihati kecilku untuknya seorang
gadis berdarah Batak itu.
Setelah menikmati hangatnya kurasa malam itu, aku
pulang dengan membawa dua perasaan yang sama antara gadis berdarah melayu dan
gadis berdarah batak. Komunikasi dua sisi yang baik terus terjalin antara Ira
dan Ulfa membuat hatiku mulai pecah dua. Tepat 29 November 2012 aku tidak dapat
lagi membendung rasa dihatiku untuknya gadis berdarah batak itu. Sumpah otak
playboyku meningkat drastis. Ditanggal itu mulai aku menjalani dua hubungan
cinta segitiga yang tak beralas. Ira-Ulfa dua nama yang selalu menghiasi
hari-hariku, hingga tidak terasa pendidikan yang kutempuh di pondok tercinta
itu akan segera berakhir. Hari libur sebelum acara perpisahan membuat cerita
ini lebih berwarna dan tak dapat kulupakan dalam memory ini dengan adanya pihak
ke empat dari Ira, seorang bangsawan kaya raya berselimut uang kertas itulah
yang menjadi penghias kelanjutan cerita ini…
BERSAMBUNG…
Ooo jadi ulfa tu yoo bang 😁😂
BalasHapusIni cerita loh ya, bukan kisah nyata 😂
HapusLanjutkan zakhwan ��
BalasHapusGak sabar lagi ni kyk nya mau baca episode 4. Sabar ya neng. Sebentar lagi rilis
HapusCurahan hati
BalasHapusHaha sedikit kisah nyata yg pernah ada. Nantikan kelanjutannya
HapusPara pembaca sudah ikut terjun kedalam cerita bahaya ini
BalasHapusJangan sampai terjun terlalu dalam cak. Bahaya. Nanti kebawa arus. 😂
HapusTerimakasih kepada pembaca yang sudah berkomentar. Nantikan CTMP episode 4.
BalasHapusHarus kuat hati baco nyo 😪
BalasHapusSemoga akan tetap kuat hatinya. Jangn terbawa arus 😂
Hapus