Oleh Qodri Syahnaidi.
Rahel dan Didi adalah dua saudara yang lahir di rumah sakit yang sama dan keluar dari rahim ibu yang sama. Yang membedakan keduanya adalah urutan lahir. Rahel lahir terlebih dahulu, kemudian selang beberapa menit, Didi pun menyusul keluar. Meskipun keduanya merupakan saudara kembar, tetapi keduanya tidak seperti saudara kembar pada umumnya. Jika saudara kembar pada umumnya memiliki wajah yang hampir mirip bahkan sulit untuk dibedakan, baik saudara kembar sesama jenis maupun lain jenis. Rahel dan Didi tidak demikian, mereka berdua memiliki perawakan yang berbeda, terdapat jurang yang lebar di antara keduanya.
Rahel dan Didi adalah dua saudara yang lahir di rumah sakit yang sama dan keluar dari rahim ibu yang sama. Yang membedakan keduanya adalah urutan lahir. Rahel lahir terlebih dahulu, kemudian selang beberapa menit, Didi pun menyusul keluar. Meskipun keduanya merupakan saudara kembar, tetapi keduanya tidak seperti saudara kembar pada umumnya. Jika saudara kembar pada umumnya memiliki wajah yang hampir mirip bahkan sulit untuk dibedakan, baik saudara kembar sesama jenis maupun lain jenis. Rahel dan Didi tidak demikian, mereka berdua memiliki perawakan yang berbeda, terdapat jurang yang lebar di antara keduanya.
Rahel memiliki perawakan yang tinggi,
putihdan ganteng. Sedangkan Didi memiliki perawakan yang rendah, hitam dan
tidak terlalu jelek, tetapi tidak layak untuk disebut ganteng. Dengan perbedaan
fisik yang sangat besar, banyak orang tak menyangka bahwa mereka adalah saudara
kembar.
Meskipun keduanya memiliki perbedaan yang
mencolok secara fisik, tetapi mereka bersekolah dalam satu sekolah yang sama,
dari TK, SD, SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi. TK hingga SMA di tempuh di desa
kelahiran mereka sendiri. Setelah tamat SMA, keduanya merantau ke
Jogja untuk melanjutkan jenjang pendidikan. Di Jogja pun keduanya tinggal dalam kos yang sama, memilih jurusan yang sama dan berada dalam satu kelas yang
sama pula. Benar- benar seperti dua sisi mata uang yang berada dalam satu koin.
Tak terpisahkan.
Setelah melewati lika-liku kehidupan
sebagai mahasiswa, keduanya pun pulang ke kampung halaman. Rahel mendaftarkan
diri menjadi hakim, dan dia lolos. Akhirnya dia menjadi hakim di kampungnya.
Didi pun mendaftarkan diri menjadi advokat, sama seperti Rahel, dia pun lolos
menjadi advokat.
Setelah keduanya sama-sama memiliki
pekerjaan tetap, mereka berdua pun berencana untuk mencari pasangan hidup
masing-masing. Rahel mulai mencari wanita yang sesuai dengan seleranya, begitu
pula dengan Didi. Memang benar bahwa jodoh sering bercanda, Rahel yang
berperawakan gagah mendapatkan istri yang tidak terlalu cantik, tetapi Didi
yang berperawakan biasa saja, bahkan mungkin di bawah standar menurut sebagian
orang, mendapatkan jodoh yang sangat cantik.
Waktu yang dinanti-nanti pun tiba. Rahel
dan Didi menikah di hari yang sama. Tentunya dengan pasangan mereka
masing-masing. Setelah melewati prosesi resepsi pernikahan yang panjang dan
melelahkan. Tibalah waktunya bagi mereka berdua untuk berhubungan suami istri
di malam pengantin. Rahel dan istrinya melewati malam pengantin dengan syahdu
dan nikmat. Tetapi tidak dengan Didi. Sebelum masuk ke dalam kamar, Didi
terlebih dahulu menghilangkan kecemasan dan rasa deg-degan dengan merokok.
Maklum, Didi belum pernah pacaran sehingga dia sangat grogi jika berada di dekat
cewek, apalagi dalam satu kamar, meskipun
mereka sudah sah dan halal untuk berbuat apa saja. Tak terasa sudah tiga
bungkus rokok yang dihisapnya dalam waktu sepuluh menit. Persis seperti kereta
api yang tidak pernah berhenti mengeluarkan asap. Tiba-tiba, “anunya” Didi
terasa sakit sekali dan lemas. Ternyata dia terkena impotensi akibat kebanyakan
merokok. Didi pun melewatkan malam pertama sama seperti malam-malam sebelum dia
menikah.
Esoknya Didi mulai keliling kota untuk
menyembuhkan impotennya. Mulai dari pengobatan tradisional hingga rumah sakit
bertaraf internasional dia sambangi. Setelah dua bulan dia melakukan pengobatan,
akhirnya impoten yang dideritanya sembuh total. Lalu malam harinya dia
mengulangi momen malam pertama pernikahan. Ketika Didi dan istrinya sampai pada puncak
klimaks, akhirnya mereka "keluar" bersamaan. Mereka sama-sama merasakan kelelahan dalam kenikmatan. Tiba-tiba tanpa sadar
istrinya nyeletuk dalam keadaan napas yang terengah-engah, ”bang, kok punyamu
sama besar ya dengan punyanya Rahel?”
KN Cafe, Yogyakarta. 7 Februari 2018. 23.50.
Kwkwkwkkwkwwk
BalasHapussensor
Hapusbhbhabha, muantabbb
Ko judulnyo air mata perkawinan , Mansyur S haha
BalasHapus