jika membaca adalah memburu, maka menulis adalah mengikat buruan tersebut (Imam Al-Ghazali)

Rabu, 22 November 2017

Dosa di Waktu Subuh



Seperti biasa, suasana subuh selalu menghadirkan ketenangan. Azan  berkumandang dari moncong toa. Suara itu menggema saling bersahutan dari satu masjid ke masjid lainnya. Ayam jago pun tak mau kalah, dengan gagahnya mereka berkokok dari dalam kandang maupun dari atas pohon. Tak lama kemudian, pengurus ISAPPA mulai berdatangan ke kamar-kamar santri. Termasuk kamarku. Ruangan yang berukuran sekitar 10x5 meter itu menampung 20 santri. Bisa dibayangkan bagaimana berjubel dan gerahnya manusia di dalam kamar itu. Pengurus ISAPPA membangunkan kami yang tidur berjejer seperti ikan sarden yang dihidangkan di atas piring. Rotan-rotan yang lentur namun keras itu menjilat tubuh kami sehingga kami terperanjat hingga langsung terbangun. Tak jarang terbesit ungkapan di dalam hati, “ISAPPA anjing, lagi enak-enak tidok malah dipecut, untung be kau besak, kalo kecik, kuajak betinju kau.”

Ungkapan tersebut hanya membusuk di hati. Kami tidak berani untuk menyuarakannya. Meskipun kami merasa sedang ditindas dan sadar itu adalah bentuk penindasan, kami terlalu takut untuk melawan pengurus ISAPPA. Setelah bangkit dari tidur, aku langsung mengganti pakaian tidur dengan kain sarung, baju koko dan tak lupa menyematkan peci di atas kepala. Ketika aku dan teman-teman yang lain sudah mengenakan pakaian sholat, sebelum melangkah ke luar,  tanpa sengaja aku melihat seonggok tubuh yang kurus kerempeng dalam posisi berbaring di sudut ruangan. Aku langsung bergumam, “pasti itu Brahim.” Lalu timbullah akal bulusku untuk mengerjainya. Aku  akan membiarkannya tidur dan tak akan membangunkannya. Bukannya menggangu orang yang sedang tidur adalah dosa. Aku hanya berkhusnuzhon, mungkin dia sedang kelelahan sehingga berani untuk tidur kembali setelah dibangunkan oleh pengurus ISAPPA. Sambil berlalu keluar kamar menuju musholla Darul Ulama, aku tertawa cekikikan membayangkan dia akan ‘dihabisi’ oleh pengurus ISAPPA. Baru lima langkah aku keluar dari kamar, aku berpapasan dengan pengurus ISAPPA yang kembali membangunkan santri-santri. Sengaja aku pelankan langkahku untuk mendengar suara apa yang bakal keluar dari dalam kamarku. Tak lama kemudian terdengar suara yang berasal dari kamarku.

“Kau ko lah dibanguni orang dari tadi, masih jugo tiduk. Dak tau apo kalo capek banguni kalian ko.” Suara tersebut keluar disertai dengan bunyi yang dihasilkan dari pertemuan antara rotan dan kulit Brahim. Dengan penuh ketakutan dan setengah berteriak, Brahim lalu keluar dari kamar dengan berlari terbirit-birit. Aku pun tak kuasa untuk menahan tawa sambil berujar di dalam hati, “rasain lho, emang enak dipecut ISAPPA.”

Setiba di musholla, aku lalu bergabung di dalam shaf untuk melaksanakan ritual sholat subuh berjamaah. Yang menjadi imam sholat waktu itu ialah pengurus ISAPPA. Dengan penuh kekhusyukan, aku mendengar dengan tenang lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibaca dengan menggunakan lagu murottal. Itu merupakan kenyamanan dan ketenangan yang paling hakiki, bahkan ereksi ketika onani pun kalah nikmatnya. Sholat dengan mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang merdu di waktu subuh menambah keimananku. Aku lalu berpikir untuk apa aku diciptakan dan untuk apa aku hidup. Yang ada dipikiranku saat itu adalah bagaimana caranya untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan lalu mengincar surga-Nya. Setidaknya, dengan begitu aku bersemangat untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Selesai sholat, kami pun membaca wirid bersama-sama. Kuarahkan mataku ke sekeliling, ku pandangi dengan kedua bola mataku teman-teman yang senasib dan seperjuangan denganku. Ternyata banyak yang tertunduk lesu di atas pangkuan tangan mereka. Mereka tertidur disaat imam memimpin pembacaan wirid. Aku pun bertanya di dalam hati, “apakah mereka ikhlas dalam beribadah? Apakah mereka sholat subuh dengan sepenuh hati atau hanya karena takut dihukum oleh pengurus ISAPPA? Apakah mereka mendapatkan pahala atau malah dosa yang mereka terima? Apakah mereka mengagungkan Tuhan atau malah menghinanya?”

Ketika aku larut memikirkan ulah mereka, tanpa disadari wirid telah selesai dirapalkan dan doa telah dikirimkan. Aku pun menyesali perbuatanku yang tidak khusuk dalam merapal wirid dan doa karena sibuk memikirkan mereka. Ketika mereka merasa tidak ada yang salah dalam beribadah, kenapa aku harus mengorbankan waktu untuk bermesraan dengan Tuhan melalui wirid dan doa dengan memikirkan kesalahan mereka dalam beribadah. 

Nemo Cafe, Yogyakarta. 23 November 2017. 01.16

1 komentar:

IKMAA YOGYAKARTA