jika membaca adalah memburu, maka menulis adalah mengikat buruan tersebut (Imam Al-Ghazali)

Minggu, 07 Januari 2018

Semua karna Julaeha (Leha)

Semua karna Leha
Oleh Dedi El-Kuisy

Aku  seorang pria, tingggi badanku 156 cm berat badan 55 kg, dan belum memiliki pekerjaan yang tetap. Kehidupanku memang begitu, semenjak lulus dari SMA empat tahun yang lalu hidupku  bak musafir yang terdampar dipadang tandus, selalu berharap ada sebatang kaktus yang merelakan sedikit sagunya untuk  kekuatan dalam perjalananku yang panjang. Sekarang aku kuliah di salah satu perguruan tinggi islam Yogyakarta. Walaupun sudah kuliah, tapi aku masih ingin bekerja sampingan. aku tekuni pekerjaan sampinganku yaitu bekerja sebagai pelayan di CafĆ© dekat balaikota.

Semenjak saat itu, kehidupanku sedikit mulai ada perubahan. Mungkin karna pengaruh latar belakang kehidupanku yang menuntut untuk bekerja keras demi masa depan yang meyakinkan. Aku hampir tidak pernah memperhatikan gaya dalam berpenampilan, aku  seolah elergi untuk membasahi rambutku dengan minyak. Tampil apa adanya ialah hal yang  seringku lakukan.  ini selalu menjadi bahan olok-olokan teman-temanku disetiap perkumpulan.
Khes kauko cubolah pakai minyak ramut” suatu malam andi menasehati.

 “Yo e awaklah penek badan dak teurus pulo, manolah ado cewek yang nak” sambung ariel.

Satu tahun pertama perkuliahan disamping fokus dengan pekerjaan, waktu lebih banyak kuhabiskan dalam berorganisasi. Dengan modal percaya diri yang tinggi aku mampu berbaur dalam banyak organisasi, dari yang bersifat kemahasiswaan sampai kedaerahan. Namanya juga MABA pastinya masih malu-malu untuk bercerita panjang kejenjang yang lebih tinggi, dari pada mikirin kehidupan kampus aku lebih senang berkonsentrasi kepekerjaan yang jelas menjanjikan sesuap nasi.aku bekerja pukul 16.00-24.00.

Masuk tahun kedua aku merasakan ada sesuatu yang beda dalam diriku, mengapa demikian? Entahlah. Mungkin ini efek perkenalanku dengan seorang perempuan sholehah dan berjiwa aktifis. Walau banyak teman yang mengatakan bahwa si doi memiliki setelan yang tinggi, namun aku ingin membuktikannya dengan sendiri.

Siang itu dari arah toko buku SAB, berjalan dua orang perempuan menuju area kosku. yang satu memakai kaca mata dan bernenampilan sederhana dengan jaket tebalnya yang selalu setia membungkus badan imut yang dianugerahkan tuhan padanya. Nafa adalah kakak tingkatku yang telah banyak membantu dalam kesuksesanku bisa kuliah diyogyakarta ini. Dia juga yang mengenalkanku kepada teman laki-lakinya dan menjadi titik awal dari kehidupanku dalam berorganisasi.

Perempuan yang berjalan disampingnya mengenakan busana muslimah serba hitam, tubuhnya dibaluti oleh  daster melewati mata kaki, atasannya ditutupi dengan jilbab lebar dan panjang yang  disempurnakan dengan kasut tangan. Sungguh pakain yang ia kenakan senada dengan firman Allah yang mewajibkan wanita menutup aurat dalam berbusana, “ katakanlah pada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa Nampak darinya. Dan hendaklah mereka menutup kain kerudung kedadanya…” (Qs.an-Nur:31).

“Khes, kagek sore kekos ayuk yo, ariel dan kanti-kanti lainnyo diajak jugo.” Nafa mengundangku.
“Hah? oh iyo yuk, apo tadi”? aku jawab dengan gugup.
Entah kenapa semenjak  berpandangan dengan perempuan disampingnya kurasakan darah seperti berhenti mengalir dari nadi.

“Kau kenapo bengongbe”?
“kagek sore ajak kanti-kanti kekos ayuk. Ayuk ado syukuran”. Nafa mengulangi.

Ko kenali adek ayuk, leha namonyo”.

Aku mengulurkan tangan untuk berjabat, tapi dengan cepat leha menyatukan kedua telapak tangannya di dada, ia mempraktekkan salaman islami. Aku menarik tangan secepat kilat, fikiranku melayang pada sosok wanita yang mampu  meluluhkan hati Muhammad fikri seorang seniman pasir ahli ibadah. “Hamaeda”, Ya hamaeda adalah seorang wanita yang begitu sempurna digambarkan oleh wahyu sujani. Sebelumnya aku hanya mengira bahwa wanita seperti itu hanya ada dalam hayalan seorang penulis novel saja. Tapi sekarang aku menyaksikan sendiri sosok wanita sempurna itu  hadir didepan mataku.

Ayuk balik dulu yo, jangan lupo kagek sore datang”. Nafa berpamitan.

Semenjak pertemuan sore itu, aku mulai mencari informasi tentang leha, dan berharap dapat mengobrol berdua dengannya.  Seiring dengan berjalannya waktu, kesempatan itu datang juga. Aku  dengan penuh rasa senang menjemput Leha dikos dan pergi mencari makan siang bersama.

“Nak makan dimano dek”? . Aku bertanya.
“ngikut be bang”. Jawab Leha.
“sudah pernah makan kremes belum”?.
“Belum bang”. Leha menyahut.
“Yo udah kito makan kremes be” .Ucapku.
“Iyo lah bang”

Dengan mengucapkan bismillah aku memboncengi leha kewarung kremes dijalan sorowajan baru. diwarung kremes inilah awal tumbuhnya kata cinta, ternyata semua yang aku dengar tentang Leha dari teman-teman tidaklah benar adanya. Obrolan empat mata dipanas teriknya udara jogja menjadi saksi dari kelembutan hati dan sikap tegas Leha dalam berkomitmen menatap masa depan.

Aku memesan makanan untuk dua porsi, karna warung ini sistem perasmanan jadi nasinya diambil sendiri-sendiri. Hanya lauknya saja yang dihantarkan oleh pelayan. Aku mengambil nasi untuk dua porsi, aku tidak mau merepoti leha yang sudah mengambil posisi duduk di pojok ruangan dekat kipas angin .

“Abang sering yo makan disiko”?.
“Idak jugo dek, cumo pas lagi gajianbe”.
“Ehhmm,.. kerjo tu capek dak bang”?.
“Yo gitulah dek, tapi mau kayak mano  lagi”. Aku menjawab dengan suara tertahan.

Setelah makanan datang kami makan dengan lahap, tidak satupun diantara kami berdua yang mengeluarkan suara. Seakan-akan ada rasa takut nikmatnya terkurangi dengan hadirnya obrolan ketika makan. Keningku berkeringatan, dan kuperhatikan leha juga keringatan, mungkin ini disebabkan sambel mentah yang dipadukan dengan nasi panas. Setelah makan kami ngobrol panjang lebar, mulai dari persoalan perkuliahan hingga kepekerjaan. Entah kenapa suasana terbawa  santai seperti orang yang sering ketemu saja. Tidak ada sedikitpun rasa canggung dalam diri aku. Dan sepertinya leha juga merasakan nyaman dalam mengobrol.

“bang, abang jadilah diri abang sendiri, jangan berusaha menjadi orang lain, dan kami senang abang seperti ini”.
Udara yang panas kurasakan sejuk seketika kalimat itu keluar dari suara emasnya diakhir obrolan kami siang itu.
                                                                                                                                                                                     
Bersambung…….



4 komentar:

IKMAA YOGYAKARTA