jika membaca adalah memburu, maka menulis adalah mengikat buruan tersebut (Imam Al-Ghazali)

Senin, 22 Januari 2018

SEMUA KARENA LEHA (3)



Tahun ini benar-benar tahun emas bagi aku, segala proses dan perjuangan yang kulakukan selama dua tahun ini telah mulai Nampak dan kunikmati hasilnya. Muhammad khesfa getha al-barojodi yang sekarang sangat berbeda dengan ketika awal datang kedaerah istimewa ini, penghasilanku mulai meningkat. Aku sudah bisa membeli laptop untuk kebutuhan akademik, dan membeli handphone android untuk kelancaran komunikasi. Uang ditabungan juga walau tidak banyak tapi sudah lumayan cukup, jika untuk makan dan keperluanku selama satu bulan kedepan menjelang gajian rasanya berlebih. Aku teringat apa yang disampaikan oleh pemateri dalam seminar kewirausahan beberapa minggu yang lalu, “jangan pernah merasa tenang dengan apa yang sudah kita miliki, mulailah membuka usaha walaupun dengan modal yang kecil”.

  Beberapa hari yang lalu juga aku ngobrol dengan seorang teman satu jurusan, ia menceritakan usaha konter kelilingnya. Bisnis ini cukup menggiurkan, ia sendiri sekarang telah meraih cukup banyak keuntungan. Muncullah niat aku untuk mengikuti jejaknya. Tapi, aku bingung untuk menentukan sasaran dari usahku nanti. Aku sudah menghubungi beberapa teman baik dari lingkungan kampus maupun dari organisasi, tapi belum ada yang mengamininya. Entah dari mana datangnya pikiranku melayang pada sosok leha, bukankah dia seorang aktifis dan memiliki pergaulan yang luas, Tentulah ia memiliki ruang gerak yang luas untuk memasarkan bisnis ini. Tapi mungkinkah leha mau berbisnis bareng? Ah sudahlah, apa salahnya mencoba pikirku. Aku menghubungi leha dan menjelaskan niatku untuk membuka usaha konter keliling sekaligus memintak ia untuk mengelolanya. Pucuk dicinta ulangpun tiba, ternyata leha merespon niatku dengan baik dan mengamininya.

“boleh tuh bang, kapan nak mulainyo”?

“secepatnyolah dek”

“abang ado distributornyo lum”?

“nah, itu dio belum ado dek, kalau adek”? aku balik bertanya.

“ehm kami ado sih dapat informasinyo bang, tapi agak jauh”

“dak apolah dek, cocoklahtu” aku menyahut dengan cepat, kwatir nantinya leha berubah pikiran.

“terus, kapan kito biso kesano beli saldonyo dek”

“kapan yo,? iko hari kamiskan bang”? Leha bertanya

iyo dek”

besok be bang, sudah jumatan gimano”?

“ ok dek, besok kami jemput adek dikos yo”? tawarku dengan penuh semangat.

“siaplah bang”, sahut leha diujung sana.

Aku menutup telepon dengan hati yang senang, setidaknya ada dua hal yang membuat aku merasa senang hari ini. Pertama aku akan segera memulai membuka usaha, dan yang kedua ialah bahwa usahaku akan dijalani berdua dengan perempuan yang namanya selalu kuhadirkan dalam setiap doaku selain ibu.

Jam 11.30 lantunan ayat-ayat suci al-Quran sudah mulai ramai tendengar dari beberapa masjid dekat kosku menandakan sholat jumat akan segera dilakukan. Seperti biasanyanya aku segera mandi dan meninggalkan aktifitasku yang lainnya walaupun terkadang belum selesai kukerjan. Ini semua aku lakukan lantaran aku sering membaca surah al-jumuah, yang dalamnya Allah SWT berfirman “wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksakan shalat pada hari jumat, maka segeralah kamu mengingat allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik jika kalian mengetahui”. (QS.al-Jumuah:9) Ayat ini selalu aku jadikan tirai pembatas antara kehidupan dunia dan akhirat, adakalanya kita dimintak untuk bekerja keras untuk bertahan hidup, namun jangan sampai lupa bahwa bekal akhirat juga sangat penting.

  Jam 14 siang, setelah menyelesaikan tugas tafsir kealaman yang akan dikirim sore nanti melalui email, aku langsung berangkat menuju kosan leha. Aku tidak mau membuat ia menunggu lama, kali ini aku meminjam motor teman karna motorku lagi dibengkel penyakit tuanya sudah kambuh lagi dan biasanya perlu dua sampai tiga hari baru bisa diambil. Benar-benar motor yang tidak bersahabat. Tidak sampai 15 menit aku sudah sampai dikosnya leha, aku mengabarinya melalui pesan pendek, tak selang berapa lama leha keluar. Seperti biasa ia mengenakan gaun gamisnya, sejenak aku memperhatikan kecantikan yang tersembunyi dibalik sosok yang tegas ini. Matannya jernih, raut mukanya yang teduh mampu menentramkan hatiku yang tadinya berdebar-debar karna kedalam cinta yang aku miliki terhadapnya.

“nak langsung berangkat apo nyari makan dulu bang”? leha membuyarkan lamunanku.

“eh, ehhm langsung be dak dek, baliknyo kagek baru kito cari makan, gimano”? aku mengusulkan.

“ok lah bang” sahut leha.

Aku menghidupkan motor dan leha segera naik mengambil posisi duduk menyamping. Sore ini lebih cerah, entah mengapa langit lebih tampak biru dan dihiasi oleh  beberapa awan yang beragam bentuk memberikan keindahan tersendiri. Seakan-akan mereka hadir hanya untuk menlengkapi kebahagian yang aku rasakan saat ini.  Aku memacu motor melewati kampus UIN sunan kalijaga, mengarah ke rel kereta api di sapen. Lampu merah setelah APMD kami belok kanan menuju arah stasiun lempuyangan. Disepanjang perjalanan tanpa diketahui oleh leha sekali-kali aku melirik kaca spion dan senyum-senyum sendiri melihat keindahan dari kibaran jilbabnya yang tertiup angin.

“bang perempatan depan belok kiri yo”? leha mengarahkan dengan kepalanya dicondongkan kedepan hingga hampir bersentuhan antara helmku dengan helmnya.

“owh ok dek” jawabku singkat.


Konter yang kami tuju tidak terlalu besar, namun juga tidak terlalu kecil. Aku menyerahkan uang kepada leha untuk melakukan transaksi. Sambil duduk dikursi sampingnya aku hanya mendengarkan apa yang leha dan penjaga konter bicarakan. aku kagum dengannya ternyata leha jauh lebih paham dari aku mengenai bisnis ini. Dalam hati aku bergumam, aku harus banyak belajar darinya. Dan semuanya akan aku kemukakan saat makan nanti. 
                                    

                                                bersambung,...............

2 komentar:

IKMAA YOGYAKARTA