jika membaca adalah memburu, maka menulis adalah mengikat buruan tersebut (Imam Al-Ghazali)

Sabtu, 19 Mei 2018

semangat hijrah dalam bulan ramadhan




Tidak terasa waktu bergulir begitu cepat, seperti hembusan angin  yang menerbangkan debu-debu. “Tidak akan kembali hari-hari yang telah berlalu” begitulah perumpamaan yang dijelaskan dalam Mahfuzhot Arab. Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga dalam kehidupan manusia, dalam al-Quran misalnya, kita temukan sebuah kalimat sumpah yang Allah rangkai dengan menggunakan kata waktu. Pertanyaannya ialah: sadarkah kita setetes kenangan menghampiri hati, segenggam harapan dipandangan kedepan?.

Akan tetapi saat ini kita dihadapkan pada tonggak perputaran roda waktu  yang membawa ke fase selanjutnya dalam kehidupan. Sebagian manusia telah berhasil memenangkan pertarungan diwaktu sebelumnya, sehinggga mereka memiliki bekal untuk menghadapi pertarungan selanjunya. Namun tidak sedikit pula mereka yang terjerumus kedalam jurang keniscayaan, terbuai oleh nyanyian syaithan yang dibumbui dengan keasikan, tidak banyak yang mereka dapatkan selain dari sebuah kehampaan.

Dalam momentum ramadhan tahun ini, hendaklah kita tanamkan niat yang tulus dan penuh keikhlasan untuk berhijrah dijalan Allah. Dengan kerendahan diri memohon ampunan dan keberkahan serta rahmat darinya. Dalam al-Quran Allah SWT berfirman “sesungguhnya orang-orang yang beriman orang-orang yang berhijrah dan orang-orang yang berjihad dijalan Allah mereka itu adalah orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah, dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang”. (QS. Al-Qoroh:218).

Dari ayat ini kita dapat mengambil sebuah istimbat bahwasanya: dengan semangat berhijrah (dibulan ramadhan) untuk mengintrofeksi diri agar mendapatkan rahmat dari yang maha agung untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Inilah waktunya untuk berbenah diri dan berusaha menata kembali umat (masyarakat dewasa ini), menuju jalur yang benar sesuai dengan tuntunan yang dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW. Sebagaimana substansi dari hijrah ialah berpindah dari tatanan jahiliyah dan kedzoliman menuju kehidupan yang islami, paling tidaknya kita jadikan misi itu sebagai refleksi dari semangat menyambut bulan ramadhan.

Pada dasarnya berhijrah itu berat dan hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang memiliki tekad dan niat yang kuat.  karna ini menyangkut persoalan moral, meninggalkan sesuatu yang asik dan menyenangkan dalam buaian syaithan. Lalu berproses kepada sesuatu yang bermanfaat yang sangat dibenci dan selalu dipertentangkan oleh iblis laknatullah. Dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad Ra, Rasul SAW bersabda “sebaik-baik hijrah ialah meningggalkan segala sesuatu yang dibenci oleh Allah azza wajalla”.

Dengan ayat dan hadis tersebut hendaklah kita bangkitkan dan aktualisasikan kembali spirit serta nilai-nilai dalam hijrah untuk menghadapi bulan yang penuh dengan keberkahan dan pengampunan ini , hinggga pada puncaknya nanti kembali pada kalimat fitrah. Bersih suci laksana seorang bayi yang baru dilahirkan.

Dedi el-kuisy

                       Asrama silampari - pertigaan malam ke empat ramadhan 1439 H

1 komentar:

  1. Mantap ni 😂. Sering2 berbagi pengetahuan gan. Semoga berkah ✌️

    BalasHapus

IKMAA YOGYAKARTA