jika membaca adalah memburu, maka menulis adalah mengikat buruan tersebut (Imam Al-Ghazali)

Rabu, 07 Februari 2018

“Anunya” Rahel sama Besar dengan “Miliknya” Didi

Oleh Qodri Syahnaidi.

Rahel dan Didi adalah dua saudara  yang lahir di rumah sakit yang sama dan keluar dari rahim ibu yang sama. Yang membedakan keduanya adalah urutan lahir. Rahel  lahir terlebih dahulu, kemudian selang beberapa menit, Didi pun menyusul keluar. Meskipun keduanya merupakan saudara kembar, tetapi keduanya tidak seperti saudara kembar pada umumnya. Jika saudara kembar pada umumnya memiliki wajah yang hampir mirip bahkan sulit  untuk dibedakan, baik saudara kembar sesama jenis maupun lain jenis. Rahel dan Didi tidak demikian, mereka berdua memiliki perawakan yang berbeda, terdapat jurang yang lebar di antara keduanya.
Rahel memiliki perawakan yang tinggi, putihdan ganteng. Sedangkan Didi memiliki perawakan yang rendah, hitam dan tidak terlalu jelek, tetapi tidak layak untuk disebut ganteng. Dengan perbedaan fisik yang sangat besar, banyak orang tak menyangka bahwa mereka adalah saudara kembar.

Meskipun keduanya memiliki perbedaan yang mencolok secara fisik, tetapi mereka bersekolah dalam satu sekolah yang sama, dari TK, SD, SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi. TK hingga SMA di tempuh di desa kelahiran mereka sendiri. Setelah tamat SMA, keduanya  merantau ke Jogja untuk melanjutkan jenjang pendidikan. Di Jogja pun keduanya tinggal dalam kos yang sama, memilih jurusan yang sama dan berada dalam satu kelas yang sama pula. Benar- benar seperti dua sisi mata uang yang berada dalam satu koin. Tak terpisahkan.

Setelah melewati lika-liku kehidupan sebagai mahasiswa, keduanya pun pulang ke kampung halaman. Rahel mendaftarkan diri menjadi hakim, dan dia lolos. Akhirnya dia menjadi hakim di kampungnya. Didi pun mendaftarkan diri menjadi advokat, sama seperti Rahel, dia pun lolos menjadi advokat.

Setelah keduanya sama-sama memiliki pekerjaan tetap, mereka berdua pun berencana untuk mencari pasangan hidup masing-masing. Rahel mulai mencari wanita yang sesuai dengan seleranya, begitu pula dengan Didi. Memang  benar  bahwa jodoh sering bercanda, Rahel yang berperawakan gagah mendapatkan istri yang tidak terlalu cantik, tetapi Didi yang berperawakan biasa saja, bahkan mungkin di bawah standar menurut sebagian orang, mendapatkan jodoh yang sangat cantik.

Waktu yang dinanti-nanti pun tiba. Rahel dan Didi menikah di hari yang sama. Tentunya dengan pasangan mereka masing-masing. Setelah melewati prosesi  resepsi pernikahan yang panjang dan melelahkan. Tibalah waktunya bagi mereka berdua untuk berhubungan suami istri di malam pengantin. Rahel dan istrinya melewati malam pengantin dengan syahdu dan nikmat. Tetapi tidak dengan Didi. Sebelum masuk ke dalam kamar, Didi terlebih dahulu menghilangkan kecemasan dan rasa deg-degan dengan merokok. Maklum, Didi belum pernah pacaran sehingga dia sangat grogi jika berada di dekat  cewek, apalagi dalam satu kamar, meskipun mereka sudah sah dan halal untuk berbuat apa saja. Tak terasa sudah tiga bungkus rokok yang dihisapnya dalam waktu sepuluh menit. Persis seperti kereta api yang tidak pernah berhenti mengeluarkan asap. Tiba-tiba, “anunya” Didi terasa sakit sekali dan lemas. Ternyata dia terkena impotensi akibat kebanyakan merokok. Didi pun melewatkan malam pertama sama seperti malam-malam sebelum dia menikah.

Esoknya Didi mulai keliling kota untuk menyembuhkan impotennya. Mulai dari pengobatan tradisional hingga rumah sakit bertaraf internasional dia sambangi. Setelah dua bulan dia melakukan pengobatan, akhirnya impoten yang dideritanya sembuh total. Lalu malam harinya dia mengulangi momen malam pertama pernikahan. Ketika Didi dan istrinya sampai pada puncak klimaks, akhirnya mereka "keluar" bersamaan. Mereka sama-sama merasakan kelelahan dalam kenikmatan. Tiba-tiba tanpa sadar istrinya nyeletuk dalam keadaan napas yang terengah-engah, ”bang, kok punyamu sama besar ya dengan punyanya Rahel?”

KN Cafe, Yogyakarta. 7 Februari 2018. 23.50.


3 komentar:

IKMAA YOGYAKARTA