Tahun ini benar-benar tahun emas bagi aku, segala
proses dan perjuangan yang kulakukan selama dua tahun ini telah mulai Nampak dan
kunikmati hasilnya. Muhammad khesfa getha al-barojodi yang sekarang sangat
berbeda dengan ketika awal datang kedaerah istimewa ini, penghasilanku mulai
meningkat. Aku sudah bisa membeli laptop untuk kebutuhan akademik, dan membeli
handphone android untuk kelancaran komunikasi. Uang ditabungan juga walau tidak
banyak tapi sudah lumayan cukup, jika untuk makan dan keperluanku selama satu
bulan kedepan menjelang gajian rasanya berlebih. Aku teringat apa yang
disampaikan oleh pemateri dalam seminar kewirausahan beberapa minggu yang lalu,
“jangan pernah merasa tenang dengan apa yang sudah kita miliki, mulailah
membuka usaha walaupun dengan modal yang kecil”.
Beberapa hari
yang lalu juga aku ngobrol dengan seorang teman satu jurusan, ia menceritakan usaha
konter kelilingnya. Bisnis ini cukup menggiurkan, ia sendiri sekarang telah
meraih cukup banyak keuntungan. Muncullah niat aku untuk mengikuti jejaknya. Tapi,
aku bingung untuk menentukan sasaran dari usahku nanti. Aku sudah menghubungi
beberapa teman baik dari lingkungan kampus maupun dari organisasi, tapi belum
ada yang mengamininya. Entah dari mana datangnya pikiranku melayang pada sosok
leha, bukankah dia seorang aktifis dan memiliki pergaulan yang luas, Tentulah ia
memiliki ruang gerak yang luas untuk memasarkan bisnis ini. Tapi mungkinkah
leha mau berbisnis bareng? Ah sudahlah, apa salahnya mencoba pikirku. Aku menghubungi
leha dan menjelaskan niatku untuk membuka usaha konter keliling sekaligus
memintak ia untuk mengelolanya. Pucuk dicinta ulangpun tiba, ternyata leha
merespon niatku dengan baik dan mengamininya.
“boleh tuh bang, kapan nak mulainyo”?
“secepatnyolah dek”
“abang ado distributornyo lum”?
“nah, itu dio belum ado dek, kalau adek”?
aku balik bertanya.
“ehm kami ado sih dapat informasinyo
bang, tapi agak jauh”
“dak apolah dek, cocoklahtu” aku menyahut
dengan cepat, kwatir nantinya leha berubah pikiran.
“terus, kapan kito biso kesano beli saldonyo
dek”
“kapan yo,? iko hari kamiskan bang”? Leha
bertanya
“iyo dek”
“besok be bang, sudah jumatan gimano”?
“ ok dek, besok kami jemput adek dikos yo”? tawarku
dengan penuh semangat.
“siaplah bang”, sahut leha diujung sana.
Aku menutup telepon dengan hati yang senang,
setidaknya ada dua hal yang membuat aku merasa senang hari ini. Pertama aku
akan segera memulai membuka usaha, dan yang kedua ialah bahwa usahaku akan
dijalani berdua dengan perempuan yang namanya selalu kuhadirkan dalam setiap doaku
selain ibu.
Jam 11.30 lantunan ayat-ayat suci al-Quran sudah mulai
ramai tendengar dari beberapa masjid dekat kosku menandakan sholat jumat akan
segera dilakukan. Seperti biasanyanya aku segera mandi dan meninggalkan
aktifitasku yang lainnya walaupun terkadang belum selesai kukerjan. Ini semua
aku lakukan lantaran aku sering membaca surah al-jumuah, yang dalamnya Allah
SWT berfirman “wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk
melaksakan shalat pada hari jumat, maka segeralah kamu mengingat allah dan
tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik jika kalian mengetahui”. (QS.al-Jumuah:9)
Ayat ini selalu aku jadikan tirai pembatas antara kehidupan dunia dan
akhirat, adakalanya kita dimintak untuk bekerja keras untuk bertahan hidup,
namun jangan sampai lupa bahwa bekal akhirat juga sangat penting.
Jam 14 siang, setelah menyelesaikan tugas tafsir
kealaman yang akan dikirim sore nanti melalui email, aku langsung berangkat
menuju kosan leha. Aku tidak mau membuat ia menunggu lama, kali ini aku
meminjam motor teman karna motorku lagi dibengkel penyakit tuanya sudah kambuh
lagi dan biasanya perlu dua sampai tiga hari baru bisa diambil. Benar-benar
motor yang tidak bersahabat. Tidak sampai 15 menit aku sudah sampai dikosnya
leha, aku mengabarinya melalui pesan pendek, tak selang berapa lama leha
keluar. Seperti biasa ia mengenakan gaun gamisnya, sejenak aku memperhatikan
kecantikan yang tersembunyi dibalik sosok yang tegas ini. Matannya jernih, raut
mukanya yang teduh mampu menentramkan hatiku yang tadinya berdebar-debar karna
kedalam cinta yang aku miliki terhadapnya.
“nak langsung berangkat apo nyari makan dulu
bang”? leha membuyarkan lamunanku.
“eh, ehhm langsung be dak dek, baliknyo kagek
baru kito cari makan, gimano”? aku mengusulkan.
“ok lah bang” sahut leha.
Aku menghidupkan motor dan leha segera naik mengambil
posisi duduk menyamping. Sore ini lebih cerah, entah mengapa langit lebih
tampak biru dan dihiasi oleh beberapa awan
yang beragam bentuk memberikan keindahan tersendiri. Seakan-akan mereka hadir
hanya untuk menlengkapi kebahagian yang aku rasakan saat ini. Aku memacu motor melewati kampus UIN sunan kalijaga,
mengarah ke rel kereta api di sapen. Lampu merah setelah APMD kami belok kanan
menuju arah stasiun lempuyangan. Disepanjang perjalanan tanpa diketahui oleh
leha sekali-kali aku melirik kaca spion dan senyum-senyum sendiri melihat
keindahan dari kibaran jilbabnya yang tertiup angin.
“bang perempatan depan belok kiri yo”? leha
mengarahkan dengan kepalanya dicondongkan kedepan hingga hampir bersentuhan
antara helmku dengan helmnya.
“owh ok dek” jawabku singkat.
Konter yang kami tuju tidak terlalu besar, namun juga
tidak terlalu kecil. Aku menyerahkan uang kepada leha untuk melakukan
transaksi. Sambil duduk dikursi sampingnya aku hanya mendengarkan apa yang leha
dan penjaga konter bicarakan. aku kagum dengannya ternyata leha jauh lebih
paham dari aku mengenai bisnis ini. Dalam hati aku bergumam, aku harus banyak
belajar darinya. Dan semuanya akan aku kemukakan saat makan nanti.
bersambung,...............
Jgn lupo besedekah hehe
BalasHapusdi tunggu sambungannya.
BalasHapus