jika membaca adalah memburu, maka menulis adalah mengikat buruan tersebut (Imam Al-Ghazali)

Sabtu, 04 November 2017

CTMP EPISODE 2

EPISODE 2
Penantian ku yang lama akan balasan surat ungkapan hati yang ku berikan kepada Ira membuat tiap hariku selalu di ambang penantian, hingga akhirnya ku mendapat pesan Ira yang dititipkan lewat teman sekelasku Aldi kalau saat ini dia sedang menungguku di ruang perpustakaan. Saat itu aku hanya terfikir satu hal bahwa hari ini adalah hari special bagiku, walaupun sebenarnya aku belum tau apa yang akan dibicarakan oleh Ira, tapi ntah kenapa sesaat aku memandang ke arah langit ada bisikan awan yang memintaku untuk segera bergegas menuju perpustakaan, langkahku yang tak beraturan pun menghantarkan aku sampai di depan pintu perpustakaan, degup jantung pun semacam tak lagi berirama, “oh tuhan ada apa denganku” kataku dalam hati. Dengan kepala sedikit tertunduk, aku memasuki ruangan perpus, perlahan aku menoleh kearah seorang wanita yang sedang membelakangi ku. rok putih, baju putih dan jilbab putih, seragam putih-putih yang dikenakannya itu membuatku terpesona seketika ia berbalik badan kearahku
+”Hai zakhwan
Suara merdu yang keluar dari mulutnya yang imut, sumpah aku bergetar ketika hendak menjawabnya
-“Ha…haai juuga ra
+”Ini !!!”
Sambil memberiku sebuah buku
Setelah memberikan sebuah buku kepada ku ia pun bergegas keluar dari ruang perpus dengan senyuman yang kembali tak dapat kubayangkan. Sambil memegang erat buku surat yang di kembalikan Ira kepadaku, aku sangat berharap ada jawaban hatiku didalamnya, sungguh aku tak sabar untuk membuka buku itu, namun bell sekolah pun kembali berdering tanda kelas masuk untuk melanjutkan pelajaran. Aku kembali masuk kelas dan melanjutkan pelajaran hingga jam sekolahpun berakhir.
Sebelum pulang ke asrama untuk istirahat, tak lupa sholat zhuhur berjamaah yang rutin kami lakukan selaku santri pondok, walaupun tampang yang serupa bajingan begini, aku tetap berpegang teguh pada prinsip lama nenek moyangku bahwa “TAROI TELLENG LINOE TELLAING TEPPE’KU’ RI MASEGALAE” (seumpama dunia ini tenggelam, tak akan berpaling kepercayaanku kepada tuhan). Jam istirahat yang biasa aku gunakan untuk beristirahat kini tak lagi aku gunakan untuk itu, namun kugunakan untuk membuka dan membaca balasan surat yang Ira berikan kepada ku. Perlahan buku itu aku buka dengan perasaan yang ntah bagaimana.

wss zakhwan…salam kenal juga dari aku.
Wan, sebelumnya aku minta maaf karna baru sempat kasi buku itu ke kamu, bukan maksud buat kamu menunggu tapi kesibukan aku yang begitu padat, sekali lagi aku minta maaf wan.
Wan, menanggapi isi surat kamu yang kamu kirim beberapa hari yang lalu, aku merasa senang bercampur heran, aku senang karna menurut kamu aku bisa merubah kejenuhanmu berada di pondok ini berubah jadi semangat, herannya aku kenapa kok bisa hal itu terjadi sedangkan kamu belum mengenal aku, tapi itu ungkapan perasaan kamu ke aku dan aku hargai itu. Terimakasih untuk rasa suka yang kamu ungkapkan sama aku, namun jujur wan saat ini aku belum bisa beri kamu jawaban yang pasti antara iya atau tidak, kita jalani aja apa yang ada sekarang, disisi lain aku juga ingin mengenal kamu sebelum jauh kita menjalani suatu hubungan, jawaban iya atau tidak dari aku pun bukan suatu yang penting menurut aku, memberi bukti akan ucapan itu yang sangat aku harapkan dari suatu hubungan wan. Kita jalani aja dulu ya wan. By Ira”.
Itulah isi surat balasan Ira akan surat ungkapan hatiku beberapa hari yang lalu yang baru sempat iya balas. Walaupun secara tegas dia idak mengatakan menolak ataupun menerimaku sebagai kekasihnya, melainkan ingin melihat keseriusanku kepadanya. Setidaknya aku sudah legah karna sudah mendapat jawaban dari nya. Tak pula ia lupa menyisipkan no Hp di akhir dari balasan surat itu.
Setelah membaca balasan surat itu, aku hanya terfikir akan membuktikan kata2ku sebagai wujud keseriusanku kepadanya. Kembali aku teringat akan pepatah bugis bahwa “AJU MALURU’E MI RIALA PAREWA BOLA” (HANYA KAYU YANG LURUSLAH YANG AKAN DI JADIKAN SEBAGAI PONDASI RUMAH), artinya memang dalam suatu hubungan, keseriusan dan hati yang luruslah yang akan dijadikan sebagai pegangann kita.
Malam tepat setelah aku membaca surat itu aku merasa gelisah, ntah apa yang ada di dalam fikiranku. Akhirnya aku putuskan untuk menelphon Ira lewat no Hp yang iya tuliskan di akhir jawaban surat itu. Mulailah aku membuka percakapan-percakapan ringan dengannya sembari bersembunyi di balik lemari kecil yang berada di pojok kamar yang di balut dengan cerita tentang seekor semut yang membuat gajah tertawa terbahak-bahak karna aksinya yang lucu, oh sungguh malam dengan cerita yang sangat hangat, hingga aku memutuskan bahwa malam itulah awal aku menjalani hubungan dengannya, 22 mei 2012 hari dimana aku menggantungkan hati dan pengharapanku kepada seorang gadis berdarah melayu itu.
Hari demi hari kami melaluinya dengan penuh cinta dan harapan bahwa hubungan ini akan tetap terjalin hingga maut memisahkan, cerita-cerita indah yang kami lalui pun menjadi saksi perjalanan cinta kami,  makan berdua, menikmati sore di tepian sungai batang hari dengan setusuk jagung bakar, secangkir sari tebu manis semanis ayu wajahnya nan rupawan sembari memandang perahu penyebrangan yang saling berebut mencari penumpang. Oh sungguh aku merasa memiliki separuh dunia yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Tak terasa setelah setengah tahun kami menjalani kisah cinta kami yang penuh kebahagiaan, walaupun harus aku akui bahwa dalam suatu hubungan pasti adanya cekcok-cekcok kecil yang selalu menjadi warna dalam kisah kami memicu diri untuk selalu berbenah agar menjadi pasangan yang sejalan.
Bulan 11 tepatnya terdengar kabar kalau aku dan 15 temanku terpilih mewakili propinsi Jambi untuk mengikuti PPSN (perkemahan pramuka santri nusantara) di Batam Kepulauan riau, disini lah bermula kisah kami yang sebenarnya…
BERSAMBUNG…


8 komentar:

  1. nantikan kelanjutan cerita zakhwan dan ira di episede 3

    BalasHapus
  2. Kren
    serasa berlayar di lautan nostalgia ... 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks. Nantikan terus kelanjutan ceritanya neng

      Hapus
  3. Kalo satu episode satu buku rugi banyak yg baco beli trs 😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha tenang cak, setelah kisah ini selasi, kita bukukan jadi satu buku, biar pembaca mudah memilikinya. Nantikan terus kelanjutan ceritanya... Episode 3 akan segera rilis haha

      Hapus
  4. Mantap...
    Tingkat kan 🖒🖒🖒

    BalasHapus
  5. Mantap...
    Tingkat kan 🖒🖒🖒

    BalasHapus

IKMAA YOGYAKARTA