tanpa membuang waktu langsung aja cerita ini kami beri judul :
“ Si Ahmad “
“Ahmad”
kalimat yang sering
ia dengar di lingkungannya.
pemuda yang sangat dibenci oleh teman sebayanya bahkan lingkungan, tapi belakangan ini menjadi sebaliknya menjadi orang yang dicintai lingkungannya. karena ia merubah sifat
dan tingkahnya itu, hingga yang tersisa baik budinya, santun dalam sikapnya dan
bijaksana dalam menanggapi problematika. suatu kali ia dikagetkan dengan
kedatangan orang tua temannya. Kalimat yang ketika itu ia dengar walupun sedikit
samar-samar.
“ bukankah ahmad
sudah pantas untuk menjadi seorang suami, bu “, ucap warga yang mengingankan ahmad
menjadi menantunya.
Saking disenangi oleh orang-orang disekelilingnya, bukan saja di puji tapi di ingini jadi menantunya. dan berapa banyakpun
orang yang senang dengannya tetap saja ada yang benci padanya. Karena dimana
ada kebaikan kejahatan pasti ada mengiringinya. Bahkan seorang nabi sekalipun. Tapi, kejahatan itu tidak dibalasnya kepada orang lain. Karna
menurutnya kontradiksi dalam suatu kehidupan adalah menjadi sunnahtullah SWT. untuk mengatasinya, tergantung bagaimana
kita menyingkapi hal tersebut, dan sebaik-baik untuk menyelesaikan permasalahan
adalah dengan memaafkan.
“ subhanallah, begitu baiknya sikapmu mad”. Kata
temannya suatu waktu.
“Lur”, si ahmad itu pandai cari
muka ya di depan orang-orang”. Ucap gio di depan teman-temannya. Giovani adalah
orang yang tidak senang dengan sikap masyarakat kepada ahmad. berbagai cara ia
lakukan untuk mempengaruhi teman-teman sebayanya. Tapi usaha yang ia lakukan
tidak pernah membuahkan hasil. Memang selain giovani, hati orang-orang sudah diluluhi oleh ahmad.
“kamu jangan terlalu dengki sama dia gi”.
Jawab salah satu
temannya. Memang tak ada alassan untuk orang membencinya kecuali dua hal, “iri
dan dengki”. Iri dengan sikap kebaikan ahmad, dan dengki dengan sikap orang
lain kepadanya. Iri dan dengki ini memang menjadi halangan untuk orang mengakui
bahwa dia memang begitu dan begini sehingga usaha untuk menjatuhkannya sering
dilancarkan, walupun sia-sia. Disamping itu ahmad yang senantiasa dibenci
olehnya tidak pernah membalas kebencian itu dengan kebencian pula. Itu yang
membuat gio gelisah dan muncul banyak pertanyaan, kenapa ?!
Pernah ketika itu di
bulan november gio dalam keadaan sakit, tidak begitu parah, tapi ia belum di
perbolehkan oleh dokter untuk pulang. Katanya si gio memendam penyakit lemah
jantung atau apalah namanya sejenis penyakit dalam” kata temannya diwaktu ahmad
bertanya . kabar yang simpang siur itu tidaklah dipercayai sepenuhnya.
ia berkata kepada
teman-temannya “ jangan mendo’akan orang yang tidak tidak”. Karena perkataan
itu adalah do’a dan prasangka buruk itu bagian cara dari setan untuk memperdaya
kita”. Sambungnya. Karna sikap seperti inilah
yang menjadikan orang menyenanginya. Bagaimana tidak, orang yang paling
membencinya bahkan mengajak orang lain untuk membencinya dibalas dengan
perbuatan yang tidak setimpal bagi orang-orang seperti gio ini. Menunjukkan sedikit
wajah kesal salah satu teman kepadanya.
“kamu ini bagaimana
si mad, orang yang jahat kepadamu tapi, ah.. sudahlah”.
Dengan senyuman khas
ahmad menunjukkan sikap bijaksananya, “untuk memadamkan api bukankah dengan air ? kenapa tidak
dengan api ? pertanyaan sekaligus jawaban yang di lontarkan ahmad kepada
temannya itu menjadikan suasana hening tanpa suara. Lalu setalah beberapa menit
kemudian Dengan wajah serius temannya berkata “ biar padam la mad,”. Kembali
ahmad membalas dengan senyuman sambil berkata “ itulah jawabannya”
suasanya menjadi
hening kembali, bahkan suara semutpun terdengar oleh beberapa pemuda ini,
kiranya mereka sedang memahami betul maksud dari perkataan ahmad ini. “oh iya
aku paham mad, dengan berbuat baik kepada musuh kita itu menjadikan ia sadar
bahwa yang di benci tidak pernah marah dengannya dan akhirnya ia sadar dan berusaha
mengubah kebencian itu menjadi kebaikan”.
Dengan logat khasnya sambil Tergopoh air
liurnya mengenai teman didepannya. “hahaha, kamu kalo ngomong yang pelan-pelan
saja, liat tu dhani jadi korbannya”. Sambil ngakak temannya menyaut. Sorak sorai, tawa terbahaq-bahaq sejoli ini melihat
tinggkah salah satu temannya. Setelah semuanya berhenti tertawa ahmad
melanjutkan perkataannya tadi “itulah
yang saya maksud, jangan jadilkan alasan membenci untuk balas dendam karena itu
akan merugikan kita sendiri, bahkan jangan sesekali kita menyimpan sifat dengki
itu”. Semua menjadi paham dari analogi yang ahmad berikan tadi. Dan tiba-tiba satu-persatu teman-temannya
pamit untuk meninggalkan perkumpulan ini.
lalu ahmad juga melanjutkan perjalanannya.
******************
Didalam ruangan yang bau obat-obatan ini
giovani sementara tinggal hingga dokter membolehkannya untuk pulang. Dalam
keadaan sendiri ia beranggapan bahwa tidak ada teman-teman sebayanya yang
datang menjenguk kediamannya ini.
“apa salahku kepada orang lain selain ahmad
ya”.Kadang-kadang ia memikirkan itu dalam perbaringannya.
Kembali
kecurigaannya ini tertuju pada ahmad, “ berengsek si ahmad, pasti dia yang
merencanakan ini semua, awas kau ya”, ucapnya dalam hati.
dendam kesumat yang
sejak semula sudah ada menjadi lebih besar dan bahkan lebih besar dari dirinya
ini. Setelah merenungi yang tiada hasil ini kembali ia memejamkan mata untuk
mengistirahatkan tubuhnya yang lemas dan memalas ini.
Selang beberapa jam,
dirasakan olehnya ada tangan seseorang yang menyentuh kening dan dadanya
sehingga membuatnya kaget dan mencoba membuka mata sayunya secara
perlahan-lahan. Ketika terbuka total yang ia lihat adalah sesosok manusia yang
paling di benci dalam hidupannya. Karena sudah membuatnya diasingkan dari
lingkungan sosialnya. Karena posisinya yang sedangkan sakit dan ahmad sebagai
penjenguk pertama diantara yang lain maka ia tidak langsung membawa
kebiasaannya untuk mencaci dan menghina ahmad, tapi yang keluar dari mulutnya
adalah sebuah kata yang sedikit menaroh perhatian pada ahmad sebagai temannya.
“kapan kamu datang mad, makasih ya udah di
jenguk”. Dengan sedikit memalas dan membalikkan kembali wajahnya tanpa menunggu
jawaban dari ahmad.
“ baru saja gio”
Dengan bersahaja dan penuh kehangatan lalu disambungnya “sama-sama gio”.
Tanpa mendiamkan diri berlama-lama ahmad
langsung melanjutkan obrolannya bersama sahabatnya ini. “apa yang dokter
katakan tentang penyakitmu gio”. Lalu dengan gaya khas congkaknya disambarnya.
“tidak apa-apa mad, sebentar lagi juga aku bisa pulang”. Gio tidak ingin ahmad
mengetahui penyakit jantung yang dideritanya ini karena takut akan di olok-olok ahmad. Walaupun
ia sadari bahwa ahmad tidak mungkin seperti itu. Mungkin karena ia melihat
ahmad ini sebelum terjadi perubahan. Ahmad seorang yang sangat durjana,
penjahal berbulu srigala. Kadang berbulu domba, “sok baik!”
Tak ada balasan dari
ahmad karena ia melihat giovani masih membencinya. 15 menit ruangan menjadi hampa seolah-olah berada dalam
sebuah goa, hanya ada suara mesin AC yang terdengar oleh mereka. Lalu ahmad melanjutkan obralan karena merasa bosan dan
tak dapat menyampaikan maksud kedatangannya. ahmad memiliki tujuan dalam
menjenguk giovani di rumah sakit ini, berharap setalah sepulangnya giovani dari
rumah sakit tidak ada lagi permusuhan dan perselisihan antara giovani
kepadanya.
“gio”, ahmad memulai kembali obrolannya , lalu
disambungnya dengan bercerita kenapa dirinya bisa berubah drastis dan merubah
kebiasaan buruknya dulu. Memang ia sadari bahwa dirinya dulu sebagai manusia
yang lupa akan kemanusiaan, kehendak nafsu lebih besar dari akal dan hatinya
bahkan lebih besar dari dirinya sendiri. Mencuri, lalu mamabuk-mabukan, mencari
“kembang malam” untuk memuaskan birahinya, berjudi bahkan sampai kepada
mengkonsumsi narkoda lalu pulang membentak-membentak orang tuanya ketika dinasehati.
“terserahku, jangan sibuk mengurusi hidupku,
aku udah besar jadi bisa memikirkan diriku sendiri, tugas kalian hanya
mencukupi kebutuhan-kebutuhanku”ujarnya ketika orang tuanya mencoba menasehati
supaya jangan melakukan semua perbuatan yang tidak senonoh itu.
Sedikit menarik
minat gio untuk mendengar cerita orang yang dimusuhinya ini, dengan khusuk gio mendengarkan, agar dapat celah nantinya untuk menjatuhkan si ahmad didepan yang lain. Sedikit membalikkan
badannya dan berkata dengan gaya sombongnya “lalu?”. Ahmad yang melihat reaksi
dari temannya ini langsung melanjutkan ceritanya.
Lalu dilanjutkan. dulu betapa seringnya aku membentak orang tuaku sehingga membuatnya yang mengindap darah
tinggi dan harus mendapat
perawatan di rumah sakit ini juga. Air mata mulai menetas di pipi ahmad.
Dengan suara yang mulai tersendat dan penuh
penyesalan ia melanjutkan ceritanya . selama bapak dirumah sakit baru sekali aku menjenguk itupun
waktu akhir kehidupannya. aku asik dengan kebiasaan buruk itu, tanpa sedikitpun
merasa berdosa. Bahkan kala itu aku mengambil surat tanah dan menjualnya kepada
orang kaya kampung sebelah yang digunakan untuk berjudi dan membeli minuman
yang ber-alkohol. waktu itu tetangga mendatangiku untuk mengingatkan bahwa bapakku
sedang sakit parah dirumah sakit dan mengingatkan agar aku melihat keadaan beliau.
“masa bodoh, mati
sudah ditakdirkan tuhan” balasnya ketika diingatkan. Dan dilanjutkan dengan
kata yang menurutnya enteng, “ kalo matikan aku bisa dapat hartanya” sambil
tertawa aku jawab nasehat dari tetanggaku ini. Dan obrolan pendek itu diakhiri
oleh tetanggaku dengan perkataan “jika kau anakku, tidak akan pernah aku meridhoi
hidupmu”. Dan aku jawab dengan tanpa rasa takut “itu urusanmu”.
“Huk,, hukkk, huuuuuuuuuk,, “ gio terbatuk membuat
ahmad berhenti melanjutkan ceritanya dan bertanya,
“kamu tidak apa-apa ?”.
tanpa menunggu jawaban ahmad langsung mengambil air mineral yang dari tadi berada diatas meja lalu memberikan kepada temannya ini.
tanpa menunggu jawaban ahmad langsung mengambil air mineral yang dari tadi berada diatas meja lalu memberikan kepada temannya ini.
gio memberikan kode bahwa ia
minta bantu untuk didudukan setalah itu berkata “ tidak apa-apa”, masih dengan
gaya biasanya. Ahmad langsung membatu temannya ini untuk duduk. Lalu giovani
langsung bertanya kepada ahmad “lanjutkan ceritamu mad” dengan nada yang
sedikit berubah membuat hati ahmad semakin lega melihat temannya ini terbawa
suasana.
“begitulah sangking
tidak pedulinya aku pada ayanhku dulu“ sambungnya kepada gio yang mulai serius
memperhatikan setiap kata yang dikeluarkan.
Dulu aku pernah juga
mecuri sepeda motor orang kampung sebelah karna sudah tidak ada lagi uang untuk
berjudi dan mabuk-mabukan sedangkan wanitaku meminta uang.
“Dan masih masih yo”, sambil menitikkan
air mata.
Setalah semuanya terjadi puncaknya adalah ketika
seminggu setalah orang tuaku menginap dirumah sakit, dan aku pulang kerumah
dengan keadaan separoh sadar, dalam perjalanan pulang aku melihat bayangan
datang menghampiri. Ketika bayangan itu sudah sampai tepat dihadapan terdengar
olehku kata yang ditujukan kepadaku .
“nak, dunia memang
memberikan kesenangan kepada kita, tapi ingat ! semua itu hanyalah tipu daya
setan kepada kita sehingga kita melupakan diri kita sebagai wakil tuhan dibumi
“. Dengan suara tinggi aku jawab “jangan sok
menasehatiku, pergi kau”. Lalu melanjutkan perjalanan tanpa memperdulikan
nasehat dari bayangan ini.
Ketika hendak sampai
dirumah kembali suara aneh ini datang lagi sambil melanjutkan nasehatnya yang
tadi.
“kamu adalah anak
yang baik, tapi kamu tidak bisa menahan diri dari pengaruh teman-temanmu nak,
sehingga kamu terjerumus dan kalah melawan hasutan setan kepadamu”. Lanjut bayangan itu. tanpa
memperdulikan nasehat bayangan yang tidak jelas siapa ini karena keadaan sedang
mabuk membuat penglihatannya tidak jelas ia melanjutkan jalannya. ahmad
berhenti bercerita untuk melihat giovani, masih mendengarkan atau sudah
tertidur.
“selanjutnya”,
sambung ahmad
setelah temannya masih mendengarkan. aku terus berjalan hingga tanpa sadar sudah tiba dihalaman rumah. Tiba-tiba suara yang sama terdengar lagi,
“ mad, senakal
apupun seorang anak kepada orang tuanya tetap
akan dimaafkan, karna orang tua sadar bahwa semua itu akan
ditanggungnya di akhir zaman nanti”,
ahmad tidak menanggapinya.
Kemudian bayangan ini melanjutkan dengan
sebuah pertanyaan “ bukankah kamu sudah mengetahui itu mad ?, syurga bagi
seorang anak berada pada orang tuanya !” sedikit di tinggikan suaranya, lalu
bayang inipun melanjutkan nasehatnya tanpa memperdulikan ahmad yang berjalan
secara tak berarah.
“kembalilah kepada
seorang anak yang bernama ahmad, yang sikap dan budinya disenangi oleh orang
tua teman dan lingkungannya, ingat nak, tuhan maha mengetahui apa-apa yang kita
lakukan dan akan membalasnya di akhirat kelak, jika amalan kita baik, baik pula
yang kita dapatkan begitupun sebaliknya” tutup nasehat dari bayang itu lalu
hilang bersama angin malam.
Sedangkan ahmad
tersentak mendengar kalimat yang dilontarkan oleh bayangan itu karna sepertinya
ia mengenali suara itu. Tanpa berlama-lama memikirkan ia langsung membuka pintu dengan kunci yang
dipegang olehnya sejak pertama kali bayangan itu menasehatinya. Lalu masuk
menuju kamarnya dan langsung merebahkan badannya serta menutup matanya yang
sayup itu.
Sekarang ruangan
tempat giovani beristirahat menjadi tegang dan giovanipun hanya diam tanpa
berkomentar.
“aku bertemu lagi dengan bayang itu “. Ahmad melanjutkan
ceritanya.
Kali ini tidak hanya
nasehat tapi juga terdapat kata-kata perpisahan. “ kembalilah kepada jalan yang
benar mad, hidup didunia ini tidak lama, hanya beberapa menit saja jika dibandingkan dengan
kehidupan yang abadi, akhirat !, jadilah kebanggaan orang tua, jangan sakiti
hati mereka, karena ridhonya tuhan berada padanya dan murkanya juga padanya”.
Berhenti sejenak dan
melanjutkan tanpa memperdulikan temannya ini.
“Ternyata Bayangan
itu bapakku”, ahmad sambil meneteskan
air mata.
“selamat tinggal mad, jagalah
ibumu dan adik-adikmu, kamu anak pertama yang akan menjadi panutan keluargamu,
tanggung jawabmu besar mad, berubahlah mad, kesalahanmu selama ini sudah bapak
maafkan dan bapakpun minta maaf kepadamu, assalamu’alaikum”. Ucap bapakku.
Sambil menangis aku membuka mata, karna ada orang yang membanguni tidurku. tetanggaku inipun kaget dan takut.
Tanpa banyak kata langsung disampaikan maksud dan tujuan kedatangannya.
“mad, kamu disuruh
kerumah sakit bapakmu sekarat”. Tanpa berlama-lama aku langsung berangkat menuju rumah sakit tempatnya menginap.
Melihat ini, terheran ia melihatku yang tak seperti biasa, dan aku sudah tak ada
waktu untuk menjelaskannya.
Sesampai dirumah
sakit aku langsung dipeluk oleh ibu
sambil menangis dan berkata “bapak sudah tiadanya mad,”.
Ibarat badan tanpa tulang, tubuh pun lemas lalu didudukan
diatas kursi. “bawa aku ke bapak”. Ucapku selang beberapa menit.
“ terimakasih pak
sudah mau menemui aku di hari terakhirmu, pesanmu akan aku ingat dan aku
lakukan”. Gumamku dalam hati setelah melihat bapakku.
giovani yang dari
tadi diam langsung memeluk ahmad, sambil
berucap “maafkan aku mad”. Bentuk simpatinya kepada ahmad.
*************
“alhamdulillah keadaannya membaik”. Kata suster kepada pengunjung. Mendengar kebisingan diruangannya giovani membuka matanya. Lalu tidak ada ahmad disekelilingnya sehingga membuatnya Bertanya dalam hati, Lalu berkata “dimana ahmad ?” mendengar pertanyaan ini teman-temannya pun kaget. Salah satu temannya berkata “ahmad sudah menjengukmu 2 hari lalu”. Dan melanjutkan dengan mengatakan ahmad sudah pindah menuju kampung halaman ibunya. “maafkan aku mad, semoga suatu saat kita bertemu lagi” ucapnya dalam hati, sambil mengerutkan jidatnya. Heran teman-temannya melihat tingah giovani menannyakan orang yang dibencinya.
30 menit telah
berlalu, teman-temannya pun pamit untuk meninggalkan giovani . Kemudian, setalah
selesai mengurus administrasi ia langsung dibawa pulang. Ketika dalam
perjalanan pulang berkata bapaknya “jangan terlalu
dalam hidup ini, apapun itu, baik itu membenci
atau mencintai, karena suatu saat akan di balikkan, dan akhirnya timbul
penyesalan”. Mendengar nasehat itu ia teringat kepada ahmad, “ia pak” singkat
ia menjawab nasehat bapaknya.hening tanpa suara, hanya ada suara mesin dan
penyesalan dalam diri giovani. Pertemuan dalam ketidak sadarannya itu menjadi
pertemuan terakhir antara ahmad dan giovani.
Muantap lek
BalasHapuswah wah. dapat komenan dari penulis. makasih udah mau mampir bang.
HapusBoya
BalasHapusboya boya boya 😂
HapusKeren sodara
BalasHapuslebih mantap sodara la
Hapus