jika membaca adalah memburu, maka menulis adalah mengikat buruan tersebut (Imam Al-Ghazali)

Rabu, 14 Februari 2018

perubahan juga bisa terjadi karena yang satu ini.

"perubahan juga bisa terjadi setelah mengalami yang satu ini", kayak di iklan-iklan aja. hehehe :)
tanpa membuang waktu langsung aja cerita ini kami beri judul :



“ Si Ahmad “



“Ahmad” 

kalimat yang sering ia dengar di lingkungannya. pemuda yang sangat dibenci oleh teman sebayanya bahkan lingkungan, tapi belakangan ini menjadi sebaliknya menjadi  orang yang  dicintai lingkungannya. karena ia merubah sifat dan tingkahnya itu, hingga yang tersisa baik budinya, santun dalam sikapnya dan bijaksana dalam menanggapi problematika. suatu kali ia dikagetkan dengan kedatangan orang tua temannya. Kalimat yang ketika itu ia dengar walupun sedikit samar-samar.

“ bukankah ahmad sudah pantas untuk menjadi seorang suami,  bu “, ucap warga yang mengingankan ahmad menjadi menantunya.

Saking disenangi oleh orang-orang disekelilingnya, bukan saja di puji tapi di ingini jadi menantunya. dan berapa banyakpun orang yang senang dengannya tetap saja ada yang benci padanya. Karena dimana ada kebaikan kejahatan pasti ada mengiringinya. Bahkan seorang nabi sekalipun. Tapi, kejahatan itu tidak dibalasnya kepada orang lain. Karna menurutnya kontradiksi dalam suatu kehidupan adalah menjadi sunnahtullah  SWT. untuk mengatasinya, tergantung bagaimana kita menyingkapi hal tersebut, dan sebaik-baik untuk menyelesaikan permasalahan adalah dengan memaafkan.

“ subhanallah, begitu baiknya sikapmu mad”. Kata temannya suatu waktu.

Lur, si ahmad itu pandai cari muka ya di depan orang-orang”. Ucap gio di depan teman-temannya. Giovani adalah orang yang tidak senang dengan sikap masyarakat kepada ahmad. berbagai cara ia lakukan untuk mempengaruhi teman-teman sebayanya. Tapi usaha yang ia lakukan tidak pernah membuahkan hasil. Memang selain giovani, hati orang-orang sudah diluluhi oleh ahmad.

 “kamu jangan terlalu dengki sama dia gi”.

Jawab salah satu temannya. Memang tak ada alassan untuk orang membencinya kecuali dua hal, “iri dan dengki”. Iri dengan sikap kebaikan ahmad, dan dengki dengan sikap orang lain kepadanya. Iri dan dengki ini memang menjadi halangan untuk orang mengakui bahwa dia memang begitu dan begini sehingga usaha untuk menjatuhkannya sering dilancarkan, walupun sia-sia. Disamping itu ahmad yang senantiasa dibenci olehnya tidak pernah membalas kebencian itu dengan kebencian pula. Itu yang membuat gio gelisah dan muncul banyak pertanyaan, kenapa ?

Pernah ketika itu di bulan november gio dalam keadaan sakit, tidak begitu parah, tapi ia belum di perbolehkan oleh dokter untuk pulang. Katanya si gio memendam penyakit lemah jantung atau apalah namanya sejenis penyakit dalam” kata temannya diwaktu ahmad bertanya . kabar yang simpang siur itu tidaklah  dipercayai sepenuhnya. 

ia berkata kepada teman-temannya “ jangan mendo’akan orang yang tidak tidak”. Karena perkataan itu adalah do’a dan prasangka buruk itu bagian cara dari setan untuk memperdaya kita”. Sambungnya.  Karna sikap seperti inilah yang menjadikan orang menyenanginya. Bagaimana tidak, orang yang paling membencinya bahkan mengajak orang lain untuk membencinya dibalas dengan perbuatan yang tidak setimpal bagi orang-orang seperti gio ini.  Menunjukkan sedikit wajah kesal salah satu teman kepadanya.

“kamu ini bagaimana si mad, orang yang jahat kepadamu tapi, ah.. sudahlah”.

Dengan senyuman khas ahmad menunjukkan sikap bijaksananya, “untuk memadamkan api bukankah dengan air ? kenapa tidak dengan api ? pertanyaan sekaligus jawaban yang di lontarkan ahmad kepada temannya itu menjadikan suasana hening tanpa suara. Lalu setalah beberapa menit kemudian Dengan wajah serius temannya berkata “ biar padam la mad,”. Kembali ahmad membalas dengan senyuman sambil berkata “ itulah jawabannya”

suasanya menjadi hening kembali, bahkan suara semutpun terdengar oleh beberapa pemuda ini, kiranya mereka sedang memahami betul maksud dari perkataan ahmad ini. “oh iya aku paham mad, dengan berbuat baik kepada musuh kita itu menjadikan ia sadar bahwa yang di benci tidak pernah marah dengannya dan akhirnya ia sadar dan berusaha mengubah  kebencian itu menjadi kebaikan”. Dengan logat khasnya  sambil Tergopoh air liurnya mengenai teman didepannya. “hahaha, kamu kalo ngomong yang pelan-pelan saja, liat tu dhani jadi korbannya”. Sambil ngakak temannya menyaut. Sorak  sorai, tawa terbahaq-bahaq sejoli ini melihat tinggkah salah satu temannya. Setelah semuanya berhenti tertawa ahmad melanjutkan perkataannya tadi  “itulah yang saya maksud, jangan jadilkan alasan membenci untuk balas dendam karena itu akan merugikan kita sendiri, bahkan jangan sesekali kita menyimpan sifat dengki itu”. Semua menjadi paham dari analogi yang ahmad berikan tadi.  Dan tiba-tiba satu-persatu teman-temannya pamit untuk meninggalkan perkumpulan ini.  lalu ahmad juga melanjutkan perjalanannya.


******************

Didalam ruangan yang bau obat-obatan ini giovani sementara tinggal hingga dokter membolehkannya untuk pulang. Dalam keadaan sendiri ia beranggapan bahwa tidak ada teman-teman sebayanya yang datang menjenguk kediamannya ini.

 “apa salahku kepada orang lain selain ahmad ya”.Kadang-kadang ia memikirkan itu dalam perbaringannya. 

Kembali kecurigaannya ini tertuju pada ahmad, “ berengsek si ahmad, pasti dia yang merencanakan ini semua, awas kau ya”, ucapnya dalam hati.

dendam kesumat yang sejak semula sudah ada menjadi lebih besar dan bahkan lebih besar dari dirinya ini. Setelah merenungi yang tiada hasil ini kembali ia memejamkan mata untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lemas dan memalas ini.

Selang beberapa jam, dirasakan olehnya ada tangan seseorang yang menyentuh kening dan dadanya sehingga membuatnya kaget dan mencoba membuka mata sayunya secara perlahan-lahan. Ketika terbuka total yang ia lihat adalah sesosok manusia yang paling di benci dalam hidupannya. Karena sudah membuatnya diasingkan dari lingkungan sosialnya. Karena posisinya yang sedangkan sakit dan ahmad sebagai penjenguk pertama diantara yang lain maka ia tidak langsung membawa kebiasaannya untuk mencaci dan menghina ahmad, tapi yang keluar dari mulutnya adalah sebuah kata yang sedikit menaroh perhatian pada ahmad sebagai temannya.

 “kapan kamu datang mad, makasih ya udah di jenguk”. Dengan sedikit memalas dan membalikkan kembali wajahnya tanpa menunggu jawaban dari ahmad.

“ baru saja gio” Dengan bersahaja dan penuh kehangatan lalu disambungnya “sama-sama gio”.

 Tanpa mendiamkan diri berlama-lama ahmad langsung melanjutkan obrolannya bersama sahabatnya ini. “apa yang dokter katakan tentang penyakitmu gio”. Lalu dengan gaya khas congkaknya disambarnya. “tidak apa-apa mad, sebentar lagi juga aku bisa pulang”. Gio tidak ingin ahmad mengetahui penyakit jantung yang dideritanya ini karena takut akan di olok-olok ahmad. Walaupun ia sadari bahwa ahmad tidak mungkin seperti itu. Mungkin karena ia melihat ahmad ini sebelum terjadi perubahan. Ahmad seorang yang sangat durjana, penjahal berbulu srigala. Kadang berbulu domba, “sok baik!”

Tak ada balasan dari ahmad karena ia melihat giovani masih membencinya. 15 menit ruangan menjadi hampa seolah-olah berada dalam sebuah goa, hanya ada suara mesin AC yang terdengar oleh mereka. Lalu ahmad  melanjutkan obralan karena merasa bosan dan tak dapat menyampaikan maksud kedatangannya. ahmad memiliki tujuan dalam menjenguk giovani di rumah sakit ini, berharap setalah sepulangnya giovani dari rumah sakit tidak ada lagi permusuhan dan perselisihan antara giovani kepadanya.

 “gio”, ahmad memulai kembali obrolannya , lalu disambungnya dengan bercerita kenapa dirinya bisa berubah drastis dan merubah kebiasaan buruknya dulu. Memang ia sadari bahwa dirinya dulu sebagai manusia yang lupa akan kemanusiaan, kehendak nafsu lebih besar dari akal dan hatinya bahkan lebih besar dari dirinya sendiri. Mencuri, lalu mamabuk-mabukan, mencari “kembang malam” untuk memuaskan birahinya, berjudi bahkan sampai kepada mengkonsumsi narkoda lalu pulang membentak-membentak orang tuanya  ketika dinasehati.
 “terserahku, jangan sibuk mengurusi hidupku, aku udah besar jadi bisa memikirkan diriku sendiri, tugas kalian hanya mencukupi kebutuhan-kebutuhanku”ujarnya ketika orang tuanya mencoba menasehati supaya jangan melakukan semua perbuatan yang tidak senonoh itu.
Sedikit menarik minat gio untuk mendengar cerita orang yang dimusuhinya ini, dengan khusuk gio mendengarkan, agar dapat celah nantinya untuk menjatuhkan si ahmad didepan yang lain. Sedikit membalikkan badannya dan berkata dengan gaya sombongnya “lalu?”. Ahmad yang melihat reaksi dari temannya ini langsung melanjutkan ceritanya.
Lalu dilanjutkan.  dulu betapa seringnya aku membentak orang tuaku sehingga membuatnya yang mengindap darah tinggi dan harus mendapat perawatan di rumah sakit ini juga. Air mata mulai menetas di pipi ahmad.
Dengan suara yang mulai tersendat dan penuh penyesalan ia melanjutkan ceritanya . selama bapak  dirumah sakit baru sekali aku menjenguk itupun waktu akhir kehidupannya. aku asik dengan kebiasaan buruk itu, tanpa sedikitpun merasa berdosa. Bahkan kala itu aku mengambil surat tanah dan menjualnya kepada orang kaya kampung sebelah yang digunakan untuk berjudi dan membeli minuman yang ber-alkohol. waktu itu tetangga mendatangiku untuk mengingatkan bahwa bapakku sedang sakit parah dirumah sakit dan mengingatkan agar aku  melihat keadaan beliau.
“masa bodoh, mati sudah ditakdirkan tuhan” balasnya ketika diingatkan. Dan dilanjutkan dengan kata yang menurutnya enteng, “ kalo matikan aku bisa dapat hartanya” sambil tertawa aku jawab nasehat dari tetanggaku ini. Dan obrolan pendek itu diakhiri oleh tetanggaku dengan perkataan “jika kau anakku, tidak akan pernah aku meridhoi hidupmu”. Dan aku jawab dengan tanpa rasa takut “itu urusanmu”.
Huk,, hukkk, huuuuuuuuuk,, gio terbatuk membuat ahmad berhenti melanjutkan ceritanya dan bertanya,
 “kamu tidak apa-apa ?”.

tanpa menunggu jawaban ahmad langsung mengambil air mineral yang dari tadi berada diatas meja lalu memberikan kepada temannya ini.
 gio memberikan kode bahwa ia minta bantu untuk didudukan setalah itu berkata “ tidak apa-apa”, masih dengan gaya biasanya. Ahmad langsung membatu temannya ini untuk duduk. Lalu giovani langsung bertanya kepada ahmad “lanjutkan ceritamu mad” dengan nada yang sedikit berubah membuat hati ahmad semakin lega melihat temannya ini terbawa suasana.
“begitulah sangking tidak pedulinya aku pada ayanhku dulu“ sambungnya kepada gio yang mulai serius memperhatikan setiap kata yang dikeluarkan.
Dulu aku pernah juga mecuri sepeda motor orang kampung sebelah karna sudah tidak ada lagi uang untuk berjudi dan mabuk-mabukan sedangkan wanitaku meminta uang.
“Dan masih masih yo”, sambil menitikkan air mata.
 Setalah semuanya terjadi puncaknya adalah ketika seminggu setalah orang tuaku menginap dirumah sakit, dan aku pulang kerumah dengan keadaan separoh sadar, dalam perjalanan pulang aku melihat bayangan datang menghampiri. Ketika bayangan itu sudah sampai tepat dihadapan terdengar olehku kata yang ditujukan kepadaku .
“nak, dunia memang memberikan kesenangan kepada kita, tapi ingat ! semua itu hanyalah tipu daya setan kepada kita sehingga kita melupakan diri kita sebagai wakil tuhan dibumi “. Dengan suara  tinggi aku jawab “jangan sok menasehatiku, pergi kau”. Lalu melanjutkan perjalanan tanpa memperdulikan nasehat dari bayangan ini.
Ketika hendak sampai dirumah kembali suara aneh ini datang lagi sambil melanjutkan nasehatnya yang tadi.
“kamu adalah anak yang baik, tapi kamu tidak bisa menahan diri dari pengaruh teman-temanmu nak, sehingga kamu terjerumus dan kalah melawan hasutan  setan kepadamu”. Lanjut bayangan itu. tanpa memperdulikan nasehat bayangan yang tidak jelas siapa ini karena keadaan sedang mabuk membuat penglihatannya tidak jelas ia melanjutkan jalannya. ahmad berhenti bercerita untuk melihat giovani, masih mendengarkan atau sudah tertidur.
“selanjutnya”,
sambung ahmad setelah temannya masih mendengarkan. aku terus berjalan hingga tanpa sadar sudah tiba dihalaman rumah. Tiba-tiba suara yang sama terdengar  lagi,
“ mad, senakal apupun seorang anak kepada orang tuanya tetap  akan dimaafkan, karna orang tua sadar bahwa semua itu akan ditanggungnya  di akhir zaman nanti”, ahmad tidak menanggapinya.
 Kemudian bayangan ini melanjutkan dengan sebuah pertanyaan “ bukankah kamu sudah mengetahui itu mad ?, syurga bagi seorang anak berada pada orang tuanya !” sedikit di tinggikan suaranya, lalu bayang inipun melanjutkan nasehatnya tanpa memperdulikan ahmad yang berjalan secara tak berarah.
“kembalilah kepada seorang anak yang bernama ahmad, yang sikap dan budinya disenangi oleh orang tua teman dan lingkungannya, ingat nak, tuhan maha mengetahui apa-apa yang kita lakukan dan akan membalasnya di akhirat kelak, jika amalan kita baik, baik pula yang kita dapatkan begitupun sebaliknya” tutup nasehat dari bayang itu lalu hilang bersama angin malam.
Sedangkan ahmad tersentak mendengar kalimat yang dilontarkan oleh bayangan itu karna sepertinya ia mengenali suara itu. Tanpa berlama-lama memikirkan ia  langsung membuka pintu dengan kunci yang dipegang olehnya sejak pertama kali bayangan itu menasehatinya. Lalu masuk menuju kamarnya dan langsung merebahkan badannya serta menutup matanya yang sayup itu.
Sekarang ruangan tempat giovani beristirahat menjadi tegang dan giovanipun hanya diam tanpa berkomentar.
 “aku bertemu lagi dengan bayang itu “. Ahmad melanjutkan ceritanya.
Kali ini tidak hanya nasehat tapi juga terdapat kata-kata perpisahan. “ kembalilah kepada jalan yang benar mad, hidup didunia ini tidak lama, hanya  beberapa menit saja jika dibandingkan dengan kehidupan yang abadi, akhirat !, jadilah kebanggaan orang tua, jangan sakiti hati mereka, karena ridhonya tuhan berada padanya dan murkanya juga padanya”.
Berhenti sejenak dan melanjutkan tanpa memperdulikan temannya ini.
“Ternyata Bayangan itu bapakku”, ahmad sambil meneteskan air mata.
 “selamat tinggal mad, jagalah ibumu dan adik-adikmu, kamu anak pertama yang akan menjadi panutan keluargamu, tanggung jawabmu besar mad, berubahlah mad, kesalahanmu selama ini sudah bapak maafkan dan bapakpun minta maaf kepadamu, assalamu’alaikum”. Ucap bapakku.
Sambil menangis aku membuka mata,  karna ada orang yang membanguni tidurku. tetanggaku inipun kaget dan takut. Tanpa banyak kata langsung disampaikan maksud dan tujuan kedatangannya.
“mad, kamu disuruh kerumah sakit bapakmu sekarat”. Tanpa berlama-lama aku langsung berangkat menuju rumah sakit tempatnya menginap.
Melihat ini, terheran ia melihatku yang tak seperti biasa, dan aku sudah tak ada waktu untuk menjelaskannya.
Sesampai dirumah sakit aku langsung dipeluk oleh ibu sambil menangis dan berkata “bapak sudah tiadanya mad,”.
Ibarat badan  tanpa tulang, tubuh pun lemas lalu didudukan diatas kursi. “bawa aku ke bapak”. Ucapku selang beberapa menit.
“ terimakasih pak sudah mau menemui aku di hari terakhirmu, pesanmu akan aku ingat dan aku lakukan”. Gumamku dalam hati setelah melihat bapakku.
giovani yang dari tadi diam langsung memeluk ahmad,  sambil berucap “maafkan aku mad”. Bentuk simpatinya kepada ahmad.
*************

 “alhamdulillah keadaannya membaik”. Kata suster kepada pengunjung. Mendengar kebisingan diruangannya giovani membuka matanya. Lalu tidak ada ahmad disekelilingnya sehingga membuatnya Bertanya dalam hati, Lalu berkata “dimana ahmad ?” mendengar pertanyaan ini teman-temannya pun kaget. Salah satu temannya berkata “ahmad sudah menjengukmu 2 hari lalu”. Dan melanjutkan dengan mengatakan ahmad sudah pindah menuju kampung halaman ibunya. “maafkan aku mad, semoga suatu saat kita bertemu lagi” ucapnya dalam hati, sambil mengerutkan jidatnya. Heran teman-temannya melihat tingah giovani menannyakan orang yang dibencinya. 
30 menit telah berlalu, teman-temannya pun pamit untuk meninggalkan giovani . Kemudian, setalah selesai mengurus administrasi ia langsung dibawa pulang. Ketika dalam perjalanan pulang berkata bapaknya “jangan terlalu dalam hidup ini, apapun itu,  baik itu membenci atau mencintai, karena suatu saat akan di balikkan, dan akhirnya timbul penyesalan”. Mendengar nasehat itu ia teringat kepada ahmad, “ia pak” singkat ia menjawab nasehat bapaknya.hening tanpa suara, hanya ada suara mesin dan penyesalan dalam diri giovani. Pertemuan dalam ketidak sadarannya itu menjadi pertemuan terakhir antara ahmad dan giovani.

6 komentar:

IKMAA YOGYAKARTA