Semua karna Leha
Oleh Dedi El-Kuisy
Aku seorang
pria, tingggi badanku 156 cm berat badan 55 kg, dan belum memiliki pekerjaan
yang tetap. Kehidupanku memang begitu, semenjak lulus dari SMA empat tahun yang
lalu hidupku bak musafir yang terdampar
dipadang tandus, selalu berharap ada sebatang kaktus yang merelakan sedikit sagunya
untuk kekuatan dalam perjalananku yang
panjang. Sekarang aku kuliah di salah satu perguruan tinggi islam Yogyakarta.
Walaupun sudah kuliah, tapi aku masih ingin bekerja sampingan. aku tekuni
pekerjaan sampinganku yaitu bekerja sebagai pelayan di CafƩ dekat balaikota.
Semenjak saat itu, kehidupanku sedikit mulai ada
perubahan. Mungkin karna pengaruh latar belakang kehidupanku yang menuntut
untuk bekerja keras demi masa depan yang meyakinkan. Aku hampir tidak pernah
memperhatikan gaya dalam berpenampilan, aku
seolah elergi untuk membasahi rambutku dengan minyak. Tampil apa adanya ialah
hal yang seringku lakukan. ini selalu menjadi bahan olok-olokan
teman-temanku disetiap perkumpulan.
“Khes kauko cubolah pakai minyak ramut” suatu
malam andi menasehati.
“Yo e
awaklah penek badan dak teurus pulo, manolah ado cewek yang nak” sambung
ariel.
Satu tahun pertama perkuliahan disamping fokus dengan
pekerjaan, waktu lebih banyak kuhabiskan dalam berorganisasi. Dengan modal
percaya diri yang tinggi aku mampu berbaur dalam banyak organisasi, dari yang
bersifat kemahasiswaan sampai kedaerahan. Namanya juga MABA pastinya masih
malu-malu untuk bercerita panjang kejenjang yang lebih tinggi, dari pada mikirin
kehidupan kampus aku lebih senang berkonsentrasi kepekerjaan yang jelas
menjanjikan sesuap nasi.aku bekerja pukul 16.00-24.00.
Masuk tahun kedua aku merasakan ada sesuatu yang beda
dalam diriku, mengapa demikian? Entahlah. Mungkin ini efek perkenalanku dengan
seorang perempuan sholehah dan berjiwa aktifis. Walau banyak teman yang
mengatakan bahwa si doi memiliki setelan yang tinggi, namun aku ingin
membuktikannya dengan sendiri.
Siang itu dari arah toko buku SAB, berjalan dua
orang perempuan menuju area kosku. yang satu memakai kaca mata dan
bernenampilan sederhana dengan jaket tebalnya yang selalu setia membungkus
badan imut yang dianugerahkan tuhan padanya. Nafa adalah kakak tingkatku yang
telah banyak membantu dalam kesuksesanku bisa kuliah diyogyakarta ini. Dia juga
yang mengenalkanku kepada teman laki-lakinya dan menjadi titik awal dari
kehidupanku dalam berorganisasi.
Perempuan yang berjalan disampingnya mengenakan busana
muslimah serba hitam, tubuhnya dibaluti oleh daster melewati mata kaki, atasannya ditutupi
dengan jilbab lebar dan panjang yang disempurnakan dengan kasut tangan. Sungguh
pakain yang ia kenakan senada dengan firman Allah yang mewajibkan wanita
menutup aurat dalam berbusana, “ katakanlah pada wanita yang beriman,
hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah
mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa Nampak darinya. Dan
hendaklah mereka menutup kain kerudung kedadanya…” (Qs.an-Nur:31).
“Khes, kagek sore kekos ayuk yo, ariel dan kanti-kanti
lainnyo diajak jugo.” Nafa mengundangku.
“Hah? oh iyo yuk, apo tadi”? aku jawab dengan
gugup.
Entah kenapa semenjak
berpandangan dengan perempuan disampingnya kurasakan darah seperti
berhenti mengalir dari nadi.
“Kau kenapo bengongbe”?
“kagek sore ajak kanti-kanti kekos ayuk. Ayuk ado
syukuran”. Nafa mengulangi.
“Ko kenali adek ayuk, leha namonyo”.
Aku mengulurkan tangan untuk berjabat, tapi dengan
cepat leha menyatukan kedua telapak tangannya di dada, ia mempraktekkan salaman
islami. Aku menarik tangan secepat kilat, fikiranku melayang pada sosok wanita
yang mampu meluluhkan hati Muhammad
fikri seorang seniman pasir ahli ibadah. “Hamaeda”, Ya hamaeda adalah seorang
wanita yang begitu sempurna digambarkan oleh wahyu sujani. Sebelumnya aku hanya
mengira bahwa wanita seperti itu hanya ada dalam hayalan seorang penulis novel
saja. Tapi sekarang aku menyaksikan sendiri sosok wanita sempurna itu hadir didepan mataku.
“Ayuk balik dulu yo, jangan lupo kagek sore
datang”. Nafa berpamitan.
Semenjak pertemuan sore itu, aku mulai mencari
informasi tentang leha, dan berharap dapat mengobrol berdua dengannya. Seiring dengan berjalannya waktu, kesempatan
itu datang juga. Aku dengan penuh rasa
senang menjemput Leha dikos dan pergi mencari makan siang bersama.
“Nak makan dimano dek”? . Aku bertanya.
“ngikut be bang”. Jawab Leha.
“sudah pernah makan kremes belum”?.
“Belum bang”. Leha menyahut.
“Yo udah kito makan kremes be” .Ucapku.
“Iyo lah
bang”
Dengan mengucapkan bismillah aku memboncengi leha
kewarung kremes dijalan sorowajan baru. diwarung kremes inilah awal tumbuhnya
kata cinta, ternyata semua yang aku dengar tentang Leha dari teman-teman
tidaklah benar adanya. Obrolan empat mata dipanas teriknya udara jogja menjadi
saksi dari kelembutan hati dan sikap tegas Leha dalam berkomitmen menatap masa
depan.
Aku memesan makanan untuk dua porsi, karna warung ini
sistem perasmanan jadi nasinya diambil sendiri-sendiri. Hanya lauknya saja yang
dihantarkan oleh pelayan. Aku mengambil nasi untuk dua porsi, aku tidak mau
merepoti leha yang sudah mengambil posisi duduk di pojok ruangan dekat kipas
angin .
“Abang sering yo makan disiko”?.
“Idak jugo dek, cumo pas lagi gajianbe”.
“Ehhmm,.. kerjo tu capek dak bang”?.
“Yo gitulah dek, tapi mau kayak mano lagi”. Aku menjawab dengan suara tertahan.
Setelah makanan datang kami makan dengan lahap, tidak
satupun diantara kami berdua yang mengeluarkan suara. Seakan-akan ada rasa
takut nikmatnya terkurangi dengan hadirnya obrolan ketika makan. Keningku
berkeringatan, dan kuperhatikan leha juga keringatan, mungkin ini disebabkan
sambel mentah yang dipadukan dengan nasi panas. Setelah makan kami ngobrol
panjang lebar, mulai dari persoalan perkuliahan hingga kepekerjaan. Entah
kenapa suasana terbawa santai seperti
orang yang sering ketemu saja. Tidak ada sedikitpun rasa canggung dalam diri
aku. Dan sepertinya leha juga merasakan nyaman dalam mengobrol.
“bang, abang jadilah diri abang sendiri, jangan
berusaha menjadi orang lain, dan kami senang abang seperti ini”.
Udara yang panas kurasakan sejuk seketika kalimat itu
keluar dari suara emasnya diakhir obrolan kami siang itu.

Hahaha juoss
BalasHapusMantap jiwa bung, tingkatkan kecerdasanmu
BalasHapusbuaahahaha
BalasHapusWOW
BalasHapus