Seperti biasa,
suasana subuh selalu menghadirkan ketenangan. Azan berkumandang dari moncong toa. Suara itu
menggema saling bersahutan dari satu masjid ke masjid lainnya. Ayam jago pun
tak mau kalah, dengan gagahnya mereka berkokok dari dalam kandang maupun dari
atas pohon. Tak lama kemudian, pengurus ISAPPA mulai berdatangan ke kamar-kamar
santri. Termasuk kamarku. Ruangan yang berukuran sekitar 10x5 meter itu
menampung 20 santri. Bisa dibayangkan bagaimana berjubel dan gerahnya manusia
di dalam kamar itu. Pengurus ISAPPA membangunkan kami yang tidur berjejer
seperti ikan sarden yang dihidangkan di atas piring. Rotan-rotan yang lentur
namun keras itu menjilat tubuh kami sehingga kami terperanjat hingga langsung
terbangun. Tak jarang terbesit ungkapan di dalam hati, “ISAPPA anjing, lagi
enak-enak tidok malah dipecut, untung
be kau besak, kalo kecik,
kuajak betinju kau.”
Ungkapan tersebut
hanya membusuk di hati. Kami tidak berani untuk menyuarakannya. Meskipun kami
merasa sedang ditindas dan sadar itu adalah bentuk penindasan, kami terlalu
takut untuk melawan pengurus ISAPPA. Setelah bangkit dari tidur, aku langsung
mengganti pakaian tidur dengan kain sarung, baju koko dan tak lupa menyematkan
peci di atas kepala. Ketika aku dan teman-teman yang lain sudah mengenakan
pakaian sholat, sebelum melangkah ke luar, tanpa sengaja aku melihat seonggok
tubuh yang kurus kerempeng dalam posisi berbaring di sudut ruangan. Aku
langsung bergumam, “pasti itu Brahim.” Lalu timbullah akal bulusku untuk
mengerjainya. Aku akan membiarkannya
tidur dan tak akan membangunkannya. Bukannya menggangu orang yang sedang tidur
adalah dosa. Aku hanya berkhusnuzhon, mungkin dia sedang kelelahan sehingga
berani untuk tidur kembali setelah dibangunkan oleh pengurus ISAPPA. Sambil
berlalu keluar kamar menuju musholla Darul Ulama, aku tertawa cekikikan
membayangkan dia akan ‘dihabisi’ oleh pengurus ISAPPA. Baru lima langkah aku
keluar dari kamar, aku berpapasan dengan pengurus ISAPPA yang kembali
membangunkan santri-santri. Sengaja aku pelankan langkahku untuk mendengar
suara apa yang bakal keluar dari dalam kamarku. Tak lama kemudian terdengar
suara yang berasal dari kamarku.
“Kau ko lah
dibanguni orang dari tadi, masih jugo
tiduk. Dak tau apo kalo capek
banguni kalian ko.” Suara tersebut
keluar disertai dengan bunyi yang dihasilkan dari pertemuan antara rotan dan
kulit Brahim. Dengan penuh ketakutan dan setengah berteriak, Brahim lalu keluar
dari kamar dengan berlari terbirit-birit. Aku pun tak kuasa untuk menahan tawa
sambil berujar di dalam hati, “rasain lho, emang enak dipecut ISAPPA.”
Setiba di musholla,
aku lalu bergabung di dalam shaf untuk melaksanakan ritual sholat subuh
berjamaah. Yang menjadi imam sholat waktu itu ialah pengurus ISAPPA. Dengan
penuh kekhusyukan, aku mendengar dengan tenang lantunan ayat suci Al-Qur’an
yang dibaca dengan menggunakan lagu murottal. Itu merupakan kenyamanan dan
ketenangan yang paling hakiki, bahkan ereksi ketika onani pun kalah nikmatnya.
Sholat dengan mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang merdu di waktu
subuh menambah keimananku. Aku lalu berpikir untuk apa aku diciptakan dan untuk
apa aku hidup. Yang ada dipikiranku saat itu adalah bagaimana caranya untuk lebih
mendekatkan diri kepada Tuhan lalu mengincar surga-Nya. Setidaknya, dengan
begitu aku bersemangat untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Selesai
sholat, kami pun membaca wirid bersama-sama. Kuarahkan mataku ke sekeliling, ku
pandangi dengan kedua bola mataku teman-teman yang senasib dan seperjuangan
denganku. Ternyata banyak yang tertunduk lesu di atas pangkuan tangan mereka.
Mereka tertidur disaat imam memimpin pembacaan wirid. Aku pun bertanya di dalam
hati, “apakah mereka ikhlas dalam beribadah? Apakah mereka sholat subuh dengan sepenuh
hati atau hanya karena takut dihukum oleh pengurus ISAPPA? Apakah mereka
mendapatkan pahala atau malah dosa yang mereka terima? Apakah mereka
mengagungkan Tuhan atau malah menghinanya?”
Ketika aku larut
memikirkan ulah mereka, tanpa disadari wirid telah selesai dirapalkan dan doa
telah dikirimkan. Aku pun menyesali perbuatanku yang tidak khusuk dalam merapal
wirid dan doa karena sibuk memikirkan mereka. Ketika mereka merasa tidak ada
yang salah dalam beribadah, kenapa aku harus mengorbankan waktu untuk
bermesraan dengan Tuhan melalui wirid dan doa dengan memikirkan kesalahan
mereka dalam beribadah.
Nemo Cafe, Yogyakarta. 23 November 2017. 01.16

terbaiklah
BalasHapus